Gelombang Kesadaran

Posted by

Negeri ini sedang nggak karuan. Saya paham. Konstitusi bermasalah tiba-tiba hendak disahkan. Lembaga yang merupakan harta terakhir rakyat kewenangannya hendak dilucuti. Begitupun dengan hak-hak rakyat itu sendiri.

Karena rakyat sudah sadar, mereka sudah enggan untuk diam. Mereka turun ke jalan. Di berbagai kota. Rakyat kali ini benar-benar marah. Elite senayan pusing. Lempar bola panas dan penundaan adalah satu-satunya harapan. Namun nyatanya hal itu belum bisa meredakan amarah.

Rakyat tetap marah. Lantaran di represi, kemuakan rakyat makin membara. Seruan-seruan untuk turun ke jalan kian masif. Pesan WhatsApp tiba-tiba penuh dengan rilis pers, pertanyaan soal info aksi sampai pertanyaan tentang bagaimana cara menghindari gas air mata. Sisanya, cerita.

Dua mahasiswa sudah tewas ditembak di Makassar. Jurnalis dan aktivis dikriminalisasi. Banyak dari mereka yang ditangkap dan diburu dengan tuduhan provokasi. Watak kekuasaan yang nyata. Yang nyata bukan menyelesaikan masalah. Melainkan hanya menabung bencana.

Kalau boleh cerita, siang tadi saya mendapat pesan Instagram berupa dukungan dari adik kelas saya yang seorang polisi :

“Semangat mas ojan”, katanya.

Mengetahui bahwa ia akan bertugas mengamankan aksi massa, saya lantas menjawab :

“Semangat juga buat kamu le. Jangan sekali-kali kamu pukuli mereka. Karena yang diinginkan mereka hanya tegaknya konstitusi. Dan kami pun percaya sama kamu. Bahwa kamu disini bertugas menjalankan perintah. Kita harus bisa memahami satu sama lain” , tandas saya.

“Terimakasih masukannya mas” , katanya.

Tak lama kemudian datang pesan lagi dari seorang kawan yang kini ada di Tuban. Isinya ialah gambar percakapan pesan WhatsApp antara dirinya dengan seorang polisi. Jujur bagi saya, isi percakapan ini cukup menarik. Sebab, percakapan itu berisikan alasan mendasar mengapa ‘represi’ harus terjadi.

“Menjaga sarana prasarana” adalah kalimat komando yang saya garis bawahi dari pesan itu. Sisanya pernyataan sikap bahwa dia juga rakyat. Dan dia sepakat dengan apa yang menjadi tuntutan massa rakyat saat ini.

Di waktu yang sama, saya buka beranda Instagram. Kali ini poster bergambar polisi sedang disetir tangan tanpa kepala sedang berada di depan mata. Saya pajang foto itu sebagai bentuk perihatin saya atas realita hari ini. Bahwa sistem dengan sengaja membikin polisi agar memusuhi para demonstran. Begitupun untuk para demonstran, demonstran seolah dibuat untuk memusuhi para polisi.

Ironisnya, semua orang baik dari pihak demonstran maupun polisi begitu saja menerima hal itu. Para demonstran tak paham bahwa apa yang dilakukan oleh polisi di medan juang adalah intruksi. Polisi pun tak paham bahwa para demonstran hanya bertujuan untuk menegakkan konstitusi yang diludahi oleh para elite politik. Sisanya ialah komando.

Jika kesalahpamahan ini terus dibiarkan, maka korban bisa semakin berjatuhan. Sebab para demonstran lupa tujuan. Sebaliknya, polisi pun lupa peran dan fungsinya sebagai pengayom juga manusia. Apabila itu terjadi, sistem yang menindas ini tidak akan tersentuh oleh kita. Tiang politik yang dibangun oleh oligark ini tetap berdiri kokoh.

Mereka tetap akan tertawa diatas jasad-jasad demonstran maupun polisi yang gugur di medan juang. Ucapan-ucapan bela sungkawa paling hanya pemanis dibalik apa yang mereka lakukan. Maka dari itu untuk mencegah ini saya katakan; “Unite Fight This System”. Kata itu sendiri saya cat besar-besar di kamar saya.

Dan saya, tidak menyebut entitas tertentu selain kita semua. Rakyat Negara Republik Indonesia. Mari bertarung melawan sistem yang menskenario konflik ini. Ciptakan kesadaran dan peliharalah kesadaran itu sendiri. Kesadaran bahwa musuh demonstran bukan polisi. Bahwa musuh polisi bukanlah demonstran. Musuh rakyat bukan rakyat. Sebab, musuh sebenarnya ialah ketamakan yang berdiri kokoh di balik kekuasaan; oligarki !

Sekian.***