Pegiat Wi-Fi

Posted by

20190608_040235_0001-01

Menjajaki era perkembangan warung kopi kekinian, tak lengkap rasanya jika kita ngopi tanpa paparan Wi-Fi. Kata mamak, kopinya beli lima ribu. Minumnya memakai jurus sruput. Duduknya berjam-jam. Hasilnya tak lama lagi warung kopi itu pasti kukut.

Mamak tak pernah observasi ke Malang. Jadinya ngawur. Karena jujur meski saya tipikal tukang sawer kopian macam yang disebutkan mamak itu, buktinya Enzo tetap tidak bangkrut. Malah makin ramai tiga tahun belakangan.

Karena apa?

Wi-Fi. Ya, Wi-Finya relatif kencang. Meski hanya buat kerja-kerja kreatif macam editing Canva, unggah tulisan di Jurnal Rumaka, upload konten YouTube di Rumaka TV dan lain-lain. Tapi kalau game, masyaAllah, mending jangan coba-coba. Ayahab. Ayahab karena lemotnya minta ampun.

Biasanya kalau Wi-Fi sedang lemot-lemotnya, orang-orang (termasuk saya) akan marah. Seringnya sambil menggerutu begini:

“Ini siapa sih cuk yang lagi donlot bokep?”

“Mas laptopnya mas”

“Ini siapa sih yang streaming?”

Banyak. Banyak sekali pusparagam gerutunya. Namun kalau saya sih paling dominan cuma mikir begini :

Andai orang-orang yang main kartu, ngobrol sama teman, atau aktivitas lain yang non gadget itu mau untuk melepas koneksi Wi-Finya, pasti nggak lemot.

Atau andai semua orang bisa memiliki aktivitas macam saya. Edit pamflet, upload tulisan, editing tulisan, ngeblog, dan ureg-ureg media informasi mainstream. Jika semua orang melakukan hal yang sama, saya yakin, sinyal Wi-Fi Enzo yang se-gaban itu pasti akan memayungi hajat kita semua. Hasilnya tak ada lagi nggerutu. Apalagi berperang.

Karena saya ini orangnya sungkanan, pikiran-pikiran macam itu hanya selesai di langit angan-angan. Dengan tanpa pernah berpijak di lahan perbuatan.

Buktinya, saya tetap membiarkan mereka itu main kartu, ngobrol-ngobrol, dan koprol. Meski handphonenya tetap sambung dengan Wi-Fi. Padahal jelas, semua aktivitas di dalamnya merupakan dalang dari seluruh kelemotan ini.

Karena menurut saya, mau bagaimanapun itu hak mereka. Merek sudah beli kopi. Sudah susah-susah tanya password Wi-Fi. Jadi biarlah. Saya nggak mau cawe-cawe. Jadi saya tidak apa-apa. Selama saya butuh Wi-Fi yang standard-standard ya nggak masalah.

Tapi kalau saya butuh Wi-Fi yang kencang ya.. maaf. Ketimbang saya mengharuskan orang begini-begitu agar hajat semua orang untuk berwi-fi ria itu bisa berjalan, mending saya cari warung kopi yang lain. Kata mamak: bangkrut-bangkrutin yang lain.

***

Sidoarjo, 28 Juni 2019

(FFA)