Tanah Rantau

Posted by

20190608_040235_0001-01

Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang
Segera…

Lirik yang epik dari Float dalam lagunya yang berjudul ‘Pulang‘ ini, agaknya, membuat saya cukup melankolis. Apalagi kalau diputar pada saat kita sedang di tanah rantau. Tanah yang ‘konon’ katanya menjanjikan kemahsyuran hidup itu.

Sebagai perantau pada umumnya, saya pasti sama seperti anda. Awalnya, kita semua ini sangat antusias untuk merantau.

Saya dulu sama seperti anda, merantau dengan harap agar nasib saya kelak bisa berubah. Menjadi lebih baik lah intinya. Oleh sebab itu, saya waktu itu agak selektif dalam hal memilih perguruan tinggi. Saya rajin ureg-ureg PTN-PTS favorit lengkap dengan segala macam kualitas yang digambarkan lewat huruf A, B, C dalam kaidag akreditasi. Karena saya percaya, hal itulah yang (kelak) akan mempengaruhi mudah atau tidaknya saya dalam mendapatkan pekerjaan.

Lebih dari itu, karena saya ini orangnya suka dengan hal-hal yang berbau kebebasan, maka saya memang dari awal berniat untuk mencari perguruan tinggi yang jauh dari rumah. Lintas kota bahkan. Tujuannya, agar saya lebih bisa bebas. Lepas seutuhnya dari pengawasan dan kontrol.

Ketika berada di tanah rantau pada awalnya, saya paham, semangat saya amat menggebu-gebu. Saat menjadi mahasiswa baru, saya tak hanya sibuk kuliah. Melainkan juga aktif dalam berbagai organisasi. Dan saya sangat mencintai aktivitas-aktivitas saya di dalamnya. Saking cintanya, kerap kali saya abai terhadap diri sendiri.

Tak heran jika dalam periode ini, saya sering sakit-sakitan. Sering pusing. Tenaga saya habis buat riwa-riwi. Pikiran saya terobrak-abrik karena tuntutan program. Berbicara soal liburan pun, saya tak berhak sama sekali.

Hampir sebagian waktu liburan, saya nikmati dengan bekerja. Jika liburan itu berkisar tiga bulan, mungkin hanya dua atau tiga Minggu saja saya berada di rumah. Padahal rumah saya relatif dekat dengan tanah rantau. Cuma Sidoarjo-Malang. Cuma puluhan kilometer saja.

Mendengar ironi ini, dosen saya sampai pernah berkata :

“Sesekali pulanglah le, dua minggu sekali lah minimal”

Waktu itu, ya, saya kolot. Sampai saya bilang dalam hati : saya bukan burung dara yang suka pulang-pulang ke bekupon (nama Kandang Burung Dara). Maklum awal-awal jadi mahasiswa baru. Apalagi mahasiswa di tanah rantau. Perantau mah bebas to.

Tapi waktu begitu cepat berlalu. Kini, saya sudah menjadi mahasiswa semester tua. Tepatnya semester 7. Hanya tinggal satu tahun lagi saya berada disini. Disini, di Kota Malang.

Semakin mendekati waktu kelulusan sebagai mahasiswa, entah kenapa, saya hari ini makin melankoli. Menyedihkan. Saya di tanah rantau, lebih mudah bosan. Sebaliknya, saya malah makin ingin pulang ke rumah. Tak ada keinginan apapun selain lulus dan pulang ke kampung halaman.

Kendati kenangan satu, dua bahkan tiga tahun silam merupakan kenangan yang paling membanggakan, saya katakan hari ini saya ingin pulang. Saya ingin melihat semua aktivitas yang tersisa saat ini berakhir. Itu saja.

Pasalnya kini, tanah rantau sudah tak mampu menyelesaikan lara. Bukan disini saja. Akan tetapi, saya kira, hal ini terjadi di semua kota. Selain rumah. Seburuk apapun kondisi disana, se-terabai apapun keadaannya, saya yakin yang terbaik tetap rumah. Rumah yang letaknya di pedesaan pinggiran kota.

Karena sekali lagi, kota adalah pertumbuhan dan desa adalah kenyataan (meminjam kata Iwan Fals). Nyata itu senyata sejarah. Sejarah dari zaman nomaden pun hingga sekarang. Bahwa dalang dari semua perantauan adalah ketidakseimbangan kemajuan akan daerah. Kondisi yang umumnya, disebabkan oleh semua bentuk persaingan.

Persaingan dalam berbagai hal. Bukan gotong royong.

Ah saya ingin pulang saja jika tahu begini. Bahkan kalau boleh balik ke masa lalu, saya ingin tidak merantau. Toh seberapa jauh pun kita merantau, setenar apapun perguruan tinggi kita, setinggi apapun kita bersekolah toh ujung-ujungnya jadi pegawai. Jujur, kita hanya mengulur waktu saja untuk itu.

Ah saya rindu kampung halaman jadinya. Disana kita setidaknya akan lebih dekat dengan keluarga. Mungkin juga, menemukan orang-orang yang se-frekuensi. Ah iya, saya ingin pulang. Segera pulang. Jika saya bilang saya mau lanjut merantau ke Kota Yogyakarta, tunggu. Lihat nanti dulu.

Yang penting sekarang saya harus selesai dan segera pulang. Karena kenyataan yang terjadi rupanya lebih nyata daripada pendapat siapapun soal kenyataan (meminjam kata Pram). Lagu Pulang karya Float kini berganti ke lagunya God Bless yang berjudul ‘Rumah Kita Sendiri‘. Anying saya makin baper.

Mas kok betah saja di kampus?” , kata mamang penjaga kopian Enzo Institute.

Pusing palaku ni mas” , kata saya.

Saya marah.

***

Malang, 13 Juli 2019

(FFA)