Hari Kedua : Kata dan Suasana

Posted by

20190608_040235_0001-01

Acara pembukaan KKN pun dimulai. Bertempat di Balai Desa Payungrejo, pukul 19.00 WIB. Tak terlalu semarak memang. Layaknya acara formal umumnya, pembukaan itu hanya dihadiri oleh orang-orang penting di desa. Antara lain, Kepala Desa, Kepala Dusun dan juga Dosen Pembimbing Lapangan.

Kami hanya berharap agar adek-adek bisa membuat program yang bertujuan memajukan desa. Namun yang terpentingnya lagi, semua dusun harus dilibatkan di dalamnya“, kata Pak Lurah saat memberikan opening statement.

Kalimat itu disambut tepuk tangan oleh para hadirin. Tak terkecuali, saya. Selanjutnya, tibalah waktunya Adly selaku Koordinator Desa untuk memberikan sambutan.

Jadi disini pak, pertama-tama kami semua akan mengimplementasikan apa yang kami dapat dari perkuliahan untuk diterapkan di desa” , jelas Adly.

Kata implementasi terdengar keren memang. Bahasanya anak kuliahan. Namun jelas cukup kaku jika kata itu digunakan dalam kancah pergaulan orang-orang desa. Terdengar asing namun seketika merubah suasana. Buktinya, forum yang tadinya luwes, tiba-tiba menjadi kaku. Nggak ada guyon-guyonnya.

Jadi begini pak buk. Mulai besok kami minta tolong agar kami dilibatkan secara penuh dalam kegiatan-kegiatan yang ada di desa” , tutup Adly yang makin membikin Pak Lurah nampak bingung.

Kata penutupan itu lagi-lagi dibalas dengan cukup meriah oleh tepuk tangan para hadirin. Meski dengan memasang muka datar. Tidak se-ekspresif tadi. Saat pak lurah memberikan sambutan.

Lanjut, kata sambutan disambung oleh pak dosen. Suasana yang sempat kaku, kembali luwes. Sebab, pak dosen lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa. Tentu sambil diselipi celetukan yang siap mengocok perut para hadirin di tempat. Konon katanya, dosen ini memang ahli dalam hal ‘begejekan’. Orang Mojokerto tulen. Wajar, ia paham bahasa dan minat guyonannya orang sini.

Itulah kekuatan kata. “Kata adalah senjata” macam yang dikatakan oleh Subcommandante Marcos. Kalimat itu tebukti. Tertarik atau tidaknya seseorang, tak hanya bergantung dari pembawaan, mimik atau intonasinya dalam berbicara. Melainkan juga dalam hal memilih dan memilah kata.

Karena itu, glosarium seorang mahasiswa haruslah kaya. Bukan cuma kaya dengan istilah-istilah akademik yang secara bunyi maupun makna, serba njelimet itu. Melainkan juga kaya akan glosarium orang-orang desa. Glosarium yang hanya bisa didapat lewat interaksi dengan orang-orang desa. Satu hal yang saat ini sangat penting tapi tidak diajarkan di bangku-bangku kuliah.

***

Mojokerto, 17 Juli 2019

(FFA)

IMG_20190717_194011