Pesan Cak Bogel

Posted by

Tepat satu hari yang lalu saya kembali ke pangkas rambut andalan ; Cak Bogel. Kebetulan waktu itu saya mendapat antrean nomer dua. Sebenarnya sih ketiga. Hanya saja waktu saya masuk ke ruangan pangkas rambut, Cak Bogel sudah kelar memotong. Karena itulah saya tetap saja disebut pengantre nomer dua.

“Intinya satu, ideologi kita ini Pancasila”, adalah kata pembuka ketika sang pasien sebelum saya hendak duduk di meja service kepala.

Mendengar itu, batin saya langsung bergeming; “loh loh loh, ada apa gerangan”. Karena saya penasaran akhirnya saya mencoba untuk menguping obrolan dua orang ini. Namun sial, saya sama sekali tidak mendengarnya. Karena suara mbak-mbak On The Spot yang sedang diputar Cak Bogel, nyata lebih nyaring ketimbang suara mereka berdua.

Setelah dua puluh menit menunggu, kali ini adalah giliran saya untuk dipotong. Bukan lehernya loh. Tapi rambut di kepalanya. Dan saya ingat betul kalimat pertama yang selalu diutarakan Cak Bogel tatkala pasien sudah duduk di kursi service;

“Mau dipotong gimana?”, tanya Cak Bogel.

Seperti biasanya, saya hanya menjawab singkat : “mandarin”.

Kali ini jawaban saya itu tak membikin puas Cak Bogel. Ia malah balik menawarkan hasil eksperimennya.

“Jangan mandarin terus lah. Gimana kalau potongan keren? Mirip-mirip mandarin tapi bukan mandarin”, katanya sambil menoleh ke kaca.

Dalam hati saya, saya tentu sempat heran. Kan disini saya yang potong, tapi kok yang motong yang kasih model? Tapi yaweslah ndak papa. Siapa tahu ‘potongan keren’ lebih keren dari mandarin. Dan yang terpenting, tidak se-ngeri hasil potongan Barber Soup-nya Tretan Muslim ya kan? Okeh. Kali ini, saya iyakan saja permintaan Cak Bogel itu.

“Iya wes cak. Potongan keren aja” , kata saya sambil ketawa.

“Nah begitu dong”, katanya.

Rambut saya pun mulai di belai-belai. Pipi saya mulai ditempel dengan alat pangkas yang getar-getar itu. Dan Cak Bogel seperti biasa, bertanya soal kabar keluarga saya. Mulai dari sepupu, ayah-ibu, pakdhe, budhe sampai nenek saya yang sudah berumur 97 itu. Sampai suatu ketika, ia bertanya soal diri saya:

“Sekarang kerja dimana?”

“Belum lah cak, kan masih kuliah”

“Loh, semester berapa?”

“Alhamdulillah baru masuk tujuh”

“Kuliah dimana sih?”

“Kan dulu sudah ku bilang, di Universitas Muhammadiyah Malang”

“Oh iya iya. Kemarin ikut demo berarti?”

“Ikut cak kenapa?”

“Tau persoalan apa yang di demo?”

“Tau lah cak”

“Apa cobak?”

“RUU bermasalah cak”

“Iya seperti apa?”

Karena dipaksa, akhirnya saya menceritakan alasan mengapa paket RUU bermasalah itu harus dikritisi. Nggak terlalu rinci memang. Tapi setidaknya mewakili apa yang menjadi keresahan massa aksi saat ini.

“Oh begitu ya. Tapi kok sampai ada usul buat turunkan Jokowi?”

“Loh yang mana cak?”

“Lah yang di berita-berita, hayo?”

“Oalah itu ya. Jadi kelompok yang demo kemarin tu banyak cak. Ada yang dari mahasiswa, pelajar, sampai barisan sakit hati. Lah kemungkinan tuntutan itu asalnya dari barisan sakit hati” , terang saya sambil ketawa.

“Wealah pasti kelompok kelompok itu jelas”, kata Cak Bogel sambil tetap memajang wajah serius.

“Ya wes itulaah.. tapi kalau kami sih lebih kepada DPR cak. Malah temen-temen ini niatnya nyasar siapa yang ada dibalik paket RUU, DPR, Pemerintah sampai ke Parpol”

“Siapa itu hayo?” , tanya Cak Bogel.

“Ada lah”, jawab saya singkat.

Saya memang sengaja menjawabnya singkat. Sebab saya tak mungkin menjawab oligarki toh. Apalagi sampai mendefinisikan kata itu secara rinci.

“Pokok intinya, pengusaha tamak yang kawin dengan kekuasaan cak” , kata saya.

“Oalah itu. Tapi menurutku ya nggak papa demo. Kan demokrasi ? Tapi mbok ya jangan sampai ditunggangi lah. Pokok jangan mau dibayar berapapun buat menurunkan Jokowi”

“Ya memang bukan itu tujuannya cak. Kami cuma mau peraturan yang sehat. Ya, macam kata Bang Iwan Fals di lagunya Manusia Setengah Dewa lah”

“Iya wes itu saja pesannya”, jawab Cak Bogel sambil memiringkan kepala saya.

“Pemilu nyoblos nomor berapa emang cak?”

“Ya satu lah” , katanya singkat.

“Iya-iya cak, percaya” , jawab saya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tak lama kemudian, service rambut saya sudah selesai saja. Dan menurut saya, hasilnya sungguh diluar dugaan. Keren, sekeren namanya — ‘potongan keren’. Setelah membayar, Cak Bogel tiba-tiba bilang begini:

“Terimakasih, besok main kesinilah”

“Iya cak, insyaAllah”

Kalau saya ingat-ingat lagi, baru kali ini Cak Bogel meminta saya agar untuk main ke pangkas rambutnya. Sayangnya, saya nyata belum bisa untuk memenuhi permintaannya itu. Sebab paginya saya harus segera balik ke Malang. Bukan karena banyak pekerjaan, melainkan untuk dikerjai***