Renewable Cafe

Posted by

Hari ini, Noorca benar-benar percaya bahwa ia sedang dikerjai hidup. Walhasil rasa bingung berkecamuk dalam pikirannya. Bahkan, ia bercerita via Whatsapp jika pikiran itu sempat mengganggu kekhusyuan sholatnya. Karena itulah ia mengajak saya ngopi malam ini. Dan saya tentu saja, langsung mengiyakan ajakan itu.

Kami janjian ngopi sehabis maghrib. Di Cafe Kopi Pedia, Krian. Kata Noorca, cafe ini adalah cafe baru kesukaannya (selain Kabol). Katanya pula, disana tempatnya tenang. Enak buat ngobrol. Mendengar hal itu, saya makin antusias.

Pasalnya, saya sendiri baru tahu kalau ada cafe baru di Krian. Saya penasaran, kira-kira tempatnya seperti apa. Sebab, istilah ‘cafe’ itu sendiri dikenal sebagai sebagai kasta tertinggi dalam bisnis perkopian. Ia berada di atas kedai, dan terakhir, warung kopi. Karena itulah saya nggak sabar. Pasca maghrib selesai saya segerakan buat mangkat.

“Mau kemana?”, tanya ayah seperti biasanya.

“Dinas yah”, jawab saya singkat.

Ayah saya cuma merespon jawaban itu dengan tersenyum renyah. Seusai pamit, saya bergegas meluncur ke Kopi Pedia. Perjalanan itu singkat. Cuma memakan waktu sekitar 7 menitan. Sebab, jarak antara rumah saya dengan cafe tersebut relatif dekat.

Saat itu, suasana Cafe Kopi Pedia sedang dirunding sepi. Cuma ada dua orang muda-mudi yang sedang ngobrol dengan komat-kamitnya. Sementara si barista — sedang duduk-duduk sambil memainkan gadgetnya.

Saya langsung masuk. Kali ini langsung menuju meja kasir. Buat memesan segelas kopi. Saat itu, saya pesan kopi Aceh Gayo tubruk. Belum hengkang dari meja kasir, tiba-tiba si Noorca datang. Seperti biasa, ia malam itu amat berantakan. Meski saya bukan psikolog yang mahir membaca wajah, saya bisa melihat jika Noorca sedang banyak pikiran.

Noorca, ia memesan Kopi Toraja. Tetap dengan metode olah kopi kesukaannya : V60. Setelah kami usai memesan, kami memutuskan buat keluar ruangan. Tentu dengan menjajal suasana outdoornya. Dan Noorca tentu mengikuti saya. Meski awalnya ia sempat mengajak saya untuk ngopi di dalam ruangan saja.

Ketika berada diluar, saya tak berhenti buat menengok kanan kiri. Tentu dengan tujuan mengamati Cafe ini dengan teliti. Disatu sisi, saya sempat mikir. Sambil mbatin :

“Hebat betul sebuah kekuatan tulisan itu. Cafe-cafe macam ini, entah mengapa kerap mengingatkan saya pada Mbak Dee”

Seperti yang kita tahu bersama, wajah bisnis perkopian modern macam ini sangat akrab dengan film Filosofi Kopi. Dan ingatlah, Filosofi Kopi ialah sebuah karya film yang diadopsi dari tulisan Mbak Dee Lestari. Dan alhamdulillah, film itu amat menginspirasi para pebisnis kedai kopi. Begitupun dengan penikmat kopi kebanyakan.

Kendati bisnis kedai kopi sudah sebegini-begitunya, masih banyak pula warung kopi yang tetap mempertahankan kedai kopi gaya lama. Apalagi di Krian ini. Tempatnya apa adanya. Kopinya kopi sachet siap seduh. Kedainya full wi-fi dan kabel olor. Monoton, dan akhirnya, membuat orang-orang makin gemar bermain game. Kalau tidak ya nge-scroll timeline media sosial.

Sangat berbeda dengan cafe macam ini. Cafe yang ditujukan (memang) buat mengobrol. Contoh mbak dan mas tadi. Yang ngobrol dengan komat-kamitnya.

Berbicara soal tempat, Cafe Kopi Pedia memang tidak terlalu luas. Cafe itu memiliki dua tempat; ada indoor maupun outdoor. Dua-duanya memiliki cara terbaik dalam membikin orang-orang agar nyaman ketika ngopi disana.

Lebih dari itu, dindingnya pun berjajarkan rak. Tentu lengkap dengan buku-bukunya. Punya satu televisi di bagian dalam ruangan. Didalam situ pula terdapat spot selfie dengan desain interior yang mendukung. Banyak hal. Dan jujur saya terkesimah dengan wajah Cafe ini.

“Cuk, jadi gimana masalah YouTube? Jangan tolah-toleh” , tegur Noorca yang seketika membuyarkan pengamatan saya.

“Oh iya maaf, gimana-gimana?”

Selanjutnya, saya lebih aktif untuk mengobrol dengan Noorca. Namun saya nggak konsen. Sebab pikiran dan hati saya masih sibuk mengamati cafe ini. Ah saya pengen punya cafe macam ini.

“Ca, kapan ya kira-kira kita punya warkop begini?”, tanya saya.

“Cuk, hidup ada tangganya. Nanti lah itu. Sekarang fokus ke proyek AM iniloh”

“Hahah iya” , kata saya sambil tertawa terbahak-bahak.

Kami mengobrol lagi soal waktu yang tepat buat eksekusi. Di sela-sela pembicaraan itu, tiba-tiba si Rekzi datang. Rupanya Noorca juga mengajak Rekzi buat ikut ngopi malam ini.

“Ca, ada Rekzi. Ganti topik sudah”, bisik saya.

“Oke-oke. Kira kira topik apa?”, jawab Noorca.

“Kalau dia lulus dia bakal ngapain aja. Biar pusing”, kata saya.

“Hahaha”, Noorca tertawa terkekeh-kekeh.

***


Faris Fauzan Abdi

One comment