Hari Kedua : Pak Sugeng

Posted by

20190608_040235_0001-01

Setelah acara Pembukaan KKN bubar, entah mengapa tenggorokan saya terasa gering dan haus. Solusi terbaik dan tidak boleh dihindari ialah pergi ke warung untuk mencari es. Kebetulan, Adly Koordinator Desa itu juga mengajak saya untuk pergi ke warung depan. Sekalian main Wi-Fi katanya.

“Ayo ke warung depan zan. Sekalian main Wi-Fi” , pinta Adly.

Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ajakan itu. Tentu sambil mengajak yang lainnya juga. Barangkali, anak-anak juga sedang gabut dan menginginkan hal yang sama.

“Ngopi, ngopi, ngopi” , ajak saya dengan bengalnya.

Ajakan saya itu mendapat respon positif. Karena setengah dari kawan-kawan KKN saya juga mengiyakannya begitu saja. Biar nggak lama-lama, saya, Adly, Zaki, Edi, Adit dan Aldino seketika langsung hengkang dari balai desa untuk menuju ke warung depan. Dengan berjalan kaki tentunya.

Warung itu bernama D’Korma. Akronim dari Kedai Depan Rumah. Tempatnya sederhana. Pemiliknya ialah seorang warga. Pak Sugeng namanya. Sesampainya kami di kedai, saya langsung pesan es. Janjinya ngopi tembusnya es. Terdengar tidak konsisten memang. Namun mau gimana lagi, masalah minuman itu pilihan. Karena yang terpenting adalah esensinya. Esensi ngopi tentunya.

Zaki, Aldino, Adly dan Adit langsung melingkar untuk bermain kartu UNO. Edi , ia lebih memilih untuk sambung Wi-Fi untuk mengetrol trending video di kanal YouTube. Sementara saya, menulis catatan harian. Kami asik dengan dunia masing-masing. Kadang becanda, tapi tidak sampai berlarut-larut. Canggung. Dan apa obat terbaik dari canggung jika bukan menyibukkan diri dengan dunia masing-masing?

Tak lama kemudian, Pak Sugeng datang menghampiri kami. Tanpa permisi atau apa, beliau langsung duduk begitu saja. Tepatnya duduk di sampingnya Adit.

Seperti biasa, beliau membuka obrolan dengan bertanya asal kampus pun asal daerah. Satu persatu dari kami pun menjawabnya secara bergantian. Setelah semuanya kelar menyebutkan asal daerah, kini Pak Sugeng mulai bercerita tentang masa mudanya.

Darah muda. Darahnya para remaja memang. Singkat cerita, Pak Sugeng, ia merupakan seorang pengembara di masa mudanya. Banyak provinsi yang sudah ia kunjungi. Mulai dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Dan semua pengembaraan ini ia lakukan sendiri. Sebab menurut Pak Sugeng, banyak tidaknya seseorang jelas akan berpengaruh pada berhasil tidaknya sebuah pelancongan. Sebuah acara pelancongan akan berjalan lancar dan terencana jika diikuti oleh segelintir orang saja. Sebaliknya, acara pelancongan akan semakin ruwet jika diikuti oleh banyak orang. Saya pun mengamini pemahaman itu. Beberapa faktanya pun pernah saya alami sendiri ketika saya masih di Kopi Backpacker. Dulu sekali.

Pak Sugeng, ia mulai bercerita bahwa dirinya sudah pernah daerah kampung halaman Adit di Situbondo. Mereka berdua saling bertanya. Pak Sugeng, ia tipikal pelancong yang gemar menetap di tanah orang. Ia bercerita bahwa ia pernah ke Situbondo, Banyuwangi , Yogyakarta, bahkan Bali selama berbulan-bulan.

Tak hanya itu. Ia pun banyak bercerita tentang pengalaman hidup yang ia dapat dari semua itu. Antara lain mendapatkan teman, seni bertahan hidup dan lain sebagainya. Semua pengalamannya ia ceritakan secara cuma-cuma. Tentu dengan khusyuknya yang berbusa dan berasap-asap lantaran sambik merokok.

Saya hanya diam. Sekali mengangguk-ngangguk sambil berkata ‘nggeh’ sebanyak-banyaknya. Diam di bibir bukan berarti diam di hati kan?

Dalam hati saya, saya berpikir bahwa semua yang dikatakan orang ini memang benar adanya. Saya yang dulu, bukan saya yang sekarang. Saya dulu adalah pelancong tulen. Oke kami memiliki kesamaan dalam hobi. Tapi percayalah, kami sungguh berbeda dalam hal orientasi.

Pak Sugeng, ia adalah pelancong yang benar-benar ingin mencari pengalaman hidup lewat aktivitas ini. Sementara saya, saya hanya pelancong-pelancongan. Orientasi saya hanya mendaki gunung atau sesekali mengunjungi daerah wisata. Tidak lebih.

Meski berbeda dalam hal orientasi, percayalah, saya pun banyak mendapatkan apa yang juga didapatkan Pak Sugeng dari tanah pelancongan. Dari tanah pelancongan, saya banyak mendapatkan teman. Tak terkecuali, seni bertahan hidup. Dan pengalaman itu sangat banyak. Tidak mungkin saya ceritakan disini. Tapi percayalah, saya sangat ingin menceritakan itu semua. Barangkali di lain kesempatan.

Hari mulai malam. Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB. Adit mengode agar kita semua bergegas untuk kembali ke Balai Desa dan beristirahat. Kami semua mengiyakannya tanpa terkecuali. Kebetulan Kedai D’Korma pun akan segera tutup. Keputusan untuk balik boleh jadi tak bisa dihindari.

Sebagai penutup saya mengucapkan banyak terimakasih pada Pak Sugeng. Terimakasih telah membuat saya kembali muda. Kembali berpikir untuk kembali ke jalan itu. Jalan mencari sebanyak-banyaknya pengalaman hidup.

Saya sudah cukup lama pensiun. Sudah cukup lama berpetualang dalam alam pikiran. “Buku adalah jendela dunia” , saya percaya. Melalui buku, saya bisa membayangkan padatnya Kota New York, indahnya Copa Cabana atau kuatnya atmosfer romantisme di Air Terjun Di Trevi, Roma. Tak hanya itu, melalui buku, saya juga bisa mengerti kultur sosial masyarakat Amerika, Eropa dan lain-lain.

Banyak hal.

Tapi ingat, kalau semua itu bersumber dari buku, maka semua itu hanya persepsi dari penulisnya. Dan semua persepsi itu belum tentu mengkonfirmasi keseluruhannya secara objektif. Bisa jadi cuma setengah-setengah, atau bahkan, tidak pernah. Oleh karena itu saya harus merasakannya sendiri. Menjilat tanah dan kultur sosialnya barangkali.

Saya tidur dulu.

***

Mojokerto, 17 Juli 2019

(FFA)