Hari Pertama : Sampai di Desa (2)

Posted by

20190608_040235_0001-01

Fauzan dan kawan-kawan memang belum pulang. Mereka tetap berada di Balai Desa. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Waktu yang seharusnya digunakan mereka untuk tidur siang.

Karena penasaran, saya pada akhirnya bertanya pada si Fauzan ini. Bunyi pertanyaan saya begini :

“Sudah jam dua le, ndak pulang kah?”

“Masih malas mas”, jawab dia.

“Kenapa malas?”

Mendengar pertanyaan itu, si Fauzan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa keluar sepatah kata pun dari bibirnya. Dan percakapan itu terlampau singkat. Karena pada akhirnya, si Fauzan memilih untuk kembali berlarian bersama teman-teman sebayanya.

Karena kondisi yang amat panas, maka saya putuskan untuk mencari kopi. Kebetulan juga hari ini saya belum menenggak secangkir kopi. Tanpa tunggu lama, saya langsung beranjak ke warung di depan Balai Desa untuk mencari kopi. Tentu sambil silaturahmi tipis-tipis.

Warung itu dijaga oleh ibu-ibu. Saya pesan segelas kopi dan diminum di tempat. Alhamdulillahnya bisa. Saat menunggu kopi saya jadi, datanglah Fauzan ke warkop ini. Maklum jaraknya sangat dekat. Tinggal menyebrang.

Fauzan berniat untuk membeli es. Mungkin karena ia sedang haus karena siang ini sedang panas terik. Lanjut, ia duduk bersama saya di pelataran warung. Karena penasaran dengan anak ini, saya lanjut memberikan pertanyaan yang mirip-mirip dengan pertanyaan saya sebelumnya :

Le, nggak pulang ta?” , tanya saya.

Nggak mas, rumah saya jauh. Masih males” , kata Fauzan.

Males kenapa hayo?

Saya males karena saya mesti pulang jalan kaki sendirian

Memangnya rumah kamu dimana?” , tanya saya.

Jauh mas dari sini. Di Arjosari” , jelas Fauzan.

Saat itu, kopi saya lengkap dengan es milik Fauzan tiba-tiba datang. Si ibu-ibu penjaga warung pun, kini, duduk bersama kami berdua. Entah kenapa, Fauzan langsung menyeruput esnya sampai habis dan berlari ke Balai Desa. Untung cuma airnya yang diseruput. Bukan es batu atau, bahkan, gelasnya.

Si ibu yang merasa keheranan dengan tingkah Fauzan, lanjut, membeberkan kisah pilu dari perubahan tingkah laku Fauzan.

Dulunya mas, si Fauzan itu anak yang baik” , kata ibu-ibu itu.

Lah terus kok bisa begini bu?

Dia ditinggal ibunya” , kata ibu-ibu itu singkat.

Mendengar hal itu, pusparagam spekulasi, hampir, bertaburan dalam langit-langit pemikiran saya. Tapi kalau dilihat konteks zaman edan ini, mungkin premis awal yang mendasari fenomena itu adalah faktor ekonomi. Tapi entah lah. Saya emoh menebak-nebak. Takut salah.

Suasana tiba-tiba hening dan anak si ibu-ibu penjaga warung tiba-tiba pamit untuk kembali menuju ke sekolah. Sekolah dasar di samping Balai Desa ini. Ketika si anak sudah beranjak agak jauh dari rumah, si ibu tiba-tiba bercerita :

Lah iya mas, ini tadi anak saya sudah pulang sebenarnya. Tapi karena ada panggilan mendadak dari SD karena ada penerimaan siswa baru, makannya ia saya suruh untuk kembali ke sekolah“, jelas beliau.

Kerja di bagian apa buk disana?” , tanya saya.

Saya tidak tahu juga sih mas. Hanya saja memang saya sering menyuruh dia untuk ke sekolah buat bantu-bantu. Ya meskipun, kadang sampai berjam-jam kerjanya. Tapi siapa tahu sih mas, karena itu kapan-kapan ia bisa menjadi pegawai tetap disana” , jelas ibu-ibu itu.

Saya tak menimpali cerita itu dengan sepatah kata apapun. Malahan saya mikir. Saya mikir kenapa segini susahnya mencari pekerjaan saat ini. Merenggut kemerdekaan sendiri untuk bertahan hidup.

Suasana mendadak hening dan si ibu tiba-tiba kembali bertanya :

Kuliah jurusan apa mas?

Oh saya ya buk, PGSD buk“, kata saya.

Yang seperti apa itu?

Calon guru sd bu. Heheh“, kata saya sambil nderenges.

Oh iya-iya” , jawab belio singkat.

Suasana kembali hening (lagi). Tiba-tiba datang seorang ibu hamil yang diantarkan suaminya ke Balai Desa. Dari percakapan jarak jauh dengan ibu penjaga warung ini, saya tahu, ibu hamil itu hendak menyelesaikan pekerjaan di Balai Desa. Tak lama kemudian, ibu hamil itu masuk ke Balai Desa.

Tiba-tiba, teman-teman saya menyeru agar semua anggota KKN untuk kembali ke Balai Desa. Dalam rangka kerja bakti membersihkan aula desa. Akhirnya, saya berpamit kepada ibu-ibu itu sambil membayar satu cangkir kopi yang sudah saya pesan. Kopi yang mengajarkan saya bahwa kenyataan itu, seburuk atau sebaik apapun — pasti bisa merubah seorang manusia. Dan selama kenyataan itu datang dari manusia, maka ia seyogyanya bisa dilawan oleh manusia.

Si Fauzan tetap giat bersekolah.
Si anak ibu tadi, tetap giat untuk bekerja.

Mendadak, teman-teman Fauzan yang jumlahnya makin banyak itu menyerbu warung. Saya memutuskan untuk duduk sejenak mendengar celotehan mereka. Lanjut, kembali ke Balai Desa.

***

Mojokerto 16 Juli 2019.

(FFA)