Hari Ketiga : Grapyak

Posted by

Bangun siang, sarapan lalu mandi adalah beberapa aktivitas yang saya lakukan untuk mengawali hari ketiga ini. Pasca mandi, seperti biasa, saya gabut. Dan saya rasa, kegabutan itu tidak hanya melanda saya. Melainkan juga teman-teman se-KKN saya. Mereka semua ada yang rebahan, mondar-mandir, bahkan bermain game.

Karena saya tidak ingin terjebak dalam kegabutan yang konon katanya ‘hakiki’ itu, saya pada akhirnya memilih untuk lanjut membaca buku sambil duduk-duduk di altar Balai Desa. Biar terlihat lebih sibuk, saya tak hanya membaca buku saja. Melainkan juga mencatat beberapa kosa kata dan hal-hal yang menurut saya penting.

Aktivitas itu saya lakukan dengan tekun. Saking tekunnya, saya lupa waktu. Tak terasa, sore sudah menjelang. Adzan ashar adalah pengingatnya. Mendengar adzan ashar, saya terpaksa menutup buku saya. Begitupun dengan buku tulis yang berisi catatan-catatannya. Lanjut, shalat.

Pasca shalat, keresahan kembali mengguncang pikiran saya. Kira-kira apa yang saya akan lakukan sore ini? Kembali membaca buku ? Makan lagi? Atau apa?

Saya bingung. Saya sudah kehilangan mood membaca. Jika tetap dipaksakan, takutnya aktivitas membaca akan menjadi percuma : tidak dapat apa-apa. Mau bersih-bersih juga tak ada gunanya. Sebab Balai Desa saat ini sudah terlihat bersih. Mau bergabung sama teman-teman pun sama saja saya menceburkan diri ke dalam kegabutan yang hakiki. Lantas, apa? Apa aktivitas yang tepat?

Daripada terjebak pada kebingungan yang berlarut-larut, akhirnya saya memilih buat ngopi saja. Ngopi ke Kedai D’KORMA milik Pak Sugeng. Kebetulan, saya juga masih terngiang kata Adly : “sekalian main Wi-Fi zan“. Okelah, saya kesana.

Sore ini kedai Pak Sugeng terlihat sepi sekali. Tak ada satupun kepala yang menunduk untuk sekedar main game online, memutar video di YouTube, apalagi membaca berita online. Yang ada cuma mbak-mbak yang lagi menyapu halaman kedai. Anak Pak Sugeng mungkin.

Mbak saya pesan kopi hitam. Nggak terlalu manis tapi juga nggak pahit“, kata saya dalam Bahasa Jawa.

Oh iya. Sebentar ya mas. Saya tak cuci tangan dulu” , kata mbak itu dalam Bahasa Jawa.

Saya masuk ke ruang utama kedai yang beralaskan banner bekas itu. Mengecas handphone dan tak lupa, menyambung Wi-Fi. Tak lama kemudian kopi saya datang. Aromanya kuat. Kopinya hitam pekat. Jelas rasanya enak sangat.

Monggo mas” , kata mbak itu sambil menaruh kopi saya di meja.

Matur nuwun mbak” , jawab saya.

Mbak itu diam saja dan langsung beranjang keluar kedai. Awalnya saya kira ia mau lanjut bersih-bersih pelataran kedai. Namun ternyata mbak itu duduk di depan warung. Sambil mengajak ngobrol saya.

Mas ini KKN dari mana ya?

Dari Malang mbak

Oalah Malang ya? Yang dua minggu kemarin ada dari Surabaya

Kampus mana mbak? Unesa?

Iya kayaknya itu mas. Masnya dari kampus mana?

Unmuh Malang saya mbak

Oalah disitu

Iya

Obrolan itu berhenti sejenak. Sampai ketika mbaknya nyaut lagi.

Asal mana mas?

Oh saya, asal Sidoarjo mbak

Wah deket dong berarti

Iya

Saya iya iya tok. Kelihatan cuek memang. Sebab saya sudah menghadap gadget untuk mengunggah tulisan saya. Dan, biasanya kalau sudah seperti itu saya memang agak cuek dengan sekitar.

Sebenarnya, warga desa ini tidak perlu program yang muluk-muluk dari anak KKN. Cukup satu saja : grapyak

Mendengarnya, handphone saya langsung saya matikan. Sebab dalam benak saya kata ‘grapyak’ artinya suka menyapa. Apa tadi atau kemarin saya tidak menyapa orang ini? Atau sebaliknya, tidak membalas sapaan dia?

Entah.

Dengan tanpa menjawab kalimat mbak itu, saya langsung menyalakan handphone saya lagi. Membuka Opera Mini dan menuju ke Google untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Walhasil disini saya menemukan arti kata grapyak yang lebib beragam.

Grapyak ialah suka bergaul, ramah dan menyenangkan. Pendek kata, friendly. Sama seperti apa yang dituliskan oleh guru taman kanak-kanak saya di buku kenang-kenangan. Bahwa awalnya saya ini grapyak. ‘Suka bergaul, ramah dan menyenangkan‘ tulis guru TK saya di kolom kebiasaan saya dulu.

Ah tapi itu dulu. Sekarang beda lagi. Sekarang, saya agak lebih dingin dengan sekitar. Ketika ngobrol dengan mbak ini saja, saya banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang baku nan kaku. Ironisnya, saya hanya berkata seperlunya saja (iya-iya tok).

Yaweslah, saya khilaf. Khilaf berujung jurus. Logat Sidoarjo yang mirip-mirip dengan daerah Mojokerto pun saya keluarkan. Semoga saja, berhasil.

Menurut sampean mbak, kelompokku KKN sing niki kurang grapyak tah?” , kata saya.

Dalam Bahasa Indonesia artinya :

Yo durung ngerti mas. Kan sek tas-tasan” , jawab dia.

Yang dalam Bahasa Indonesia artinya :

Ya belum tahu mas. Kan baru baru saja

Mosok aku iki kurang grapyak mbak?” , kata saya sambil tertawa.

Iyo mas kurang“, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Obrolan itu terus berlanjut sampai adzan maghrib datang. Singkat cerita, pasca itu mbaknya masuk ke dalam rumah. Sementara saya, berjalan ke musholla terdekat. Di jalan saya berpikir, rupanya benar kata ayah ketika itu.

Biasanya, orang-orang desa itu mintanya yang sederhana-sederhana saja“, kata ayah.

Iya benar, sederhana. Sesederhana grapyak (kata saya dalam hati). Tapi apakah hal ini cukup sederhana bagi seorang mahasiswa? Apakah mereka bisa sedikit grapyak dengan warga dalam kurun waktu satu bulan kedepan?

Entah. Namun yang pasti, Bapak Tan Malaka pernah bilang:

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali

***


Mojokerto, 19 Juli 2019

(FFA)