Menghidupi HUT

Posted by

20190608_040235_0001-01

Hari ini, Senin 05 Agustus 2019 saya berulang tahun. Ulang tahun yang ke-22. Angka yang tidak lagi sedikit. Tak bisa lagi diremehkan. Cukup naif apabila saya harus menyenangi hal ini. Pasalnya, pusparagam ucapan dan perayaan dari orang terdekat hanya akan menagih : kamu bakal ngapain setelah ini?

Terdengar aneh memang. Seolah-olah manusia semata-mata untuk menyelesaikan misinya. Setidaknya meraih apa yang diinginkannya. Manusia terlalu dipaksa untuk berlari dan terus berlari hanya untuk satu tujuan : berlari dan terus menyesuaikan. Mencapai kehidupan yang konon katanya, ‘mentereng’. Aneh.

Wishmu apa?” , kata Ayu.

Pertanyaan itu hanya saya jawab dengan satu kata : hidup. Bukan kehidupan yang mentereng. Melainkan hidup yang sebenar-benarnya hidup. Sebab, saya belum menyadari bahwa saya ini adalah hal ihwal yang hidup dengan sepenuhnya.

Saya ingin jujur. Setiap hari saya masih harus bangun untuk pergi ke bangku kuliah. Bukan karena itu kemauan. Melainkan cuma untuk memenuhi absen. Siang malam bergelut dengan teks seperti membaca majalah, buletin atau menandai headline sebuah koran, nyatanya pun semua itu bukan berasal dari kemauan saya.

Ia tak lebih dari manifestasi dari aktivitas saya yang lain : menulis. Khususnya menulis di media cetak. Meski sudah berulangkali saya gagal. Saya tetap melakukannya. Dan semua itu terus saya lakukan atas nama ego. Ego untuk menulis di media masa. Padahal saya tahu, media mainstream punya seleranya sendiri.

“Yang penting akan selalu kalah dengan yang menarik” — meminjam kalimat Pak Dahlan Iskan.

Saya tak pernah merdeka. Saya tak lebih dari robot atau zombie yang hidup sejak 21 tahun yang lalu. Kini di usia yang ke 22, saya hanya berharap bahwa ‘hidup’ lah yang saya inginkan. Dan salah satu caranya adalah mengubah perspektif. Itulah potongan kalimat yang saya garis bawahi dari novel Mbak Dee, Supernova.

Sebab, sungguh menyedihkan jika kita ini terus berlari namun tanpa sadar kita sama sekali tidak melakukan apapun. Misal dalam hal menulis. Jika saya ini penulis yang tak hidup, saya akan terus menyesuaikan tulisan saya agar sesuai dengan skema pasar milik konglomerasi media. Tentu dengan harap agar tulisan saya itu mampu dimuat.

Sebaliknya, jika saya penulis hidup saya akan menulis dengan gaya saya sendiri. Tentu dengan semenarik mungkin. Itulah yang namanya hidup untik menghidupkan. Dan saya ingin hidup. Hidup menjadi manusia, bukan seperti robot. Manusia adalah makhluk yang harus dinamis pemikirannya. Bukan badannya. Dinamis dalam perspektifnya akan kehidupan.

Hidup ini menyenangkan, tentu saja. Saya beralih dari pemikiran Gie yang memakai ‘ketiadaan’ dalam konsep teologi Buddha. Yang memandang bahwa hidup ini adalah ‘penderitaan’ lantaran ia mengamini bahwa hidup ialah ketiadaan dan akan kembali ke ketiadaannya.

Karena nyatanya banyak hal sederhana dalam hidup yang nyatanya membuat kita bahagia. Membuat hidup kita lebih hidup. Contoh menulis sesuai kemauan. Menghidupkan kemenarikan dari sebuah tulisan. Atau sekedar liburan bersama keluarga di Bali beberapa waktu lalu. Sesederhana membayangkan keindahan Fontana di Trevi di Roma, lewat novel karya Bu Mira Widjaja. Sangat dekat dan intinya, membahagiakan.

Menurut saya, itulah kesederhanaan hidup yang pernah diutarakan dalam sebuah kalimat oleh Oppa Pramoedya Ananta Toer. Atau kalimat “tugas manusia adalah menjadi manusia“, milik Multatuli.

Eh, ngomong-ngomong di umur ini saya kok agak nyastra ya?

***

Mojokerto, 05 Agustus 2019

(FFA)