Vivere Pericoloso

Posted by

Kredit Foto : Tirto.id

Vivere Pericoloso” atau yang diartikan Hamish McDonald sebagai tahun-tahun berbahaya — merupakan slogan dalam bahasa Italia yang pernah diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada tahun 1964. Tepatnya dalam sebuah pidato kenegaraan dalam rangka memperingati HUT Indonesia yang ke-19 tahun. Slogan tersebut ia ucapkan sebagai upaya mawas diri akan situasi perang dingin yang gencar dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Karena kita semua sudah tahu pemenangnya adalah Amerika Serikat dan dominasi Liberal Kapitalisnya, maka saya tidak akan bercerita lebih dalam soal ini.

Melainkan disini saya akan lebih menceritakan soal “Vivere Pericoloso” bagi saya pribadi. Mirip dengan kondisi Indonesia waktu itu, jujur 2019 adalah tahun-tahun berbahaya bagi saya. Sebab di hari ini, ketika saya menulis catatan ini, —saya merasa bahwa saya sedang dihadapkan pada dua pilihan;

“Memilih benar-benar kerja atau benar-benar dikerjai?”

Dan pertanyaan tersebut masih dalam ambang pertimbangan saya. Berat sekali. Apalagi ditambah dua hari yang lalu pilihan saya yang lain, yang tentu saja lebih berarti — telah menyatakan sikap untuk pergi. Dan saya amat merasakan kehilangan soal itu. Makannya saya menulis catatan ini.

Ya, sejarah itu berulang sam“, kata Syafiq.

Ucapan Syafiq itu saya pikir ada benarnya. Singkat cerita, tepat satu tahun yang lalu saya akhirnya mundur dari sebuah instansi tidak terkecuali, organisasi. Penyebabnya ada banyak. Namun dialah salah satu pilihan yang paling dominan waktu itu. Melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya saya memilih dia. Tentu dengan harapan agar kita bisa menyusun revolusi berdua. Asik.

Dan benar saja, harapan itu memang kejadian. Di meja pojok Enzo, kami selalu mengisi hari-hari dengan kebaruan. Dengan mimpi-mimpi. Apakah saya bahagia akan hal itu? Tentu saja, ya. Saya bahagia lebih-lebih merasakan betul pengalaman berdua itu. Karenanya, saya kerap memimpikan bahwa saya dengannya tidak akan berakhir seperti Minke dan Anneliesnya Pram, Achilles dan Briseisnya roman Troya, atau Romeo dan Juliet dalam romannya Wiliam Shakespeare.

Tetapi kenyataan, entah mengapa selalu berkata lain. Saya tetap harus kehilangan pilihan saya yang lain itu. Di tahun ini. Menarik karena perpisahan itu nyaris tanpa tangis apalagi, baku hantam. Ia diawali dengan dialog. Berakhir dengan salam dan senyum. Bahkan sempat toz ketika pulang. Heheu..

Namun yang lebih menarik adalah alasan dia. Ya, dia meninggalkan saya dengan alasan capek, tidak adanya keistimewaan, dan terakhir soal keimanan. Pertama, ia capek lantaran ia harus mengurus hidup saya seperti mengerjakan tugas kuliah, mengerjakan laporan, dst. Kedua, makin hilangnya keistimewaan dalam diri saya lantaran belakangan ini saya lebih sering marah-marah. Untuk alasan yang ketiga, karena saya sudah jarang terlihat melaksanakan ibadah.

Mendengar alasan itu, saya langsung tertegun. Seperti tersambar geledek. Sebab, semua alasan itu benar. Saya tak menyangkalnya. Oleh karena itu, seketika saya langsung mengulurkan tangan dan mengakui diri sebagai seorang munafik.

Lalu bagaimana?“, tanya dia.

Entah

Kita sampai disini ya, deal?” , katanya sambil merekahkan senyum.

Oh iya, aku kok yang salah“, jawab saya sambil menggapai tangannya.

Jancuk. Semalaman jujur saya patah hati karena kejadian itu. Di satu sisi membuat saya bertanya-tanya; kok bisa ya sampai begini? Ini kenapa? Salah siapa lagi?

Sejarah itu berulang sam“, kata Syafiq mengingatkan (lagi).

Ungkapan Syafiq itu, saya pikir-pikir ada benarnya (lagi). Ya, saya ini seorang introver. Seorang introver, biasanya suka dan getol dengan dunianya sendiri. Dan keasikan pada dunia saya sendiri itulah yang tanpa disadari atau tidak—mendasari ketiga alasan si doi diatas. Pun pernah diucapkan oleh ketiga ex² saya ketika mereka menyatakan putus beberapa tahun silam:

Kita putus, kamu terlalu asik dengan duniamu sendiri

Duniamu sendiri ndasmu. Sebelum saya ketemu dengan teori Agnes Heller soal kehidupan sehari-hari, saya mungkin juga semua orang — pasti akan mengiyakan perkataan itu. Bahkan mungkin sempat menghardik lebih dalam begini :

Kamu introver sih cuk. Makannya asik dengan duniamu sendiri”

Heleh. Sayangnya saat ini saya sudah membaca konsep kehidupan sehari-harinya Heller. Jadi kata-katamu akan saya bantah disini. Menurut Heller, setiap manusia selalu melakukan tugas-tugas heterogen guna memproduksi dirinya. Namun tugas-tugas itu tidaklah boleh dipandang secara parsial. Sekalipun pada dasarnya memang tidak ada hubungan sistematis diantara mereka.

Gampangnya begini, aktivitas saya seperti membaca, kuliah, diskusi, bercinta, tidur atau berorganisasi adalah satu kesatuan dalam kehidupan saya. Katakanlah Bumi Manusia-nya Faris Fauzan Abdi. Kendati diantara beberapa aktivitas tersebut terdapat keterkaitan secara sistemik, maupun tidak sama sekali.

Melalui teori ini, maka seharusnya saya tidak bisa disebut introver yang asik dengan dunia sendiri. Teori yang entah turunnya dari siapa itu saya tolak disini. Hanya saja saya selama ini sadar bahwa kekurangan saya terletak pada porsi. Ya, saya memang tidak ‘adil’ dalam membagi porsi. Tapi dalam konteks hari ini, faktor itu jelas datangnya bukan dari langit, melainkan datang dari orang-orang yang tidak memandang aktivitas harian menjadi satu kesatuan yang utuh.

Akibatnya merusak. Mereka, akhirnya memandang bahwa aktivitas harian itu bentuknya parsial. Tidur ya tidur tok, bucin ya bucin tok, ngelamun ya ngelamun tok. Karena kita sedang dilibatkan dalam hajat bersama, imbasnya lagi-lagi menyasar saya. Jujur, saya mudah marah, pusing sampai tidak mengerjakan tugas hanya karena saya sering memusingkan hal-hal yang sebenarnya, — bukan ‘hanya’ menjadi tanggung jawab saya saja. Melainkan banyak orang. Dan saya harus terima konsekuensi untuk merelakan kepergian doi karena itu.

Tidak terdengar adil memang.

Tapi itulah bunga penutup abad saya. Saat perpisahan kami, saya bisa melihat betul wajahnya yang lelah dan kecewa. Kendati begitu, ia tetap memberikan saran yang sepenuhnya kembali pada diri saya pribadi. Barangkali inilah watak daripada cinta itu; memaksa. Memaksa saya harus menjadi baik lewat paksaan untuk melepaskan saya. Seperti kata Mas Cesar si Nietzsche-ian:

Dia pergi dan meninggalkanmu sendiri di Enzo ini karena dia terpaksa biar nggak pulang terlalu malam. Sementara kamu, kamu pun harus memaksa dirimu buat merelakan dirinya pergi untuk pulang. Agar dia nggak kena marah. Itulah cinta“, kata Mas Cesar.

Saya sebut ini Vivere Pericoloso. 2019 nyata menjadi tahun berbahaya saya. Saya tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada harap tidak ada mimpi. Karena itulah segala kemungkinan terbaik maupun terburuk, bisa saja menimpa saya. Saya masygul tapi lebih suka menyalahkan diri sendiri. Sebab saya percaya satu hal; setiap yang hidup, bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Saya harus segera membuat keputusan***

2 comments