Hari Ketiga : Bimbel atau Sekolah?

Posted by
Dokumen Pribadi


Sore tadi, seorang bapak-bapak datang ke Balai Desa bersama tiga anaknya. Dari kejauhan bapak-bapak itu bilang begini :

“Mas nitip ya, tolong diajarin porogapet”

Ya, porogapet. Cara pembagian bilangan dalam mata pelajaran Matematika itu. Yang dulu menurut saya amat susah itu. Saya tentu saja mengiyakan permintaan itu. Kemudian, mengajak dua anaknya masuk ke Balai Desa. Buat dibimbing.

Saat ini, suasana jalanan di depan Balai Desa sedang ramai-ramainya. Ibu-ibu dan anak-anak berseliweran memadati jalan. Karena melihat dua anak lengkap dengan tas punggung masuk desa, ada dua oranh ibu-ibu yang seketika berteriak kepada anak-anaknya begini :

“Pulanglah ambil tas ada bimbel, belajar sama mas-mas KKN”

“Waduh, ayahab”, kata saya dalam hati.

Saya mengeluh lantaran saya terlalu minim kesiapan. Saya belum mengatur jadwal, mengatur siapa saja yang akan mengajar, dan seterusnya. Kendati begitu, saya tetap menginformasikan hal ini kepada anak-anak se-kelompok. Soal persiapan yang tidak ada sama sekali, saya hanya mepercayakannya pada keajaiban bernama ‘improvisasi’.

Tak lama setelah itu, Balai Desa seperti di bom oleh lautan anak kecil. Jumlahnya ada puluhan. Sementara anak-anak KKN yang stand by di posko hanya beberapa. Dan tak ada satupun dari mereka yang asalnya dari jurusan pendidikan. Selain saya.

Saya gelagapan. Tapi syukurlah hal itu tidak berlangsung lama. Sebab, pasca itu setengah dari anggota kelompok KKN saya datang ke posko. Meskipun kondisinya sudah nggak karu-karuan. Karena bocah-bocah sudah kocar-kacir berlarian di altar Balai Desa.

Saya tentu saja, langsung membagi siapa-siapa yang mengajar buat malam ini. Dan alhamdulillah, mayoritas dari anggota KKN menyepakati hal itu. Kami tetap mengajar. Meski dengan persiapan yang minim.

Dan benar saja, suasana mengajar itu sungguh berbeda dengan suasana saat saya mengajar di sekolah. Saat momen bimbel ini, saat pembelajaran ini, entah mengapa, saya agak kesulitan jika berbicara soal teknik penguasaan kelas. Menyadari kesulitan ini, saya langsung memanggil Firli. Lantas kemudian bertanya pada dia:

“Fir, kok anak-anak ini sulit diajari sih? Katanya tadi bimbel tapi nyatanya mereka malah bermain”, tanya saya.

“Ya nggak tau mas”, kata Firli.

Firli memang masih kelas 6 SD, saya paham. Dan mungkin ketika saya seumuran Firli saya pun akan berkata demikian. Karena itulah saya tidak menyalahkannya. Meski tidak bisa dipungkiri kalau saya masih bingung.

Entah mengapa, tak lama kemudian datang seorang anak lagi bernama Albi. Ia mendekat kepada saya sambil menudingkan tangan ke arah Aldino :

“Mas masak katanya mas itu sekolah itu nggak penting? Soalnya katanya di sekolah itu siswa selalu disalah-salahkan?”

“Lah menurutmu seperti itu atau tidak?”

“Nggak tau mas”

Jawaban itu lagi. Eh tapi tunggu, anak ini seolah memberikan kunci persoalan mengapa penguasaan kelas itu sulit di lakukan disini. Di Balai Desa. Lantas pertanyaannya, mengapa di sekolah penguasaan kelas lebih mudah dilakukan ketimbang bimbel di Balai Desa ini?

Jika merujuk pada apa yang dikatakan Aldino lewat Albi, maka jawabannya terselip lewat kalimat; “sekolah yang gemar menyalahkan”. Berbicara soal salah, pasti ada yang namanya benar. Berbicara soal benar dan salah sebagai nilai, maka harus ada moralitas sebagai alat ukur. Dan, berbicara soal moralitas, jelas ukuran yang dipakai sekolah ialah satu : peraturan.

Ya, perbedaan sekolah dan bimbel ini ialah satu: peraturan. Sekolah selaku institusi, pasti punya segala bentuk peraturan. Baik jam masuk, jam mata pelajaran, jenis seragam, bahkan panjangnya rambut. Kalau di SD, seingat saya, kuku pun terikat oleh peraturan sekolah.

Ironisnya, saya yakin banyak sekolah yang masih menganut kepercayaan ‘tiada kesalahan yang tidak di sanksi’. Saking banyaknya peraturan plus sanksi yang tegas macam itu, siswa tentu saja merasa takut. Karena ketakutan itu pula, siswa-siswa jelas lebih mudah untuk dikendalikan. Oleh guru tentunya.

“Benar begitu no?” , tanya saya ke Aldino.

“Ya, kurang lebih begitu. Besok lah, kita ketemu dengan orang yang menyadarkan saya soal hal itu”

Singkat cerita, bimbel pun berakhir dengan begitu cepatnya. Semua siswa pulang tanpa mendapat pengetahuan apa-apa. Sekalipun porogapet. Meski begitu saya tetap senang. Setidaknya dari apa yang mereka mainkan di altar Balai Desa barusan mampu memberikan pengetahuan kepada mereka. Misal teknik penjumlahan melalui kartu remi dan gaplek. Atau melatih karakter gemar bekerjasama melalui gobak sodor.

***


Mojokerto, 19 Juli 2019

Faris Fauzan Abdi

One comment