Hari Pertama : Sampai di Desa (1)

Posted by

20190608_040235_0001-01

KKN benar-benar dimulai. Mulai hari ini. Tanggal 16 Agustus 2019. Kebetulan, saya ditempatkan di Kota Mojokerto. Di salah satu desa disana. Desa dengan delapan Dusun di dalamnya. Desa Payungrejo namanya.

Saya bersama kelompok berangkat sekitar pukul setengah tujuh pagi. Pagi sekali. Sampai-sampai saya rela untuk tidak tidur cuma karena takut ndak bangun.

Kami berangkat menggunakan bis bagong. Dengan separuh jumlah penumpang. Sementara sisanya, memilih untuk naik motor saja. Toh jarak antara Kota Malang ke Kota Mojokerto relatif dekat. Tinggal lewat jalur curam ‘Cangar’, selesai.

Karena naik bis, kami memilih jalur normal. Lewat tol baru tembus ke tol Pandaan. Lanjut lewat pertigaan ke arah Watukosek lalu menuju ke arah menuju Mojokerto Kota. Tak sampai Mojokerto Kota, kami berhenti di Kecamatan Kutorejo. Lanjut menuju desa penempatan : Desa Payungrejo.

Perjalanan dengan rute tak terlalu rumit tersebut sampai pada pukul 10.25 WIB. Kalau di hitung-hitung, sepanjang tiga jam perjalanan saja. Memasuki desa, kami di sambut dengan hamparan sawah di kanan- kiri jalan. Lengkap dengan para petani yang sedang ‘laut’ di gubuk-gubuk persawahan.

Sayangnya, bis kami terlalu kencang. Sehingga saya tidak sempat memotret momen itu. Setelah menikmati hamparan sawah, kami diturunkan di Balai Desa Payungrejo. Disana, sudah ada Pak Kades dan Bu Kades yang dengan begitu ramahnya sudah menyambut kami. Kami dipersilahkan untuk menunggu kunci dari beberapa ruangan yang akan kami gunakan selama sebulan.

IMG_20190716_094512
Balai Desa

Sambil menunggu, saya sengaja untuk berjalan-jalan mengelilingi Balai Desa. Jujur disini saya merasa takjub dengan desa ini. Saya takjub karena desa ini sangat menerapkan asas transparansi dalam pengelolaan desa. Kecenderungan ini bisa dilihat dari beberapa poster APBDes yang di tempel di beberapa dinding Balai Desa.

IMG_20190716_134327
Transparansi APBDes

Selain takjub kepada tata kelolanya, saya juga takjub kepada keramahan warga masyarakatnya. Saat itu, di Balai Desa ada beberapa anak SD yang sedang bermain. Belakangan nama mereka adalah Fauzan , Reza dan lain-lain. Saya memang tak ada niatan untuk meghafal nama mereka satu-persatu. Karena jumlah anak-anak itu sangat banyak.

Reza, Fauzan dan beberapa kawannya, seolah mengingatkan saya pada masa lalu. Lebih tepatnya masa SD. Jika beberapa anak-anak serombongan saya bilang dulu mereka tidak seperti ini, maka saya berbeda dengan mereka. Saya malah berpikir jika dulunya, aktivitas ini pernah saya lakukan.

Singkat cerita, saat SD sekolah saya sangat dekat dengan Kawedanan. Setiap pulang sekolah, kami selalu bermain di Balai Kawedanan itu. Mulai dari bermain kelereng, lompat tali, jumpritan sampai gobak sodor. Jika orang-orang dewasa pada saat itu melihat aktivitas ini merupakan sebuah keanehan, maka hal itu tidak terjadi pada saya. Saya yang pada saat itu masih seumuran Fauzan, Reza dan kawan-kawan.

Dan saya yakin, Fauzan, Reza dan teman-temannya itu punya pikiran yang sama dengan saya saat masih seumuran mereka. Bahwa dengan aktivitas itu saja, kami bisa paham tentang arti dari sebuah ikatan bernama ‘teman’.

Dalam hal ini, teman yang benar-benar teman. Teman yang manusia. Yang bisa diajak ngobrol, sakit kalau di bully, marah jika celananya ditarik ke bawah. Teman yang sama sekali tidak dijual di toko. Meski sekarang toko menjual apa pun, tapi mereka tak akan bisa menjual teman macam itu. Sama seperti kata Antonie de Saint Exupery dalam novelnya yang paling fenomenal : Le Petit Prince.

Kini mereka, Fauzan and The Gank, sedang berlari-lari sambil terjatuh-jatuh. Seolah-olah, mereka nampak senang dengan kedatangan kami. Entah kawan-kawan saya menyadarinya atau tidak. Yang jelas, saya sangat merasakan atmosfer itu.

***

Mojokerto, 16 Juli 2019

(FFA)