Hari Kedua : Cita-Cita

Posted by

20190608_040235_0001-01

Cita-cita itu ialah prodak masa depan. Saya, tentu juga anda, boleh bilang bahwa cita-cita kita adalah A. Tapi belum tentu nanti itu terwujud. Bahkan kebanyakan dari mereka malah berakhir menjadi B, C, D , dan seterusnya.

Itulah kekurangan yang paling menyebalkan dari seorang manusia. Mau setinggi apapun alam pengandaian serta pemikirannya, ia tetap makhluk yang terbatas dalam ruang dan waktu.

Manusia memang bisa menjangkau masa depan ingin jadi apa. Namun, ingat, mereka hanya akan mandek di level pengandaian saja. Sementara, Tuhan lah yang berhak menentukannya. Fakta ini, terdengar cocok dengan adagium : “manusia hanya bisa merencanakan, tapi ingat, Tuhan lah yang berhak menentukan“.

Dan rencana-rencana itu, cita-cita itu, tentulah cita-cita yang membahagiakan. Contoh kaya raya, istri atau suami yang cantik/ganteng, rumah mewah, mobil mentereng dan lain sebagainya. Nyaris tak ada yang tidak berbau kemakmuran duniawi. Jarang orang mau bercita-cita (hanya) sesingkat : bermanfaat bagi orang lain seperti kata agama atau pepatah mana pun.

Saya sendiri pernah bercita-cita sebagai seorang Presiden. Tentu dengan pertimbangan yang amat singkat : menjadi orang nomor satu di Indonesia. Tapi itu dulu sekali. Saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Tentu saya juga ingat ketika cita-cita ini pertama kali saya proklamirkan di depan kelas. Saat pelajaran Matematika.

Saat itu saya memang sengaja tidur. Maklum saya lebih suka soal teks daripada angka. Meskipun belakangan saya tahu bahwa angka juga bisa dilihat sebagai bahasa. Namun tetap dengan pengecualian : apakah angka itu secara kuantitatif mewakili setiap kualitatifnya?

Ruwet.

Namun intinya, saya tidur lantaran saya memang tidak pernah tertarik dengan Matematika. Makannya saya tidur. Saya tidur nyenyak sekali. Sampai-sampai kemudian Ibu Guru yang saya ingat betul namanya adalah Bu Diah itu memukul meja saya dengan begitu kerasnya.

He, kamu kok tidur? Cita-citamu mau jadi apa?“, tanya Bu Diah sambil marah-marah.

Presiden bu“, jawab saya dengan spontan.

Bu Diah, bahkan teman-teman saya mendadak tertawa terbahak bahak. Sambil mencubit lengan saya, bahkan, Bu Diah bertanya :

Memangnya nilai PPKN mu berapa?

Saya yang sudah malunya nggak ketulungan, waktu itu hanya menjawab :

Pas-pasan

Lagi-lagi semua warga kelas menertawakan jawaban saya itu. Namun tidak dengan Bu Diah. Ia malah lanjut mengingatkan, atau bahkan membuat saya pesimis :

Jika begitu mana mungkin jadi presiden? Kamu tidak akan bisa menjadi presiden!“, bentak Bu Diah.

Waktu terlalu cepat berlalu. Dan kini, pertanyaan serupa kembali ditanyakan oleh salah seorang anak desa bernama Firli.

Kak Faris cita-citanya jadi apa?

Living for today” , jawab saya secara spontan.

Seperti apa itu?

Selanjutnya saya menjelaskan bahwa saya bukan tipe seseorang yang gemar memikirkan masa depan. Lebih banyak melakukan tanpa harus memikirkan hasil. Firli diam. Nampaknya ia paham akan penjabaran saya itu. Terlihat dari matanya yang kosong dan kepalanya yang sesekali mengangguk.

Bukan tidak punya cita-cita. Tapi biarkan semua usaha saya yang menentukan siapa saya kelak” , kata saya.

Firli hanya mengangguk lagi. Sambil berkata :

“Saya juga belum mengerti apa cita-cita saya”

***

Mojokerto, 17 Juli 2019

(FFA)