Hari Kedua : Jancuk

Posted by

20190608_040235_0001-01

Tak terasa kelompok KKN kami memasuki hari kedua. Hari kedua di desa Payungrejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Sementara fokus kegiatan kami hari ini adalah pembukaan. Lebih tepatnya : Pembukaan KKN Kelompok 59.

Saya sendiri, bangun agak pagi. Sekitar pukul 08.30 WIB lah. Karena, pasca sholat subuh saya memutuskan kembali tidur. Sebab, saya masih kecapekan.

Ketika saya bangun, mata saya terbelalak oleh kehadiran bocah-bocah di Balai Desa. Ramai sekali. Mereka beramai-ramai menyapa saya yang baru bangun tidur.

Kak Faris, Kak Faris” , sapa mereka.

Disamping anak-anak itu, para anggota KKN saya sedang sibuk menata panggung. Pasalnya rencana pembukaan KKN akan dilaksanakan pada siang ini. Menyadarinya, saya segera bangun untuk turut membantu. Dan tak butuh waktu lama, pekerjaan angkat-angkat itu selesai begitu saja.

Karena sudah selesai, akhirnya saya pun duduk di kursi bersama bocah-bocah desa yang jumlahnya, masyaAllah, seabrek itu. Dengan saling bersautan, mereka mengajak saya berbicara dengan ragam topik yang berbeda. Sayangnya, tiap-tiap dari mereka punya ego untuk benar-benar didengar. Walhasil, saya kebingungan untuk menimpali cerita mereka.

Mulut mereka, saya lihat, bercerita dengan komat-kamitnya. Jika saya acuh, maka kata ‘cuk’, atau ‘jancuk’ akan mereka ucapkan tepat di depan muka saya. Haha, saya dalam hal ini cuma bisa tertawa-tawa saja. Melihat pemandangan itu, banyak anggota kelompok KKN saya yang merasakan keheranan. Karena pasti, menurut mereka, bocah-bocah ini terlihat tak punya sopan santun khas Jawa sentris.

Terutama dilihat dari kata-katanya.

Jancuk sampean mas“, kata anak-anak itu.

Saya jawab: “jancuk dewe

Dalam hati saya, sebenarnya semua ini tergantung pada apa yang namanya sudut pandang. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Kota Sidoarjo , sebuah kota yang memiliki kontur sosial yang mirip-mirip dengan Kota Mojokerto, mengatakan bahwa fenomena ini masih terbilang wajar. Wong saya dulu juga begitu. Karena sering bermain sepak bola, memancing, bermain dll dengan anak-anak SMP atau SMA di desa, saya akhirnya banyak meniru tingkah laku mereka.

Termasuk dalam hal ‘misuh’. Bahkan, saya sudah fasih mengucapkannya sejak kelas 3 Sekolah Dasar. Hanya saja bedanya di usia ini penggunaan kata ‘jancuk’ masih sesuai dengan khittohnya.

Kata budayawan sekaliber Emha Ainun Najib, atau kerap disebut Cak Nun — kata jancuk berasal dari kata ‘di-enchuk‘. Artinya, maaf, disetubuhi. Mirip-mirip lah dengan “anjing lu” dalam konteks Jakarta sentris, atau Motherfucker dalam konteks Barat sentris. Hanya saja bedanya, kata ‘jancuk’ memiliki keistimewaan dalam maknanya.

Jadi, menurut Mbah Nun, kata jancuk dulunya merupakan kata yang kerap digunakan oleh orang Surabaya untuk mengutuk orang lain. Tentu dengan serendah-rendahnya. Sebab jancuk dimaksudkan untuk menyinggung kebutuhan paling rendah dari manusia : bersetubuh.

Namun dalam perkembangannya, kata ini lebih umum digunakan untuk melampiaskan kekesalan. Salah sedikit jancuk, apa-apa jancuk, ini itu jancuk. Dan saya dulu memang seperti itu — menggunakan kata jancuk ketika saya marah pada seseorang, bertengkar dan lain sebagainya.

Saking seringnya diucapkan, kata ini, entah mengapa terdengar makin biasa saja. Malah belakangan kata jancuk telah menjadi simbol keakraban antar personal. Khususon bagi daerah Kota Surabaya dan sekitarnya. Boleh dikata, bahwa kata jancuk kini menjadi kata yang wajib diucapkan dalam kaidah pergaulan sehari-hari. Kata ‘cak‘ nggak bakal enak diucapkan, jika nggak pake cuk jancuk.

Dan mungkin, kata jancuk dari anak-anak desa itu, boleh jadi adalah gerbang untuk membuka keakraban yang baru. Agar tidak canggung, sungkan dan lain sebagainya. Bisa jadi kan?

Bisa.

Lagian, kalau kata jancuk masih benar-benar tabuh untuk diucapkan, nggak mungkin Pak Jokowi nggak marah ketika belio di ‘jancuk-jancukin‘ saat kampanye di Surabaya ya toh ?

Ah yasudah lah cuk. Saya mau mandi dulu. Siap-siap pembukaan.

***

Mojokerto, 17 Juli 2019

(FFA)