Jember Baik

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Selamat Hari Kejiwaan Internasional. World Federation for Mental Health (WFMH) didukung oleh WHO International Association for Suicide Prevention dan United for Global Mental Health pada tahun ini mengusung “Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri” sebagai tema utama. Tema itu dipilih bukanlah tanpa sebab. Melainkan, tema itu disepakati sebagai bentuk reaksi akan tingginya angka bunuh diri di seluruh dunia.

WHO mencatat, lebih dari 800.000 orang meninggal per tahun karena bunuh diri. Menurut WHO, bunuh diri itu menyumbang setidaknya 1,4 % kematian penduduk dunia setiap tahunnya. Sekaligus menjadi penyebab kematian nomor dua dalam kategori usia penduduk dengan rata-rata usia 15-29 tahun. Data ini tentu saja memilukan. Di satu sisi, makin memunculkan satu pertanyaan mendasar; mengapa ini bisa terjadi?

Tentu saja saya juga anda bakal menuding ‘mental illnes’ adalah penyebab utama mengapa bunuh diri seolah sudah menjadi tren belakangan ini. Dan saya, pastinya juga anda, jelas akan mengatakan bahwa fenomena ini bukanlah sesuatu yang wajar. Apalagi, dilakukan di usia yang sedemikian itu. Usia dimana seharusnya mimpi-mimpi besar seseorang itu dipelihara dan diwujudkan. Lantas mengapa mental illnes bisa begitu saja menjangkiti masyarakat dunia akhir-akhir ini?

Saya kira penyebabnya ada banyak. Namun artikel dari yang ditulis salah satu konselor bernama mbak Maryam Jameelah ini setidaknya bisa dijadikan rujukan untuk membedah persoalan itu. Melalui artikelnya, mbak Maryam selaku konselor, mengatakan bahwa gangguan jiwa atau mental illnes ialah disebabkan oleh dua faktor, nature dan nurture.

Faktor nature sebagaimana teori hereditas lebih banyak berasal dari bawaan genetik yang mengarah pada penyakit neurotis. Sementara faktor nurture bisa terjadi karena lingkungan. Dimana lingkungan itu gagal dalam menunjang perkembangan mental dengan baik. Sehingga ia menyebabkan gangguan baik neurosis maupun psikosis.

Dari dua faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya setiap orang memiliki potensi untuk mengalami gangguan jiwa. Salah satunya saya. Belakangan ini saya memang mengalami depresi yang cukup besar. Jiwa saya terkoyak-koyak sedemikian rupa karena dicokot nyamuk bernama masalah. Akibatnya, perlahan kondisi itu mempengaruhi kondisi fisik saya. Saya kurang sehat secara fisik, apalagi mental.

Jika saya dalami lagi, sebenarnya depresi yang saya alami bukan karena faktor turunan. Pasalnya, kedua orang tua saya sama sama tidak memiliki riwayat gangguan jiwa. Saya malah melihatnya lebih persoalan faktor nurture. Atau masalah lingkungan yang tidak mendukung perkembangan kesehatan mental dengan baik.

Satu-satunya kanal (orang) yang bisa mendengar, barangkali bisa memberi masukan pada persoalan saya, sudah berhari-hari yang lalu pergi. Tinggalah saya sendiri. Utamanya di tengah lingkungan khas kota yang asing terhadap pendapat, anti curhatan ‘ngehe’, doktriner, krisis penokohan, sektoral, anti terhadap pembaharuan , non solutif dan terkesan lelet. Stigma-stigma yang menjadi alasan tersendiri bagi saya untuk enggan mengkartarsis stress saya disana.

Maaf ya. Itu pendapat saya pribadi.

Mau lari kepada media sosial pun begitu. Media sosial macam Instagram, Twitter bahkan Facebook nyata menurut saya sudah nggak ada gunanya lagi. Malahan sebaliknya, kanal-kanal ini senantiasa membuat stress saya makin menjadi. Sebab pada kenyataannya, mereka hanyalah media sosial dengan orientasi bisnis termutakhir ; tambang data buat mendatangkan pengiklan. Kerja-kerja mereka hanya mengkapitasi suasana batin semua orang yang ada di bumi, bukan untuk tempat curhat apalagi berdoa. Seperti kata CEO Facebook ini :

Sial, saya butuh suasana dan orang-orang baru. Itu saja. Sebab saya tahu, bahwa seorang teman yang benar-benar teman mendadak menjadi sesuatu mahal. Kemahalan yang disebabkan oleh jarangnya orang yang mau mendengar daripada berbicara.

Ah iya mendengar. Saya butuh seorang pendengar. saya teringat dengan sosok adik saya, Syafiq. Selama ini yang saya tahu, dia merupakan pendengar yang baik selain orang tua saya, mas cesar, bahkan Ayu. Menyadari itu, akhirnya saya putuskan saya harus ke Kota Jember dalam beberapa hari ke depan. Tujuannya lagi-lagi buat mengkartarsis stress yang sudah meledak-ledak. Dan keputusan itu akhirnya disambut dengan baik oleh adik saya Syafiq.

Singkat cerita, saya berangkat dari Kota Malang sekitar pukul 14.30 sore. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 7 jam. Karena saya baru sampai di Kota Jember pukul 21.44 malam. Sesampainya disana, saya langsung diboyong Syafiq ke warung kopi. Inilah awal treatment yang diberikan Syafiq pada saya. Yang pada saat itu jelas, memiliki alasan mendesak mengapa saya memutuskan untuk pergi ke Kota Jember.

Dugaan saya terbukti. Di warung outdoor itu, Syafiq pertama-tama mengenalkan saya dengan beberapa kawan sebayanya. Kemudian lanjut mengajak saya untuk memilih meja yang lain untuk mengobrol.

“Kamu ngapain cuk tiba-tiba ke Jember?”, ialah kalimat tanya yang pertama kali diucapkan oleh Syafiq ketika duduk semeja dengan saya. Karena dipantik, saya akhirnya menceritakan semua hal yang saya alami belakangan ini di Kota Malang. Obrolan itu berjalan dengan lamanya. Karena selain bercerita soal masalah pribadi, Syafiq juga bertanya soal banyak hal. Utamanya hal-hal yang populer didiskusikan oleh mahasiswa. Di akhir obrolan ia lantas memberi kesimpulan penutup :

“Terkait kompleksnya masalahmu, sebenarnya masalahmu itu satu. Tapi pembawaanmu lah yang menyebabkan yang lainnya jadi berantakan”, jelas Syafiq.

“Lalu?”, tanya saya lanjut.

“Kata Sartre, adalah terlalu dini bagi anda untuk menyatakan siapa diri anda. Cukup jalani saja”, jawab Syafiq.

Saya menyepakati kalimat itu tanpa pengecualian. Setelah itu kami pulang ke kontrakan untuk tidur hingga hari benar-benar lewat.

Keesokan malamnya, Syafiq mengantar saya untuk bertemu beberapa kawan SMP dan SMA saya di suatu cafe berna Museum Huruf. Teman saya itu ialah Trisna, Wira dan Dayat. Dalam momen ini, kami berdiskusi tentang banyak hal. Katakanlah gerakan reformasi dikorupsi, dinamika kampus, iklim gerakan di Jember dan Malang, sampai isu perubahan iklim. Dari semua pusparagam topik itu, isu perubahan iklim lah yang paling menarik perhatian kami. Sampai-sampai membuat kami harus menyempatkan buat dua kali pindah warung kopi.

Hasilnya menarik. Di akhir diskusi kami sepakat buat kembali menghidupkan Perpustakaan Jalanan Amorfati dengan mengadakan lapak baca dan diskusi dua hari lagi. Waktu yang menurut saya dan mungkin, kaum lelet banyak sambat di kota sana, ialah sebuahketidakmungkinan. Wtf dude! Setelah itu kami pulang ke kontrakan masing-masing buat istirahat.

Paginya, eh sorenya, saya bangun karena kesiangan bersama Syafiq. Saat bangun, gadget kami sudah dipenuhi oleh pesan dari Trisna. Lewat pesan elektronik, ia berkali-kali menanyakan sudah bangun apa belum, lagi dimana dst. Sebab pada hari yang sama, seharusnya kami sudah mulai berangkat bersama untuk mempersiapkan agenda Amorfati besok.

Naas, kami baru bertemu sekitar malam harinya. Saat itu kami langsung menuju pasar Tanjung buat membeli kain mori untuk dilukis sebagai poster. Setelah itu, kami ngopi disana sekalian. Pasalnya, konon kata Tris ada warung kopi di pasar yang cocok dibuat untuk sekedar ngoprol. Eh, ngobrol.

Ngopi kembali mengantarkan saya buat berdiskusi lebih dalam terkait gerakan Amorfati besok. Mulai penyediaan materi, metode diskusi dan seterusnya. Pembahasan itu singkat saja. Sebab hanya masalah teknis. Sisanya, kami lebih banyak membicarakan soal bagaimana pengalaman hidup masing-masing. Setelah itu, pulang ke kontrakan masing-masing.

Keesokan harinya, pembagian tugas dikebut seharian penuh. Siang sampai sore, kami membuat pamflet dan beberapa kalimat representatif soal bahan diskusi Amorfati nanti malam. Mengambil buku di sore harinya, kemudian melukis kain pasca maghrib. Dan itu semua kami lakukan di tempat Perpustakaan Jalanan Amorfati biasanya melapak: Double Way UNEJ.

Tepat setelah Isya, beberapa orang pegiat Amorfati pun datang. Serius ramai sekali. Keseluruhan pegiat itu berasal dari jurusan, organisasi bahkan kampus yang berbeda. Mereka duduk melingkar menjadi satu untuk mendiskusikan topik terkait isu perubahan iklim. Saya tidak perlu menjabarkan bagaimana dinamika diskusi yang alhamdulillah, membuat saya puas itu. Sebab, yang menarik dalam diskusi ini ialah komitmen yang disepakati bersama. Bahwa ke depan, Amorfati bakal berada di barisan Greta Thunberg untuk mengawal isu perubahan iklim.

Jember baik. Setidaknya itulah yang saya simpulkan dari petualangan saya di Kota Jember beberapa hari ini. Melalui Jember, saya tidak hanya mendapat susana baru, teman baru. Lebih dari itu, saya mendapat banyak pelajaran penting dari kota ini. Utamanya tentang bagaimana menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan tekanan mental saya beberapa waktu lalu.

Jember dalam Vivere Pericoloso telah menghantarkan saya pada pilihan. Ia berakhir dengan keputusan bahwa mulai detik ini, saya akan memilih kerja untuk hidup daripada hidup untuk dikerjai. Masalah dicap pemberani atau pecundang, sepenuhnya saya serahkan kepada penilaian lingkungan terhadap diri saya. Dicap ‘sesat pikir’ oleh salah seorang seperti yang diceritakan Rifki apalagi.

Tidak perlu merubah lingkungan selama yang dibutuhkan ialah soal keadilan dengan pusparagam sudut pandangnya. Tidak perlu media sosial, apalagi platform sekaliber Supernova dalam novel Mbak Dee Lestari itu. Sebab sejatinya masalah itu seimbang dan berkelindan satu sama lain. Lebih-lebih lagi, mereka selalu berasal dari hukum kausalitasnya kehidupan.

Menjalani hidup tidaklah perlu sekaku dan se elegan mesin, jika hidup selentur kucing jalanan yang menyedihkan, nyata membuat hidup kita kaya akan makna dan tafsir. Lebih-lebih membuat kita jauh dari kejahatan objektif yang pernah dikatakan Slavoj Zizek. Saya lega, stress saya terkartarsis sedemikian rupa. Terima kasih jember. Lain kali saya akan kembali.

Panjang umur perjuangan kelas! Panjang umur revolusi buah naga! Panjang umur etanol-etanol sedih! Panjang umir akuntansi avant-garde! Panjang umur manajemen bisnis neo-ababil! Panjang umur budidaya unggas non-konformis kaum kromo sedunia! Banzai! Banzai! Banzai!” , kalimat-kalimat perjuangan Martin yang ditulis dalam bukunya itu, nyata mewakili suasana hati saya saat ini.***

2 comments