Bertemu Gay

Posted by

20190608_040235_0001-01
Saya ini memang suka mengasah skill Bahasa Inggris. Meskipun dari dulu sampai sekarang, skill Bahasa Inggris saya masih tergolong rendah dan tidak pernah menuju titik perkembangan yang diinginkan.

Kendati begitu saya tetap ingin belajar. Karena saya tentu mirip seperti anda: ingin berkecimpung dalam dunia internasional. Dan keinginan itulah yang membuat saya pada akhirnya dipertemukan dengan sebuah aplikasi bernama ‘Hello Talks’.

Secara umum, aplikasi ini merupakan aplikasi yang menyediakan ruang interaksi bagi orang-orang di seluruh dunia untuk saling mempelajari bahasa satu sama lain. Jika saya setting bahwa saya ahli dalam berbahasa Indonesia, maka saya akan dipertemukan dengan orang yang berminat mempelajari Bahasa Indonesia. Dan jika saya men-setting bahwa saya tidak ahli dalam berbahasa Inggris, maka saya akan diarahkan kepada seseorang (lintas negara) yang ahli berbahasa Inggris.

Tak lama setelah saya menginstal aplikasi tersebut, saya memiliki banyak teman dari berbagai negara. Ada yang dari Australia, Turki, Amerika, Inggris, China, dan lain sebagainya. Masalah jenis kelamin, saya tidak se-selektif mungkin. Toh tujuan saya juga ‘belajar’. Oleh karenanya, teman saya amat beragam. Ada yang laki-laki maupun perempuan.

Secara keseluruhan, semua orang tersebut memiliki minat yang cukup tinggi untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Begitupun dengan saya, saya memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari Bahasa Inggris mereka. Dalam hal penulisan mungkin kita lebih terpatri pada teks (seperti chatting biasa). Dalam hal pendengaran maupun pengucapan, kita mungkin menggunakan fasilitas voice note aplikasi ini.

Aktivitas interaksi itu berlangsung berhari-hari. Sampai suatu malam ada seorang lelaki asal India yang tiba-tiba ingin berinteraksi dengan saya. Awalnya, ia menyapa saya begini :

“Hi dear”

Dari kata pembuka ini saja, saya cukup curiga. Saya curiga bahwa ia merupakan seorang ‘gay’. Namun kecurigaan ini tidak menjadi satu alasan untuk saya menutup ruang komunikasi. Saya tetap menyapa dia dengan ‘hello sir‘.

Komunikasi kami makin intensif. Sampai-sampai ia bertanya, soal selera seks saya. Pertanyaannya begini : apakah anda suka seks dengan laki-laki, atau perempuan. Dalam hal ini saya jujur bahwa saya memilih untuk menyukai ‘seks’ dengan perempuan. Dan saya akan melakukannya dengan orang yang saya nikahi. Karena saya tetap memposisikan diri sebagai lawan komunikasi yang baik, saya tetap bertanya:

“Bagaimana denganmu tuan?”

Orang India itu hanya menjawab; ‘saya seorang gay’. Saya kaget betul. Rupa-rupanya dugaan saya benar sekali. Bahwa orang ini adalah seorang ‘gay’. Rasa ‘nderedeg’ untuk melanjutkan chat ini tetap ada. Tapi balik lagi, tujuan saya adalah belajar. Jadi saya tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Biarlah, minat seksualitasnya tetap menjadi miliknya.

Toh teman saya dalam sebuah diskusi pernah bilang:

“Begini ya kalau orang gay itu dinikahkan dengan seorang perempuan apakah perempuannya akan bahagia? Begitipun ketika seorang lesbian harus dinikahkan dengan seorang laki-laki? Pasti mereka ujung-ujungnya di siksa dan lain sebagainya. Dan yang paling disesalkan dari itu semua, pasti mereka akan bercerai”

Dengan mengingat kata teman saya itu, saya merasa tenang. Sebaliknya, saya malah makin penasaran dengan orang ini. Saya mengatakan : ‘no problem sir, lets to be a good friend’. Ia sangat senang mendengar kalimat saya itu. Mungkin karena ia tak banyak menemukan seseorang yang mau menerimanya sebagai teman, jika seseorang itu sudah tahu tentang minat seksualnya.

IMG_20190710_194917_253

Karena peduli kepada orang itu, saya sempat memberikan pengetahuan soal bagaimana pandangan orang Indonesia kepada para LGBT, begitupun soal pengetahuan soal seksualitas. Pemahaman itu selesai dibaca. Sayangnya, teks dari saya itu hanya dibaca tanpa ditindaklanjuti sebagai bahan pengetahuan. Sebaliknya, ia malah terlihat terangsang dan bertanya:

“Seumpama anda adalah seorang gay, gaya seks yang seperti apa yang akan anda suka?

Sebagai seorang laki-laki yang menyukai perempuan, pertanyaan ini terbilang aneh. Di satu sisi, secara proporsional obrolan ini sudah mengarah ke domain privasi saya. Oleh karenanya waktu itu saya menjawabnya begini:

“Waduh maaf , saya adalah seseorang yang suka dengan perempuan. Masalah gaya seks, itu privasi saya tuan”

Disini dia meminta maaf balik kepada saya. Saya pun memaafkannya. Tapi sayang, pasca itu, ia memblokir akun saya. Fotonya mendadak hilang. Dan notifikasi chat saya ‘delay’. Eman sekali. Padahal saya mau tahu lebih dalam mengapa ia menjadi seorang gay. Saya mau tahu alasannya. Namun apa boleh buat. Semuanya sudah berlalu.

Kendati begitu, dari kisah ini saya menyimpulkan bahwa ia hanya ingin mencari teman gay yang mungkin bisa melayani hasrat seksualnya. Ia tak benar-benar menggunakan aplikasi ini sebagai medium untuk belajar berbahasa. Disinilah saya merasa kesal.

Pertama, saya kesal lantaran ia tidak memahami fungsi aplikasi ini. Kedua, saya kesal lantaran perilakunya ini seolah menunjukkan bahwa ia tidak serius dalam menjalin sebuah pertemanan. Baginya, hanya orang yang bisa melayani hasrat seksualnya sajalah yang bisa jadi temannya.

Sekesal-kesalnya saya, saya tentu tetap merasa kasihan. Bahkan, saya sempat berpikir, mungkin karena kontur sosial yang menghakimi selera seksualnya lah yang membuat ia melarikan diri ke dunia maya untuk mencari kepuasan. Entahlah.

Dua hari kemudian, saya bertemu seorang senior yang mungkin bisa saya jadikan sebagai partner diskusi. Orang itu adalah Mas Rahmat. Nama panggilannya : Master Yhonk. Ia adalah seorang aktivis, pengamat politik, dan agamawan tulen.

Diskusi kami berjalan lama. Bahkan sampai nyerempet ke peta ideologi dunia berujung teori konspirasi. Namun tetap dengan fokus yang sama: membahas fenomena LGBT. Mas Rahmat tetap tidak sepakat jika LGBT ‘ada’ di Indonesia.

Sementara saya, masih mikir-mikir. Jika saya berpatok pada ajaran agama, mungkin saya juga tidak sepakat. Namun jika ditinjau dari rasa kemanusiaan, mungkin saya bisa sepakat. Apalagi dalam DUHAM hak atas orientasi seksual dan identitas gender sudah benar-benar terlegitimasi. Bahkan, sudah ada Komisi Internasional tentang Hak Asasi LGBT di bawah naungan PBB untuk melindungi Hak Asasi Manusia para LGBT ini.

Saya pusing. Dan okelah saya ambil domain kemanusiaan pisau bedah dalam diskusi yang makin kolot ini. Dari semua argumen yang dikaitkan dengan perkembangan sejarah, kami sepakat untuk melihat fenomena LGBT sebagai suatu fenomena yang harus disikapi. Namun tidak dengan nalar-nalar yang menstigma.

Melainkan, what next? Lalu apa? Apakah kita hanya mengutuk, menolak, mencerca bahkan mendiskriminasi mereka saja? Seperti yang dilakukan mayoritas orang selama ini?

Mas Rahmat, ia hanya bisa berkata kita harus merangkul mereka dari situ kita mungkin bisa memberikan pemahaman soal seksualitas. Di lain sisi, treatment.

Jujur, saya sepakat dengan argumentasi ini. Bahwa kita seharusnya merangkul mereka dan memberikan pengetahuan soal seksualitas. Bukan malah menganggapnya aneh , mencaci, menghakimi bahkan mendiskriminasi mereka ‘cuma’ karena orientasi seksualnya berbeda.

Sebab, kita harusnya bisa melihat sejarah. Selain itu, melihat bahwa di era serba ketimpangan ini, semua fenomena bisa terjadi. Dalam konteks LGBT misalnya, seorang lesbian pasti punya alasan mengapa ia lesbian. Begitupun dengan Gay. Seseorang pasti memiliki alasan mengapa ia gay.

Bisa jadi karena faktor hormon. Bisa jadi karena ketimpangan gender dalam konteks sosial politik. Bisa jadi, seorang lesbian mungkin merasa bahwa laki-laki adalah musuh karena budaya patriarkinya. Bisa jadi seseorang menjadi gay lantaran takut akan budaya matriarki.

Semuanya bisa jadi. Dan itu sebabnya, semua akademisi, praktisi, agamawan dan lain-lain harus meneliti fenomena ini secara komprehensif. Bukan hanya mencerca, memaki bahkan mendiskriminasi mereka. Karena di fase inilah, sudah saatnya ‘seksualitas’ bukan dianggap sebagai sesuatu yang tabuh. Melainkan, ia harus dianggap sebagai sesuatu yang penting untuk diajarkan sejak dini.

Dan semua subjek dalam lingkungan sudah waktunya untuk mengambil peran. Mulai dari keluarga, masyarakat sampai institusi pendidikan. Oleh sebabnya, saya senang ketika Ayu, pujaan saya itu mengambil judul soal ‘sex education’ bagi anak-anak. Saya sendiri berharap judul itu bisa diterima. Harapannya, agar masyarakat semakin terbuka dalam melihat fenomena-fenomena ini.

***

Malang, 01 Juli 2019

(FFA)