Hari Pertama : Ilmu itu Netral? (3)

Posted by

20190608_040235_0001-01
Ilmu pengetahuan, memang, terkadang atau bahkan selalu, bersifat tidak netral. Argumentasi itu pertama kali saya dengar dari Bung Sofyan. Saat masih tekun menggeluti metode advokasi non litigasi.

Kedua, pernyataan ini secara tersirat juga pernah saya baca melalui makalah tentang pengetahuan bebas nilai milik James Petras. Atau lebih jauh. Kita bisa membaca beberapa tesis milik Michel Foucault atau Karl Minnheim bahwa pengetahuan itu bersifat politis. Oleh sebabnya, percaya pada netralitas ilmu adalah kekeliruan.

Lantas kepada siapa ilmu pengetahuan berpihak?

Semua orang saya yakin memiliki pandangannya tersendiri untuk ini. Kaum kiri mungkin banyak yang menyebut kalau ilmu pengetahuan saat ini sedang dipolitisasi untuk mempertahankan status quo dari kelas-kelas penindas. Sebaliknya, si kelas-kelas penindas pun mungkin berpikir bahwa ilmu pengetahuan terbilang netral. Dalam artian tidak terkontaminasi oleh muatan-muatan politis tertentu. Oleh sebab itu, penting dikatakan bahwa keberpihakan pengetahuan itu wajib diteliti. Bukan sunnah lagi.

Apalagi mengingat saat ini, zaman sudah menuju perkembangannya yang serba timpang. Jurang si kaya dan si miskin makin melebar, maraknya praktik korupsi, dan lain sebagainya.

Dan saya yakin, penelitian ini, kalau mau objektif — akan memakan waktu yang cukup lama. Tapi tunggu. Sebenarnya, kecenderungan unsur politis dalam ilmu pengetahuan kita itu juga bisa dilihat dari praktik pilah-memilah ilmu pengetahuan yang banyak dipraktekkan di negeri ini. Contohnya saja, yang paling marak adalah ‘ilmu pengetahuan sejarah‘.

Dalam hal sejarah, kita tahu bahwa di negeri ini, atau bahkan di negeri yang lain, selalu mengalami pelintiran berujung pilah memilah. Sejarah versi pemenang, tentu amat begitu mudah untuk diedarkan. Sebaliknya, sejarah versi yang kalah pasti akan disembunyikan, diberantas bahkan kalau perlu, dihapuskan dari ingatan-ingatan kita. Dan inilah yang disebut sebagai praktik pilah memilah itu.

Bentuk konkret dari praktek pilah-memilah pengetahuan itu pun cukup beragam. Ada fakta sejarah yang sengaja disembunyikan, ada juga yang dicekal. Kalau dicekal mah, semua orang, saya yakin sudah tahu. Misal dalam hal tragedi 65.

Film G30/S versi orba yang disutradarai oleh Arifin C. Noer pasti diputar di televisi setiap tanggal 30 September. Namun tidak untuk film versi para ‘korban’ dalam tragedi 65 seperti Jagal, Senyap dan lain sebagainya. Film-film versi korban tragedi 65 itu pasti akan dicekal. Begitupun dengan upaya mendiskusikannya kembali.

Pokoknya yang paling bener adalah sejarah versi orba. Titik.

Sayangnya, praktik pilah memilah itu tak hanya menyasar dunia perfilman. Melainkan juga, prodak literatur. Halah, jika sejarah versi orba banyak beredar di bangku-bangku persekolahan kita, mengapa buku-buku yang berangkat dari versi sejarah yang ‘berbeda’ harus diberangus?

Benar kata Mas Aan dalam tulisan saya sebelumnya. Bahwa, praktik-praktik ini jika didalami, amat bertendensi politis. Dalam hal sejarah, atau apapun, negara kita ini selalu mengalahkan yang satu dan memenangkan yang lain. Sayangnya, itu hanya praktik yang terlihat saja. Sementara praktik politis yang bersifat laten mah nggak kurang ngeri lagi.

Saya boleh taruhan bahwa dari dulu hingga sekarang, praktik ‘menyembunyikan’ fakta sejarah amat santer diberlakukan di negeri ini. Mengenai Sejarah Indonesia misalnya. Tak ada satu pun literatur di sekolah-sekolah yang menceritakan keterlibatan Tan Malaka dalam upaya memerdekakan Republik.

Akibatnya hari ini. Ketika saya memberi pertanyaan kepada Yudha – seorang anak kelas 6 di desa tempat saya berkuliah kerja nyata. Ia tidak tahu sama sekali tentang siapa itu Tan Malaka. Singkat cerita begini, pasca saya ngopi saya memang memanggil salah satu anak yang sedang bermain di Balai Desa tempat saya tinggal. Awalnya saya bertanya:

Yud, sudah belajar soal sejarah kemerdekaan toh?

Iya mas, sudah

Coba sebutkan lima pahlawan nasional hayo

Mmm, ada Sukarno, Mohammad Hatta, Sultan Hasanuddin, R.A Kartini, Imam Bonjol mas. Imam Bonjol karena ada di uang lima ribu hahahah

Pernah kenal Tan Malaka?

Siapa itu mas?

Dia adalah salah satu pahlawan nasional yang jasanya tidak pernah diajarkan kepada kalian. Tidak ada dalam mata uang rupiah lagi. Dia disembunyikan dari mata pelajaran kita”

Kenapa kok disembunyikan begitu mas?

Ndak tau. Besok kalau besar dicari ya alasannya

Obrolan itu lalu berakhir. Namun saya senang ketika Yudha akhirnya benar-benar mempelajari siapa itu Tan Malaka. Karena malamnya, ia sempat berkata pada saya soal daerah asal, bahkan tanggal lahir dari pahlawan nasional kita itu. Cerita ini singkat. Namun setidaknya menunjukkan bahwa terkadang kita harus mengalihkan fokus kita terhadap praktik-praktik penyembunyian fakta sejarah oleh bangsa ini.

Dampak pentingnya mungkin belum bisa saya uraikan disini secara komprehensif. Barangkali di lain kesempatan. Terkhusus, ketika saya sudah menemukan banyak fakta sejarah yang disembunyikan dari diskursus pengetahuan kita. Amin. Semoga saja bisa.

***

Mojokerto 16 Juli 2019

(FFA)