Sosok Bung Hatta : Diasingkan Sukarno dan Suharto, Dipungut Salman Alfarizi

Posted by
Rumaka Book Review

Judul: Mohammad Hatta : Biografi Singkat 1902-1980
Penulis: Salman Alfarizi
Penerbit: Garasi
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 9789792545333

Oleh : Faris Fauzan Abdi

Buku ini merupakan buku yang ditulis oleh Mas Salman Alfarizi. Terkhusus untuk mengupas sosok proklamator kita, Bung Hatta. Ia, Mas Salman Alfarizi, dalam hal ini menggunakan pendekatan lingkungan, pendidikan dan organisasi dimana Bung Hatta bergiat. Mulai dari pengalaman masa kecil, remaja, sampai dewasa. Tentu dalam entang tahun 1902-1980.

Selain itu, Mas Salman Alfarizi juga memaparkan betapa Bung Hatta memiliki peran sentral di era Pergerakan Nasional. Mulai di JSB atau Jong Sumatranen Bond, organisasi terpelajar Perhimpunan Indonesia (PI), dan lain-lain. Tidak hanya itu, Mas Salman Alfarizi dalam buku ini juga banyak membeberkan fakta pecahnya pemikiran Bung Hatta dengan Tan Malaka, bahkan sohibnya : Bung Karno.

Selain tentang semua pergulatan yang dialami Bung Hatta, Mas Salman Alfarizi juga mengisahkan bagaimana kepribadian Bung Hatta. Mulai dari sosoknya sebagai muslim yang taat, pribadi yang disiplin, pembaca dan penulis, pengidola sosok Multatuli sekaligus tokoh sosialis — yang bahkan karena kesosialisannya itu, Bung Hatta berhasil melahirkan soko perekonomian Indonesia. Soko perekonimian itu yakni Koperasi.

Dalam memoar saya, buku ini amat memiliki banyak kekurangan. Sebab melaui buku ini kita bisa memahami siapa sebenarnya sosok proklamator dan Wakil Presiden kita yang kedua : Bung Hatta. Uniknya, buku ini digali dari riset ekstensif yang diadakan penulis. Semua itu terlihat dari daftar rujukan yang dikutip oleh penulis. Yang tentu secara keseluruhan tersemat di Daftar Pustaka buku. Selain itu, keunggulan dan keunikan buku ini juga terlihat dalam bentuk fisiknya.

Sampulnya terlihat elegan dengan warna ‘cream’ yang membuat pembaca membayangkan sedang membaca Bung Hatta di masa lalu. Selain itu, sosok Bung Hatta di cover belakang juga digambarkan dengan latar belakang sebuah api. Melalui ilustrasi itu, saya selaku pembaca sampai mengakui bahwa Bung Hatta adalah tokoh revolusioner yang berani. Meski tidak semahir dan semagis dan semagnet Bung Karno dalam berpidato, ia , Bung Hatta sangat memiliki ketajaman analisa dan kemampuan mengolah kata dalam tulisannya. Tulisannya analitis, teoritis bahkan tegas tanpa berbelit-belit. Semua kemampuan itu didapatkan oleh Bung Hatta dari kebiasaan membaca bukunya yang amat beragam.

Selain memiliki keunggulan dan keunikan, buku ini tentu memiliki kekurangan. Secara fisik buku, mungkin tidak ada. Namun dalam hal isi, banyak kejadian-kejadian yang diceritakan Mas Salman secara berulang-ulang. Paling banyak menyasar kisah perpecahan Bung Hatta dengan Bung Karno. Mulai dari saat pra pergerakan nasional, perumusan konsep kenegaraan, sampai kritik pedas Bung Hatta pasca ia mundur dari kursi Wakil Presiden.

Buku ini sangat menarik lantaran kita dapat mengetahui betapa ciamiknya sosok Bung Hatta baik kepribadian sampai pemikirannya. Meski ada beberapa pemikirannya yang patut dikritik, namun itu tidak mengurangi sosok Bung Hatta sebagai orang yang berperan besar dalam Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bung Hatta memang bukan Bung Karno. Dan melalui buku ini baru memahami bahwa Dwitunggal kita itu memiliki perbedaan yang cukup tajam. Perbedaan yang bukan hanya menyebabkan Bung Hatta mundur dari kursi kepresidenan saja. Tapi perbedaan yang membuatnya diasingkan di era kepemimpinan Orde Lama milik Bung Karno, sampai Orde Baru milik Suharto.

Sosok Bung Hatta , boleh saja dimatikan di era dua kepemimpinan rezim itu. Tapi jangan lupa, bahwa sosok Bung Hatta saat ini telah dihidupkan kembali. Tentu oleh Mas Salman Alfarizi. Yang bukunya, bisa membayangkan seperti apa sosok kepemimpinan Bung Hatta. Yang mungkin sudah jarang kita temui di abad ini.***

“Terbayang baktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu. Terlintas bangga, berkafan doa. Dari kami. Yang merindukan orang sepertimu” Iwan Fals, Bung Hatta.


*ARTIKEL ini pertama kali ditayangkan Jurnal Rumaka dalam seri Rumaka Book Review diterbitkan ulang disini semata-mata demi tujuan pengarsipan