Sisi Lain ‘Sang Abadi’

Posted by
Kredit Foto : Spotify

“Yang fana adalah waktu, Wiranto abadi”

Kalimat ini tentu saja bukan asli karangan saya. Melainkan, saya hanya mengutip kalimat dari sebuah coretan dinding yang beberapa waktu lalu sempat viral di media instagram. Yang tentu saja, belakangan diketahui pula bahwa kalimat itu adalah bentuk satire dari puisi ‘Kita Abadi’ karya oppa Sapardi Djoko Damono.

Kalimat itu jujur. Tidak kurang apalagi terkesan melebih-lebihkan. Pasalnya, Pak Wir memang sosok yang abadi. Terkhusus dalam panggung perpolitikan tanah air. Sedari Pak Harto masih memimpin, sampai ia dilengserkan. Dari presiden kedua sampai presiden ketujuh. Kendati cuma libur di era Gus Dur, hal itu tak semerta-merta menghilangkan eksistensinya di kehidupan kita apalagi, saya.

Entah nama Pak Wiranto, jujur saja, hampir menghiasi keseluruhan hidup saya belakangan ini. Mulai dari bermedia sosial, membaca berita sampai yang terakhir, membaca buku. Media sosial yang tentu saja netizen-sentris, entah mengapa — nama Pak Wir selalu digunjing ngalor-ngidul di beranda media sosial saya.

Selain aktif digunjingkan di media sosial, nama Pak Wir pun hampir setiap hari menghiasi media informasi tempat saya membaca berita. Apalagi pasca belio menuding bahwa demonstrasi yang terjadi belakangan ini ada kaitannya dengan upaya penggagalan pelantikan presiden. Atau yang terbaru, soal klarifikasi ucapan ‘kontroversial’ belio tentang pengungsi gempa bumi di Maluku.

Dalam hal baca buku lain lagi. Karena belakangan ini gerakan demonstrasi yang muncul mengusung hestek reformasi dikorupsi, belakangan hal itu membuat saya tertarik untuk kembali membaca literatur seputar 1998. Yang dimana tahun itu ialah tahun ketika era transisi menuju reformasi baru dimulai. Kebetulannya juga, koleksi buku pribadi saya soal itu ada banyak. Tapi yang paling getol membicarakan nama Pak Wir, hanyalah dua buku.

Pertama ialah buku ‘Menuntaskan Perubahan’ karya Eep Saefullah. Kedua, buku ‘Titik Tolak Reformasi : Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto’ yang berisi kumpulan esai-esai. Pak Wir bolehlah bersyukur. Sebab, dua buku tersebut menceritakan nama Pak Wir dengan objektif. Menurut saya, cerita yang paling menarik dari sosok Pak Wir ialah persaingannya dengan Pak Prabs yang dikisahkan oleh Keith B. Richburg dalam esainya “Tujuh Hari di Bulan Mei yang Menumbangkan Seorang Tiran : Intrik Terselubung di Balik Kejatuhan Soeharto” yang terbit di The Washington Post, 24 Mei 1998.

Ya, esai tersebut tak hanya menceritakan soal asal usul kerangka reformasi politik semata. Melainkan konflik internal di tubuh ABRI antara Pak Wir dan Pak Prabs. Yang puncaknya ialah pemecatan Pak Prabs sehari pasca dilantiknya Presiden BJ Habibie. Dengan demikian tulis Keith “Pak Wir bisa mengkonsolidasikan kekuasaannya di tubuh ABRI” (hlm 210).

Mungkinkah ini alasan Pak Wir yang beberapa waktu lalu menuduh para demonstran itu hanya berupaya menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi? Entah. Tapi kemungkinan besar memang begitu.

Astaganya, hari ini saya jujur tertawa betul ketika Tirto.id tiba-tiba menurunkan artikel resensi musik berjudul ‘Bakat Menyanyi Wiranto Sangat Menjanjikan, Kok Nggak Diseriusi?’. Saya ngakak kepingkel-pingkel cuk tatkala saya tahu bahwa Pak Wir (Sang Abadi), rupanya punya track record sebagai penyanyi. Selain kaget dan spontan ‘tertawa’ kabar itu di satu sisi tetap membuat saya penasaran.

Apalagi ketika Bung Geger, yang kelihatannya sudah mendengar lagunya dan terpesona dengan suara Pak Wir — akhirnya mendorong followersnya di Twitter buat membuat gerakan memutar lagu Pak Wir di Spotify. Tentu saja karena makin penasaran, akhirnya saya sengaja mendownload Spotify hanya demi mendengarkan lantunan suara Pak Wir. Ketika masuk aplikasi dan mengetik keyword ‘Wiranto’, tiba-tiba muncul satu album Pak Wir yang berjudul ‘Untukmu Indonesiaku‘. Album yang dirilis tahun 2001 dengan isi 12 lagu itu, alhamdulillahnya masuk dalam rilis populer di Spotify. Melihat ini, saya merasa nggak percaya namun tidak menutup fakta bahwa saya ngakak nggak karu-karuan.

Bukan karena meremehkan ya. Hanya bagi saya, Pak Wir rupa-rupanya tak ‘sekaku’ apa yang ada dalam benak saya selama ini. Buktinya belio punya ketertarikan pada seni. Suatu bidang yang menurut gambaran kita identik dengan keindahan dan keluwesan. Lebih-lebih bidang seni yang ia minati ialah dunia tarik suara.

Tak ingin menunggu lama, saya langsung memutar satu persatu lagunya. Sambil bersih-bersih indekos. Dan benar saja, ekspresi tertawa saya langsung hilang. Rasanya makin kesini saya makin ditabok oleh sisi lain Pak Wir. Bagi saya, suaranya mirip-mirip Broery Marantika. Hanya tarikannya lebih pendek dan masih terlalu kaku dalam melafalkan syair lagu.

Kendati demikian, saya nggak begitu kaget sih soal ini. Sebab berkaca dari video wawancara belio di Mata Najwa, belio ini menurut saya ya tipikal orang yang kalem dan tenang. Biasanya orang seperti itu jarang untuk bisa melafalkan syair lagu dengan nada panjang nan tinggi. Jadi ya wajar-wajar saja sih.

Setelah mendengar keseluruhan lagu Pak Wir, saya kembali ke artikel Tirto. Rupanya, album ini dirilis ketika Pak Wir diberhentikan oleh Alm Gus Dur. Pak Wir banyak absennya dong. Makannya kekosongan aktivitas itu kemungkinan besar mendorong Pak Wir buat menjejaki dunia tarik suara.

Sebentar lagi Pak Jokowi dilantik untuk periode keduanya. Entah Pak Wir ditunjuk buat mengisi Kabinet Indonesia Kerja II atau tidak. Kalau pun iya, saya pribadi menyarankan agar Pak Wir lebih fokus ke dunia tarik suara. Eman-eman loh, sudah absen sekian lama dari tahun 2001.

Saya ini penggemar lagu anarko-punk. Tapi untuk beberapa momen, saya sangat menyukai lagu-lagu nostalgia. Contoh lagu KLA Project yang berjudul ‘Yogyakarta‘, ‘Ketika Senyummu Hadirnya‘ Tika Wibisono, ‘Gereja Tuanya’ Panbers dan lain-lain. Sayangnya, kini lagu-lagu nostalgia tahun 70-80an sudah tak laku di pasaran.

Namun saya percaya hal itu saja bisa berubah. Tentu jika Pak Wir kembali ke dunia tarik suara dan mempromosikan lagu-lagu nostalgia dengan suaranya yang alhamdulillah, merdu itu. Selain menyelamatkan bangsa dan negara, percayalah, dunia tarik suara saya rasa — lebih efektif dalam mengabadikan nama seorang Pak Wir. Lebih-lebih, abadinya bukan dari cerita orang, melainkan keabadian yang berasal dari karyanya sendiri.***