Absennya Milenial dari Pemilu Legislatif

Posted by

jitet-coblosan-547585353.jpg

Oleh : Faris Fauzan Abdi, (Kontributor Gerak Mahasiswa)

Malang, Gerak Mahasiswa – Hari pemungutan menjelang menuju tanggal 17 April nanti. Saat itu, kita bukan hanya melihat wajah Prabowo-Sandi atau Jokowi-Ma’ruf. Melainkan bakal melihat wajah yang sama sekali belum kita kenal sebelumnya. Hal itu dikarenakan pilpres dan pileg saat ini dilaksanakan secara serentak. Pertanyaannya, apakah kita siap untuk mencoblos mereka pada hari itu?

Menyoal kondisi, saya berpendapat bahwa kita belum siap sampai kesana. Pasalnya, sampai hari ini pun kita masih terpaku pada informasi pilpres. Mulai dari perdebatan di media sosial, warung kopi sampai ke bilik kamar indekos semuanya tentang pilpres. Akibatnya kita lupa terhadap pemilihan legislatif. Mulai dari siapa saja sampai bagaimana latar belakang caleg kita saat ini.

Benar saja, beberapa waktu lalu LINE Today merilis bahwa 80% dari 33,265 milenial pengguna LINE Today tidak mengenal caleg. Ironisnya, kondisi yang demikian turut dimanfaatkan oleh para caleg. Terkhusus caleg yang enggan membeberkan data pokoknya kepada publik. Data pokok yang dimaksud disini seperti jenis kelamin, usia, riwayat pendidikan, riwayat organisasi, pekerjaan, status eks pidana/tidak, serta motivasi dan sasaran.

Data KPU menyebutkan ada 2.049 dari 8.037 caleg yang tidak memberikan informasi secara detail. KPU beralasan bahwa data pokok itu bersifat privat. Apabila ia tetap mewajibkan para caleg untuk mengunggah data, maka ia berpotensi terjerat UU Keterbukaan Informasi Publik.

Tanpa alternatif, KPU menyerah dengan dalih yang pasrah. “Biar masyarakat yang menilai caleg yang menutup aksesnya apakah layak untuk dipilih atau tidak.” Bisa dikatakan hal ini cukup berbahaya. Pasalnya, caleg-caleg kita saat ini berasal dari beragam kalangan. Mulai dari kalangan artis, mantan gubernur, bahkan eks napi koruptor. Inilah mengapa data pokok caleg itu penting dikantongi oleh publik.

Pasalnya sebagai bahan pertimbangan untuk memilih caleg yang berkompeten dan berintegritas. Dua faktor itulah kuncinya. Mengingat peran dan fungsi legislatif sangat berpengaruh terhadap proses pembangunan negara. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa lembaga legislatif seperti DPRD, DPR RI, sampai DPD memiliki fungsi legislasi, fungsi representatif dan kontroling.

Tentu kita tidak mau jika pileg kali ini hanya akan mengulang fenomena-fenomena yang sebelumnya. Fenomena itu seperti buruknya kinerja parlemen sampai korupsi massal yang belakangan marak terjadi. Untuk mencegahnya maka pilihan itu kembali kepada para milenial. Apakah ia tetap statis para isu isu pilpres atau mulai mengerakkan diri untuk menyelidiki caleg beserta latar belakangnya.

Terhitung dari sekarang, masih ada sisa dua hari lagi menuju pemilu serentak. Artinya masih ada waktu untuk bergerak bersama dalam mengawal pileg. Sudah seharusnya kita sejenak beristirahat dari isu pilpres dan lebih proaktif lagi dalam mengawal pileg. Saya kira ini bukan tugas yang berat. Apalagi saat ini info caleg tidak hanya tersedia di laman resmi KPU semata, melainkan sudah beredar di berbagai platform.

Sebut saja platform kenamaan pintarmemilih.id, calegpedia.id, dan rekamjejak.net. Namun Ingat, langsung coret caleg dalam karung, eks koruptor dan caleg yang menurut kalian kurang berkompeten. Itulah sedikit dari banyaknya cara untuk mengawal pileg dan demokrasi kita yang makin (tidak) berkualitas ini.

*Tulisan pertama kali dimuat di laman Gerak Mahasiswa pada tanggal 16 April 2019. Dimuat ulang disini semata-mata untuk tujuan pengarsipan.