Rekzi Punya Cerita

Posted by

Dari kejauhan, si Rekzi terlihat sedang tak baik-baik saja. Pasalnya, sejak turun dari motor sampai di meja kasir ia cengengesan — sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke arah saya. Aneh tapi nyata. Nyata tapi bikin kemekel.

Setelah memesan kopi ia lanjut bergabung dengan kami.

“Woe Noorca ngopi sama aktivis rek”, kata Rekzi sambil tertawa terceguk-ceguk.

“Aktivis-aktivis ndasmu”, kata saya sambil tertawa.

“Jarang ketemu rek. Kapan kita terakhir ngopi?” , tanya si Rekzi.

“Hahah, mungkin setahun silam” sahut saya.

Selanjutnya saya terus mengobrol dengan Rekzi. Merasa dikacangi, si Noorca memilih untuk bermain game online saja. Sebut saja Mobile Legends. Sementara saya dan Rekzi asik ngobrol. Mulai dari saling sindir tampang, saling sindir masa lalu. dan seterusnya. Semua hal yang menurut saya manusiawi dan membikin tertawa kepingkel-pingkel.

Selain melayani selera humor si Rekzi yang cukup seksis, saya mencoba berpikir : kira-kira kapan obrolan ini saya arahkan untuk membahas topik ‘dikerjai hidup’?

Singkat cerita, ketika saya memikirkan momen yang tepat itu, si Rekzi ditelfon oleh seseorang. Pembicaraannya pun kelihatan serius. Meski terbilang tidak lama. Paling 7 menitan. Dari awal mengangkat telfon, sampai ia menutup telfonnya.

“Alhamdulillah cuk, dapet 200 ribu”, kata Rekzi sambil nderenges.

Batin saya langsung semringah. Sungguh inilah momen yang saya tunggu dari tadi.

“Loh-loh kerja apa Zi?”

“Rahasia hahaha” katanya tertawa.

“Paling jadi wasit futsal” , kata Noorca.

Disini saya hanya diam dan tidak menggubris kata Noorca. Namun setelahnya, saya masuk lewat KKN dan Magang.

“Zi, sudah KKN dan Magang?”

“Oh ya sudah dong” , jawab Rekzi dengan bengal.

“Berarti sudah mau skripsi?”

“Iya sudah dong”, katanya dengan bengal (lagi).

“Kalau lulus mau kemana?”

“Ndealah masih lama cuk. Tanya temanmu iniloh yang lulus September”, kata ia sambil melirik Noorca.

“Aku kah? Jadi Youtuber” , kata Noorca sambil tertawa.

“Youtuber? Dapuranmu ca”, kata Rekzi sambil tertawa.

Entah mengapa pasca itu, Rekzi malah membalikkan pertanyaan itu ke saya. Rekzi, ia kelihatan betul jika belum membuat rancangan hidup.

“Kalau saya, saya mau menerbitkan sebuah buku. Mungkin juga buat warung kopi sama bimbel. InsyaAllah” , jawab saya tegas.

“Sekarang fokus apa buat kesana?”

“Menabung, kerjaku masih menabung”, jawab saya sambil tertawa.

Nah inilah momen ketika saya membalikkan pertanyaan itu ke Rekzi. Layaknya jawaban yang saya berikan, Rekzi hanya menjawab:

“Kerja ikut pabrik”, katanya singkat.

Kerja dan pabrik. Disini pikiran seketika saya langsung nyaut dengan kerja-kerja di dalam relasi upah.

“Percuma cuk kalau nggak punya orang dalam”, selat Noorca.

“Iya sih”, jawab Rekzi singkat.

“Ya itulah pendidikan kita. Kita dididik buat menjadi pegawai, bukan tuan. Di teknik industri kamu diajari apa?”, tanya saya.

“Ya cara memproduksi tahapan dan distribusinya. Tapi ini dah, saya sebenarnya punya keinginan untuk membuat pabrik, mengolah suatu produk dan mendistribusikannya. Pengalaman itu sendiri saya dapat dari magang”

“Magang dimana memang?”

Lanjut, Rekzi bercerita bahwa ia sempat magang di salah satu PTPN yang memiliki fokus mengembangkan kopi Arabika. Dan disanalah ia banyak mendapatkan ilmu soal mengembangkan agribisnis.

“Pokoknya agribisnis dah”

“Kopi?”

“Nggak juga. Mungkin ketela”

“Hahahaha, wancuk juragan ketela”, kata Noorca.

“Wes keren itu cuk” , kata saya.

“Iyalah, eh tapi sebentar, tapi kondisi perkebunan disana cukup parah loh jan”

“Kenapa memang?” tanya saya.

Dalam pembicaraan kali ini, si Rekzi banyak bercerita soal kondisi tempatnya, kultur sosial masyarakatnya , pun tentang proses produksi Arabikanya. Dan cerita mengenai proses produksi inilah yang paling menarik bagi saya.

Rekzi, ia bercerita bahwa disana penduduk bekerja mulai jam 05.00 pagi sampai jam 14.00 WIB. Lanjut si Rekzi bertanya pada saya :

“Lahyo dengan kerja yang selama itu, apa mereka ndak bosen ya?”

“Ya nggak tahu. Nggak kamu tanyakan?”

“Sudah tapi katanya enggak sih. Bahkan ada yang sudah lama disana. Ada yang 10 tahun, 15 sampai 30 tahun. Tapi maklum, fasilitas seperti rumah dan lain-lain memang ada”

“Baguslah”, jawab saya singkat.

“Tapi nggateli cuk mandornya” , kata si Rekzi.

“Kenapa memang?” , tanya saya.

“Jadi begini jan, di hari pertama mandor perkebunan itu meminjam tasku buat diisi kopi. Awalnya sih ku kira kopi itu buat kami. Tapi pas tak tanya ke teman-teman, rupanya mandor perkebunan itu cuma titip. Nah, keesokan harinya biasanya belio ambil lagi kopi itu. Eh, tanpa disangka-sangka rupanya ia jual kopi itu. Padahal itu kopi sisa produksi yang kualitasnya masih bagus”

“Masuk kantongnya sendiri?” tanya saya penasaran.

“Iya, tapi pernah ku pergoki dia ngasih persenan ke beberapa orang yang bekerja di perkebunan itu”, kata Rekzi.

“Uang tip biar aman?”

“Kayaknya. Soalnya serius jan, sisa produksi Arabika itu nggak didata. Jadi rawan penggelapan”

“Nah itu masalahnya” , kata saya.

“Lumayan cuk satu karung kopi itu bisa laku jutaan”

“Haha, itulah kenyataan yang lebih nyata dari pendapat siapapun soal kenyataan, seperti kata Pram”, jawab saya.

“Nyata gimana?” , tanya Rekzi serius.

“Ya nyata. Menurut para analis, pakar dst kan BUMN sudah baik-baik saja. Cuma tinggal digenjot sedemikian rupa. Padahal ya persoalannya nggak sesederhana itu. Di dalamnya pun masih ada orang-orang macam mandor perkebunan tempatmu magang itu”, saya berkhotbah.

“Iya sih ya”, kata Rekzi.

“Iya padahal sudah mandor ya kan? Kurang apalagi?” , saut Noorca.

“Kurang nakal kayaknya” , kata saya sambil tertawa.

“Pokok itulah problem nyata di lapangan. Setiap tahun kampus selalu memberangkatkan mahasiswa buat PKL, Magang atau KKN sambil bilang : ‘di lapangan semua hal akan menjadi kompleks. Semua kenyataan ada disana’. Menurutku kalimat itu ada benarnya. Tak terkecuali, aneh”, sambung saya.

“Aneh begimana?”, tanya Rekzi.

“Ya aneh saja. Sebab kalimat itu secara nggak langsung makin mengkonfirmasi kalau kampus itu tempatnya tidur dan bermimpi tentang teori-teori yang melangit tanpa pernah sekalipun membumi. Eh pas ditanya pasca lulus jadi apa malah bingung”, jelas saya.

***


Faris Fauzan Abdi