Balada ‘Wong Njero’

Posted by

Magang bagi universitas swasta merupakan sesuatu yang harus dilakukan berlapis-lapis. Di fakultas saya misalnya. Harus ada magang satu, magang dua dan magang tiga. Lama waktu tempuhnya pun bertahap. Kondisi yang sudah jelas berbeda dengan universitas negeri. Tapi percayalah, ini semua dilakukan untuk mengimbangi universitas negeri.

Salam standar IPK 3,00 untuk swasta dan 3,50 untuk negeri.

Nggak papa, nggak masalah. Saya tetap menikmati situasi dunia yang serba persaingan ini. Karena itu lah saya tetap bahagia. Di satu sisi, tanpa disadari saya banyak mendapatkan pengalaman menarik dari proses magang yang berlapis-lapis itu. Salah satunya hari ini. Ketika saya bertemu dan berinteraksi dengan Kak Nur di magang tiga.

Kak Nur, beliau memang sudah tua. Karena tuntutan dari Pramuka saja, beliau akhirnya dipanggil ‘kak’. Singkat cerita, beliau ini punya dua orang anak. Semuanya perempuan.
Satunya masih kuliah, satunya lagi masih SD. Dan cerita yang menurut saya menarik ialah cerita tentang anak beliau yang pertama.

Kak Nur, ia bercerita bahwa anaknya itu sempat berkuliah di salah satu perguruan bonafide di Kota Malang. Jurusannya Bahasa Inggris. Dengan harapan agar ia bisa mengikuti jejak sang ibu. Menjadi seorang guru.

Namun ternyata nasib berkata lain. Ilmu pengetahuan yang ia akses selama empat tahun nyatanya tidak bisa menghantarkan anak Kak Nur menjadi seorang guru. Lebih-lebih karena Bahasa Inggris saat ini sudah tidak menjadi mata pelajaran wajib.

“Lalu bagaimana bu?” , tanya saya polos.

“Mau tidak mau ya kuliah lagi mas. Akhirnya sekarang dia kuliah di UT. Ambil jurusan PGSD. Karena statusnya yang sudah sarjana, masa pendidikannya akhirnya dipotong. Yang awalnya 4 tahun, kini cuma dua tahun”, jelas belio.

“Sayang sekali, padahal bisa kok bu kalau langsung ikut pendidikan profesi”

“Iya sih, tapi ya gimana lagi mas. Dia maunya seperti saya, jadi guru sd. Dan jadi guru SD di Kota Malang ini, kalau jurusannya nggak linier ya susah. Belum lagi berbicara ‘wong njero’ (orang dalam). Sekarang sudah bukan rahasia umum mas. Hampir semua pekerjaan membutuhkan “wong njero” , tandas Kak Nur.

Belum sempat menimpali kalimat itu, Kak Nur tiba-tiba beranjak. Kata beliau : tugas yang sudah menumpuk di meja sudah menunggunya. Dan kini tinggalah saya sendiri disini. Menginterpretasi dan mengekskripsi kejadian barusan.

Berbicara soal ‘wong njero’ yang katanya Kak Nur sudah bukan menjadi rahasia umum, membuat saya mengingat satu kata : nepotisme. Nepotisme itu sendiri ialah kecenderungan untuk lebih mengutamakan sanak saudara atau sohib atau sohibah dalam berbagai hal yang menguntungkan. Biasanya dalam hal pangkat, jabatan atau posisi-posisi yang menguntungkan lainnya.

Tabiat ini tentu saja sudah bukanlah hal yang baru. Akan tetapi, sudah kita warisi sejak era kolonial sampai era sekarang ini. Ironisnya, kita terlampau menganggapnya sebagai hal ihwal yang wajar-wajar saja. Karena itulah kita acapkali mendengungkannya. Bahkan mengajarkannya dari mulut ke mulut. Padahal, tindakan macam itu pengaruhnya demikian menghancurkan.

Pasalnya, seseorang yang kompeten akan di bidangnya jelas akan tersingkir pelan-pelan oleh orang-orang yang melegalkan anekdot orang dalam. Lebih-lebih menjadi seorang guru. Coba bayangkan saja jika profesi guru diisi orang-orang non kompeten. Pasti banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Dalam dekade ini, persaingan memang terus mengetat. Tribunnews pun menulisnya lewat ramalan zodiak Leo pada (28/08) kemarin begini :

“Persaingan saat ini semakin memanas di kantor dan kamu harus menjaga hubungan baik dengan rekan-rekanmu” , tulis Tribun.

Dan saya percaya ramalan itu memang. Bahkan kalau perlu kata ramalan itu diganti dengan kenyataan. Kenyataan bahwa sampai saat ini ketatnya persaingan adalah masalah utama dalam berbagai hal. Padahal dampaknya sangat beragam. Salah satunya fenomena wong njero ini.

Seseorang diterima karena ia punya kompetensi di bidangnya, itu benar. Tapi seseorang yang tiba-tiba diterima dengan dalih persaudaraan dst , jelas tidaklah lazim. Inilah yang namanya preskripsi. Atau yang kerap disebut sebagai tahap manusia mengevaluasi nilai-nilai. Menilai baik buruk, benar salah dan lain-lain. Suatu metode yang saat ini tentu saja, jarang digunakan orang-orang dalam mengassesmen informasi.

Meski sempat menyanggah, tentu sepakat jika anak Kak Nur harus disekolahkan lagi di prodi yang sesuai dengan cita-citanya : PGSD. Karena mungkin dari situlah ia akhirnya bisa mengetahui hal-hal baru yang sebelumnya tidak ia dapatkan di perkuliahan Bahasa Inggris. Contoh, metode pendidikan anak, karakteristik anak dst.

Dan saya juga tidak menyalahkan Kak Nur soal rahasia umum ‘Wong Njero’. Sebab beliau hanya melontarkan fenomena yang saat ini memang masif terjadi. Lagian kalau dipikir-pikir lagi, jika Kak Nur beridiom ‘wong njero’ mengapa anaknya tidak dimasukkan di sekolah ini saja hayo?

Jadi jelas, Kak Nur bukanlah orang gemar mengandalkan wong njero. Makannya anaknya disekolahkan lagi. Ya, semoga saja anaknya bisa menjadi seorang guru SD. Seperti ibunya. Seperti cita-citanya. Amin.

***


Faris Fauzan Abdi