Hari Kedua : Perbandingan

Posted by

20190608_040235_0001-01

Waktu sudah menginjak sore hari. Yudha, Firli, Tyo dan kawan-kawannya masih berlarian sambil tertawa lepas di Balai Desa. Sementara teman-teman sekelompok saya makin dibuat pusing oleh aksi mereka itu.

“Kira-kira apa senangnya berlarian seperti itu?” , tanya salah seorang teman saya.

Pertanyaan itu saya timpali singkat dengan kata ‘entah’. Tentu sambil melemparkan senyum tipis-tipis. Kelihatan cuek memang. Namun percayalah, saya juga merasa keheranan. Pertanyaan itu tetap saya pikirlan dalam-dalam. Untuk mencari jawabannya.

“Kira-kira apa senangnya?”, tanya saya pada diri saya sendiri.

Buku Jurnalisme Investigasi karya Mas Dandhy Dwi Laksono yang ada dalam genggaman terpaksa saya tutup dulu. Begitu juga dengan buku tulis yang menjadi tempat saya merangkum semua buku yang saya baca. Seketika saya ingat kata sohib saya, Sikai Kananu. Dalam ingatan saya, dia pernah bilang begini :

Cong, jika kamu ingin mengenali sesuatu, maka jilatlah sesuatu itu. Petani misalnya. Jika kamu ingin tahu penderitaan petani, maka jilat tangannya yang hitam legam berkeringat itu

Dahi saya mengernyit.

Masak saya harus menjilat tangan Yudha, Firli bahkan Tyo?

Haha, saya tentu tidak se-polos itu. Intruksi ‘jilat‘ yang dimaksud Fikri jelas tidak sesempit pikiran ini. Kata jilat, ia tidak lebih dari kata kiasan yang maknanya bisa jadi luar biasa luas. Mengingat teman saya Sikai Kananu adalah penyair kondang milik Rumaka. Sehingga wajar jika ia kerap menggunakan kata kiasan dalam kalimatnya.

Okelah, kalau begitu kata ‘jilatlah‘ kini saya ganti dengan kata ‘membaurlah‘. Membaurlah bukan berarti berlarian bersama mereka. Melakukan hal bodoh kemudian mereka kejar dan sebaliknya. Melainkan saya hanya mendekat untuk masuk lebih dalam.

Sekian menit berlalu. Namun tetap saja, saya tidak mendapatkan jawaban itu. Meski sudah berulang kali saya dibuat tertawa oleh kekonyolan mereka. Apa jangan-jangan tawa saya ini timbul lantaran saya tahu mereka tidak akan mendapat apa-apa dari aksi konyol mereka?

Ha, perbandingan“, ide saya muncul seketika.

Sebagai seorang yang sudah berkepala dua, saya tentu menganggap aksi mereka ini adalah aksi bodoh. Sebuah hipokrisi yang tidak akan berujung apa-apa, selain kelelahan. Karena menurut alam pemikiran orang dewasa macam saya ini, semua hal harus sudah terukur dan presisi. Semua hal yang dilakukan harus memiliki nilai yang setidaknya, memenuhi orientasi hidup.

Sebaliknya, mereka, Yudha, Firli dan Tyo serta teman-temannya — tidak akan pernah berpikir demikian. Sebab mereka masih kecil. Mereka belum tahu alam pemikiran. Yang mereka tahu, pokoke ati seneng (meminjam jargon kehidupan Rifki). Jadi wajar jika mereka tetap melakukannya tanpa menghiraukan apa yang akan mereka dapatkan dari aksi-aksi mereka itu.

Loh mas, kok merendahkan begitu sih? Bukankah dalam kurikulum pendidikan saat ini yang sudah tak menerapkan paradigma behavioris ini? Kita sudah nggak boleh menganggap siswa itu bejana kosong?

Bukan begitu. Saya juga bukan penganut Lockean. Nggak seluruhnya membenarkan teori tabularasa dari filsuf liberal itu. Yang perlu dipahami disini adalah satu ; perbandingan. Melalui pengetahuan dan perbandingan kita akan tahu tempat. Dan tahu tempat akan mengarahkan kita pada kebijaksanaan. Adil menempatkan diri.

Coba posisikan saja dirimu menjadi seorang Yudha, Tyo dan Firli. Pasti secara otomatis kamu akan mengetahui apa yang mereka tertawakan. Sebaliknya, jika saja Tyo, Yudha dan Firli sudah seusia kita, pasti ia akan menganggap bahwa apa yang mereka lakukan hari ini adalah hal sia-sia. Hipokrisi yang tak ada habisnya.

Dan ini nyata loh. Kalau tidak nyata, nggak mungkin ada kalimat : ‘maafkan aku yang dulu‘. Kalimat penyesalan yang kerap diucapkan oleh orang dewasa ketika mengetahui betapa hipokritnya sebuah masa kecil.

Tak lama kemudian, Yudha, Tyo dan Firli, tiba-tiba berhenti. Mereka sudah tidak lagi berlarian. Mungkin karena mereka sudah mendapatkan sesuatu yang sia-sia bagi orang dewasa : kelelahan. Untuk mengkonfirmasinya, saya mulai masuk lewat Yudha. Lewat pertanyaan.

Yud, kenapa berlarian itu membuat kamu senang?

Ya gak papa mas. Lumayan dapet dapet capek“, kata Yudha.

Oke Firli, Tyo, Yudha, menurut kalian lebih senang mana, bermain seperti ini atau ngopi bersama, main game online di gadget kalian?

Tyo, yang saya tahu tidak pernah membawa handphone langsung memilih bermain seperti yang dilakukannya tadi. Sementara Yudha dan Firli yang sudah akrab dengan gadget, sebaliknya menjawab bahwa mereka lebih memilih untuk cangkrukan di warung kopi sambil bermain game online gadget. Sambil menepuk jidat, saya bilang :

Sebenarnya dua duanya menyenangkan. Tapi ingat, kalau ngopi hanya bermain gadget, kalian mungkin tidak akan sebahagia ini

Loh kok bisa begitu loh?” , tanya Firli.

Game tidak seperti yang kalian duga. Disana tak ada aksi saling lorot celana atau saling olok nama orang tua seperti yang kalian lakukan tadi. Disana juga tak ada aksi kejar-kejaran seperti yang dilakukan oleh Tyo dan beberapa teman kalian tadi. Kalian hanya dikejar oleh misi di dalam game. Bekerja untuk melengkapi misi. Padahal kalian berangkat ngopi bersama, tapi kebersamaan kalian juga tak akan seperti tadi. Ketika kalian di warung kopi sambil main gadget, badan kalian boleh bersama. Bersama tapi tidak mengobrol. Melainkan saling menundukkan kepala masing-masing

Aksi ini sebenarnya saya samakan dengan apa yang dilakukan Diva dalam novel Supernova karya Mbak Dee Lestari. Terkhusus saat Diva mencoba menjauhkan anak perempuan dari budaya konsumerisme produk kecantikan. Jika Diva cukup menyuruh bocah-bocah yang ditemuinya agar menatap cermin dan berkata : ‘aku cantik’, maka upaya yang juga saya lakukan adalah memberikan mereka petuah. Petuah yang berakar dari perbandingan dan mungkin cukup sulit untuk dicerna oleh mereka itu.

Kendati begitu, saya tetap berharap agar mereka mampu menyerap petuah saya itu. Tentu dengan harapan agar mereka tetap melestarikan apa yang mereka lakukan barusan. Bermain dengan teman sebaya dan mendapat kebahagiaan yang sesuai dengan alam pemikiran mereka.

Seseorang datang dengan membawa bola plastik. Dari kejauhan, ia menantang kami (anggota KKN laki-laki) untuk bermain sepak bola di samping Balai Desa. Koordinator Desa, Adly, langsung mengiyakan tantangan itu. Kami beranjak dari Balai Desa menuju lapangan. Dalam hati saya bergumam :

Rupanya tak semua aktivitas anak kecil itu dibenci oleh orang dewasa. Sebaliknya, tak semua aktivitas orang dewasa dianggap tidak menarik oleh anak kecil

***

Mojokerto, 17 Juli 2019

(FFA)