Pengabdian

Posted by

20190608_040235_0001-01

Kalau tidak salah mahasiswa itu punya yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian. Domain pendidikan mungkin selesai di bangku kuliah. Sementara penelitiannya dalam bentuk makalah, jurnal ilmiah, atau karya ilmiah.

Intinya semua karya yang teorinya boleh melangit. Akan tetapi sampel beserta metode pencariannya cari yang singkat-singkat saja. Tembakannya, biar tugas penelitian cepat selesai dan nilai cepat keluar.

Kini disaat mahasiswa memasuki usia tua, mereka-mereka ini diwajibkan untuk melaksanakan tugas pengabdian. Bentuknya bermacam-macam. Tapi kalau dihubungkan dengan kegiatan kampus, bentuknya ada dua: Magang dan KKN.

Jika awalnya mahasiswa hanya dikurungi oleh pagar-pagar kampus yang tinggi dan digembleng dengan teori, kini mahasiswa harus dipaksa untuk memberikan ide dan gagasan guna membangun masyarakatnya. Singkatnya, jika penelitian itu ada pada level praktis, maka masa pengabdian adalah waktu dimana mahasiswa bisa menerapkan ide dan gagasan di level praksisnya.

Namun, lantaran sering dikurungi dengan tembok kampus yang, masyaAllah tingginya bermeter-meter itu tak jarang mahasiswa yang kehidupannya hanya bergelut di level kampus itu bingungnya bukan main. Bagaimana tidak, ia yang selama ini hanya dijebak dengan lingkungan yang hanya berisi absen, tugas yang menumpuk, dosen, sesama rekan mahasiswa kini dipaksa untuk kembali bergelut dengan masyarakat. Apalagi masyarakat desa yang ada di plosok-plosok.

Mahasiswa jelas bingung. Kadang juga gengsi. Bahkan saya yakin mereka akan gemetar ketika bertemu dengan masyarakat. Masyarakat yang bukan (hanya) berbeda dengan mahasiswa dalam aktivitas kesehariannya saja. Melainkan juga rupa, pemikiran juga bahasa.

Hal ini tentu pernah saya rasakan. Tepatnya dua tahun yang lalu. Saat masih bergelut di dunia pengorganisasian warga. Saat pertama kali bertemu dengan warga, wuih saya tak menyangkal bahwa saya gemetar hebat. Bahkan, saya juga kesusahan dalam hal memilah-memilih bahasa. Saya ndredeg total.

Namun alhamdulillah karena sudah keseringan, kebiasaan ndredeg atau bahkan gengsi itu hilang. Di satu sisi, karena pengalaman itulah saya pada akhirnya nggak bingung- bingung buat menyusun program kerja. Terlebih karena saya adalah pengopi ulung. Tempat ngopinya pun relatif berada di kasta terendah dunia perkopian : kedai kopi dan warung kopi.

Pengalaman dalam berinteraksi dengan pengemis, pengamen, peracik kopi atau bahkan orang-orang yang tidak kenal seolah sudah menjadi kebiasaan rutin. Sampai suatu ketika, dengan tanpa direncanakan, saya bertemu seseorang yang dimana orang itu adalah mantan pekerja kantor pemagangan di kampus saya.

Pertemuan itu terjadi di Enzo Institute. Saat saya hendak pulang ke Sidoarjo untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dari interaksi yang tercipta, rupa-rupanya beliau adalah mantan jebolan UMM. Kerja satu tahun dan hasil tabungan gajinya digunakan untuk kuliah. Niat awalnya di Universitas Brawijaya, namun pada akhirnya ia ditakdirkan Tuhan untuk menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Tepatnya di jurusan Kesejahteraan Sosial (Kesos), Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP). Karena saya waktu itu sedang meresensi Genealogi Kapitalisme, kata dia, Marxisme adalah makanannya setiap hari. Katanya buat tugas mata kuliah.

Tak hanya bercerita soal masa kuliah yang berliku-liku. Beliau juga bercerita soal bagaimana kondisi di Lamongan. Kadang juga bertanya kepada saya soal Sidoarjo. Tepatnya ‘bagaimana kondisi lumpur Lapindo hari ini’. Pertanyaan umum yang saya rasa sudah ditanyakan banyak orang semenjak saya berada disini. Di Kota Malang.

Di akhir-akhir interaksi inilah beliau mengatakan:

“Wes sampean santai mas. Arek-arek warkopan iku nilai KKN’e mesti A”

Yang artinya:

“Sudahlah kamu santai saja mas. Anak-anak kopian (yang suka ngopi), biasanya nilai KKN-nya selalu A”

Waktu itu, saya langsung bertanya kenapa kok bisa begitu. Namun, beliau hanya menjawabnya singkat: nanti kalau kita ketemu lagi. Dan sampai sekarang ini, saya masih belum bertemu beliau. Padahal waktunya sudah sangat mendekati KKN. Sudah pembekalan berkali-kali pula. Padahal kata-kata itu amat memotivasi. Kendati tetap harus dicari lagi alasannya.

Pokok, intinya KKN itu soal pengabdian (titik). Pengabdian yang bukan berorientasi kepada pembangunan fisik, melainkan pembangunan non-fisik. Singkatnya, KKN bukan ajang untuk membangun gapura atau mengecat tong sampah. Akan tetapi fokus yang diambil adalah bagaimana membangun daya mandiri masyarakat dengan ide dan gagasan. Tujuannya, kemandirian desa sebagai ujung tombak otonomi daerah.

Sama seperti yang pernah dikatakan Mas Hafidz, seorang senior dari Kampes (Konfederasi Mahasiswa Peduli Sidoarjo). Mirip-mirip juga dengan apa yang dikatakan Pak Wakil Rektor pada momen pembekalan dan kuliah tamu kemarin.

IMG_20190701_090945.jpg

***

Kamis, 04 Juli 2019

(FFA)