Dikerjai Hidup

Posted by

20190608_040235_0001-01

Realitas sosial adalah hal ihwal yang selalu membully kita“. Itulah kalimat yang saya kutip dari seorang periset sekaliber Mas Hizkia Yosie Polimpung dalam sebuah acara diskusi bertajuk “Tantangan Pekerja Kreatif di Era Disrupsi” yang diadakan oleh Berdikari Book, beberapa waktu lalu.

Saya mengamini kalimat itu lantaran konfigurasinya yang amat terasa belakangan ini. Terutama oleh kami, mantan pentolan Anak Merdeka. Sebut saja Rizal Ceper, Billy Mbombit, Noorca, dan bahkan saya. Saat ngopi di Warkop Sederhana dekat kolam. Malam ini.

Jika diingat-ingat lagi, ketika Anak Merdeka masih eksis — ia amat memberikan pengalaman berharga bagi kami. Sayangnya, pengalaman itu bukanlah pengalaman yang membikin silau mata. Katakanlah seperti menang olimpiade, menjadi juara kelas, menjadi kebanggaan guru atau menjadi idaman para wanita karena masuk osis.

Sebaliknya, kami ialah anak-anak yang, masyaAllah, banyak menguras amarah dari guru-guru kami. Kami ahli dalam bersilat lidah khususnya saat telat masuk sekolah. Kami ahli dalam bersilat lidah, khususnya untuk ‘nyelintung’. Kami pun ahlinya bolos, lompat pagar, dan lain sebagainya. Banyak sekali.

 

Processed with VSCO with a8 preset
Anak Merdeka

 

Saking banyaknya keahlian itu, sampai-sampai kami lupa dengan keahlian utama yang seharusnya kami dapat di sekolah : ahli dalam pembelajaran. Lebih-lebih memahami peruntukan dari apa yang kita pelajari. Jangankan sebegitunya, untuk mengingatnya saja kami sangat kesusahan. Kami luput. Walhasil ketika lulus SMA kami seolah-olah tidak bisa apa-apa. Kami tidak ahli dalam hal apapun.

Parahnya lagi, ketika saya lulus saya kerap dibully oleh orang-orang sekitar. Terutama kami sedang bingung mau lanjut sekolah atau tidak. Saya tentu ingat ibu parkiran pernah bilang begini : “makannya dulu itu sekolah yang bener“. Kalimat itu ia katakan saat saya masih bingung-bingungnya mencari kampus. Tidak diterima disana sini. Saya tentu ingat kata teman-teman yang bunyinya macam ini : “halah kuliah aja, mau negeri swasta sama saja. Daripada nganggur loh“.

Lantaran sudah terbujuk kata ‘daripada nganggur’, akhirnya saya memutuskan untuk lanjut kuliah. Namun bukan berarti fenomena pembullyan oleh realita sosial itu berakhir. Nyatanya, ia lebih kejam. Sebab, untuk berkuliah bagi anak-anak bengal adalah suatu keajaiban baginya.

Loh kenapa kuliah?” , “Loh malah kuliah ini anak“, “percuma kuliah nggak digaji“, dan seterusnya. Itulah beberapa kalimat yang saya ingat betul makin membuat saya bingung. Lebih-lebih ketika saya hanya berkuliah di kampus swasta. Makin salah lagi.

Kuliah itu mbok ya cari yang negeri. Kalau swasta itu susah cari kerja” , kata semua orang.

Di fase ini saya sudah tidak tahan. Oke saya harus punya nilai lebih. Saya terbujuk rayuan (lagi). Bedanya, kali ini oleh para tetua-tetua organisasi. Yang waktu itu saya ingat betul bilang begini :

Ikut ini loh dek. Jaringan banyak. Lembaga intra dari hulu ke hilir bisa kamu kuasai. Kalau lulus pun bisa jadi politisi, pengusaha, dan lain sebagainya”

Hari-hari saya lewati dengan berkuliah dan berorganisasi. Kadang lupa teman, orang tua bahkan nyaris lupa diri. Sampai hari ini. Ketika saya ngopi bersama Billy, Rizal, Noorca dan Sapek. Pertanyaan kami satu, apa yang akan kita lakukan atau alami pasca lulus?

Noorca, ia cuma bilang bahwa ia akan bekerja di pabrik. Sementara kami, Rizal, Billy, sapek dan saya, astaghfirullah, belum ada gambaran. Aneh padahal jurusan kami spesifik dengan pekerjaan tertentu.

Rizal, ia berkuliah di jurusan pendidikan ekonomi. Kalau mau yang praktis saja, ia tinggal mengikuti pendidikan profesi dan jadi guru. Saya pun begitu. Saya berkuliah di jurusan guru, tinggal ikuti alur diatas, saya pun bakal kerja jadi guru. Sementara Sapek, ia adalah mahasiswa ilmu sejarah murni. Pilihannya relatif lebih beragam. Begitupun dengan Billy dengan jurusan manajemennya.

Sebenarnya, kalau kuliah hanya untuk kerja dan menjadi pegawai sih simpel saja loh. Hanya saja mau kah kita?

Rizal dan saya misalnya, sudah membulatkan tekad untuk tidak menjadi seorang guru. Billy, Sapek dan Noorca pun begitu, mereka enggan menjadi pegawai. Jelas pertimbangan kami ada banyak hal. Salah satunya yakni makin kompetitifnya pasar tenaga kerja yang diperparah oleh jumlah sumber daya manusia yang spesifik dengan pekerjaan kami. Oleh sebab itu wajar jika saat ini banyak alumnus universitas yang bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuannya.

Nah itu, jurusan yang kita geluti sekarang kan nggak bisa menjamin itu. Masa depan kita nggak pasti bol” , celetuk Billy.

Sudah-sudah jangan terlalu duniawi lah” , kata Rizal.

Kami tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Konsentrasi Billy, Noorca dan Sapek terkecoh. Namun tidak untuk saya.

Kita ini sedang dibully habis-habisan oleh kenyataan loh” , kata saya.

Mendengar kalimat saya itu, forum mendadak diam. Namun tidak untuk Noorca. Sebab ia saya kira amat merasakan apa yang saya ucapkan itu.

Benar sekali cuk. Apalagi aku, setiap hari kena semprot dirumah lantaran banyak nganggurnya

Noorca, ia memang tinggal menunggu hari wisuda. Tepatnya bulan September mendatang. Sambil menunggu hari wisuda itu, ia memilih untuk menganggur. Tapi sayangnya ia dikerjai duluan. Dalam periode nganggurnya itu.

Lah iya, masuk kampus negeri karena dibully, ikut organisasi biar ada nilai lebihnya ya kena bully, nunggu wisuda sambil ‘nganggur’ juga dibully, kapan nggak dibullynya?” , jawab saya sambil tertawa.

Mendadak kami tertawa bersama (lagi). Malam ini kami benar-benar merasa dikerjai oleh sebuah realitas. Apa-apa salah. Apa-apa dibully. Seolah-olah mirip lirik lagu mas Iksan Skuter yang berjudul ‘Bingung’;

Belum berhasil dihina, sukses jadi omongan tetangga

Saya lantas berkata : “oh iya ya

Billy menyauti : “Apa? Oalah bol. Ku kira setelah tiga tahun kita nggak ketemu kalian bakal tahes-tahes. Nyatanya tidak

Saya lanjut menjawab. Kali ini dengan bijak. Landasannya lagu Mas Iksan Skuter :

Belum tentu mereka, juarawan-juarawati, siswa berprestasi atau apapun namanya itu juga tidak merasakan apa yang kita rasakan saat ini. Mungkin iya mereka pintar ini itu, hidup teratur dan disiplin, tapi ku yakin mereka ini merasa ada kehampaan dalam hidupnya. Karena jelas mereka tidak punya cerita kenakalan masa muda, atau pengalaman hidup yang penuh adrenaline. Ya sekalipun mereka kini sudah tersebar di berbagai kampus bonafide dengan tawaran pekerjaan yang ada di depan mata” , tutur saya bijak.

Forum mendadak diam. Dan saya terpaksa melanjutkan kata-kata saya begini :

Kelak mereka akan dibully lantaran kurang nakal saat muda

Syafiq, Noorca, Billy dan Rizal tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian Billy menyaut :

Oke. Hidup ini layaknya berjudi brai. Di fase ini, kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kedepannya bagaimana. Semua tergantung kita menikmati saja. Sampai suatu ketika kita memetik apa yang kita pertaruhkan di awal

Oke, mari bertaruh” , tutup saya.

Singkat cerita, pasca itu obrolan berlanjut ke topik pembahasan yang lebih lentur. Kami bercanda, sesekali sambil tertawa-tawa. Tak lama kemudian, pulang.

***

Sidoarjo, 16 Agustus 2019

(FFA)