Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, Mira Widjaja

Posted by
IMG_20190807_004317-01
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Namanya Maria. Ia merupakan gadis piatu. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Pasca ibunya meninggal, Maria hanya tinggal bersama ayahnya : Pak Handoyo.

Dari SD sampai SMP, Maria disekolahkan di rumah atau homeschooling. Ia hanya disekolahkan di sekolah umum ketika memasuki bangku SMA. Karena terlalu lama menghabiskan waktu dirumah, Maria sempat dianggap aneh di sekolah. Maria, ia dibully oleh teman-temannya. Namun kejadian itu tak terlampau lama. Meski, bullying yang dilakukan oleh teman-temannya itu hanya sebatas perkenalan.

Maria, ia merupakan gadis yang berbakat. Karena hal itu, ia amat mudah disenangi di sekolahnya. Semua anak yang dulu pernah berbuat jahat kepadanya, akhirnya mau berteman dengannya. Meski beberapa diantaranya masih menganggap Maria sebagai gadis yang aneh. Tertutup dan kaku dalam pergaulan zaman.

Karena itulah lama-kelamaan ketenaran Maria makin menjadi-jadi. Saking tenarnya, ia kemudian dilirik oleh seorang anak laki-laki yang dikenal cukup nakal di sekolahnya. Anak laki-laki itu bernama Guntur. Maria dan Guntur boleh jadi ibarat langit dan tanah. Atau paling kejam, air dan minyak. Sebab, perbedaan diantara mereka boleh dikata cukup jauh.

Pak Handoyo, ia merupakan seorang pastur yang amat terkenal di lingkungannya. Sudah jelas, ayahnya selalu giat mengajarkan ajaran agama kepada Maria. Sebaliknya, Guntur merupakan seorang anak konglomerat. Apapun yang diinginkannya, pasti bisa ia dapatkan. Keluarganya pun bisa dikatakan jauh dari ajaran agama. Bahkan bisa dikatakan mereka adalah seorang ateis.

Guntur menyukai Maria. Berbagai cara ia kerahkan untuk satu tujuan : menakhlukkan hati Maria. Tapi bukan Maria jika ia takhluk begitu saja. Maria, ia tetap takut pada Guntur. Masih enggan berdekatan dengannya. Karena itulah pendekatan Guntur ke Maria boleh dibilang cukup lama.

Layaknya air yang bisa melubangi batu, begitulah upaya Guntur melubangi hati Maria. Perjuangan Guntur yang setengah mokad pun kesampaian juga. Maria mulai tertarik pada Guntur. Meski awalnya sempat main-main, selanjutnya mereka berdua saling jatuh cinta.

Sayangnya, untuk bersatu dalam sebuah ikatan dengan Guntur tentu Maria harus memutar pikiran berkali-kali. Sebab dari kecil, ia memang sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang biarawati. Untuk menjadi seorang biarawati, jangankan bergaul dengan lawan jenis, sesama jenis saja tak boleh.

Maria merasa dilema. Di fase ini, ia ingin hidup bebas macam anak SMA pada umumnya. Di sisi lain, ia tak ingin mengecewakan ayahnya. Ayah yang otoriter dan selalu menyeru agar Maria kembali memfokuskan diri untuk menjadi seorang biarawati.

Tidak kuat dengan pikiran yang membebaninya ini, ia akhirnya pergi ke Suster Celia. Maria, ia banyak mencurahkan isi hatinya kepada suster itu. Puji syukur, Suster Celia amat mengerti apa yang dirasakan oleh Maria. Meski amat disesalkan, Suster Celia tidak bisa berbuat lebih jauh, selain menjadi teman curhat Maria.

Suatu hari, kejadian tak mengenakkan datang. Ayahnya mengetahui bahwa selama ini Maria telah masuk terlalu jauh dalam pergaulan zaman. Ia tahu semua hal tentang Maria di sekolah. Mulai dari aktivitasnya, siapa teman-temannya, tak terkecuali soal kedekatannya dengan Guntur.

Ayah Maria terpaksa menegur Suster Celia. Disinilah semua sejarah mengapa Maria hendak dijadikan seorang biarawati itu dipaparkan dengan jelas. Dulu, ibu Maria adalah seorang calon biarawati. Namun ia gagal lantaran ia menikah dengan Pak Handoyo (ayah Maria). Pak Handoyo memaknai bahwa pernikahan mereka itu merupakan pencurian apa yang menjadi milik Tuhan. Dan jalan satu-satunya yang menurut Pak Handoyo benar adalah, menggantinya dengan hidup Maria.

Guntur dan teman-temannya yang tidak sepakat dengan tingkah laku ayah Maria pun terpaksa menyembunyikan keberadaan Maria. Tepatnya di rumah Elsa. Dan saat itulah, ayah Maria akhirnya mendatangi Guntur yang saat itu bersama dengan Gatot. Guntut, ia diinterogasi sambil dihajar habis oleh ayah Maria. Gatot yang tidak tega melihat hal itu, mengambil pistol dan berniat menembak Pak Handoyo.

Tak menunggu lama, Gatot langsung menarik pelatuk dari pistolnya. Naas, tembakan itu malah menyasar dada Guntur. Sebab, ia berusaha menghalangi tembakan itu agar tidak mengenai Pak Handoyo. Guntur dilarikan ke rumah sakit, kritis, dan menuju sekarat.

Saat mendengar kabar itu, Maria sempat shock. Bukannya lari ke rumah sakit untuk menemui sang ayah atau melihat keadaan guntur. Maria, ia malah pergi ke gereja. Itu pun tanpa sepengetahuan teman-temannya. Di gereja, Maria berdoa kepada Tuhan. Ia berjanji bahwa ia akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Sebagai gantinya, Maria meminta agar Tuhan menyelamatkan nyawa Guntur. Cinta pertamanya.

Dua belas tahun berlalu. Di momen ini, Maria sudah menjadi seorang kepala rumah sakit. Seorang biarawati. Dan di rumah sakit miliknya inilah iya bertemu dengan ayahnya. Setelah dua belas tahun berlalu. Sayang, di saat pertemuan itu, nyawa ayahnya sudah ada di tenggorokan. Ayahnya meninggal setelah 12 tahun mencari keberadaan Maria.

Selain bertemu dengan sang ayah, di rumah sakit itu pula Maria bertemu Guntur. Setelah dua belas tahun lamanya. Pasca ia mendapati kabar jika Guntur sedang terbaring sekarat di rumah sakit. Sore itu.

Guntur sudah berubah nama menjadi Iskandar. Kini ia sudah bekerja sebagai seorang arsitek. Ia ke rumah sakit itu lantaran jembatan yang dibangunnya runtuh. Memakan banyak korban jiwa. Ia mengenali wajah Maria. Begitu pula sebaliknya. Maria mengenali bahwa laki-laki di depannya itu adalah Guntur. Cinta pertamanya.

Saat pembicaraan diantara mereka dimulai, Maria menceritakan semuanya. Ia menceritakan bahwa di saat Guntur kritis, Maria menghadap Tuhan agar Guntur diselamatkan. Sebagai gantinya, ia akan mengabdikan diri sebagai seorang biarawati dengan meninggalkan kefanaan duniawi. Guntur terkesimah. Sampai-sampai ia berniat untuk tetap bekerja di daerah itu. Tentu agar ia bisa melihat Maria setiap harinya.

“Merpati yang terbang lepas itu kini telah kembali ke sarang. Menjelang petang, dia pulang memenuhi janjinya” — Mira W.

Guntur memang mencintai Maria. Meski tidak dituliskan oleh Mira Widjaja bahwa perasaan itu berbalas, saya yakin, Maria juga masih menyimpan cintanya pada Guntur. Mereka tetap saling mencintai. Akan tetapi kata Mira Widjaja, tidak semua cinta harus diakhiri dengan pernikahan bukan?

Novel ini menarik karena amat mengundang emosi siapa saja yang membacanya. Penggambaran tokoh serta interaksinya nyaris begitu nyata. Ia tak hanya menyajikan lika-liku pergaulan remaja saat ini. Yang umumnya dibalut kenakalan remaja atau percintaan liar. Lebih dari itu. Novel ini memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya peran orang tua dalam tiap perkembangan anak, konsep kepemilikan tubuh secara teologis, dan lain sebagainya. Masalah janji, saya lebih percaya dengan Merpati.