Politis

Posted by

20190608_040235_0001-01
Buku bacaan habis. Koran-koran menumpuk. Begitu pula dengan buletin-buletin hasil petualangan saya. Baik yang didapat dari masjid maupun, aksi, diskusi maupun dari serikat-serikat buruh. Semuanya sudah habis saya baca tanpa teekecuali. Intinya satu: saya kehabisan bahan bacaan.

Kedai buku di dekat kampus tutup. Kedai buku langganan juga. Tidak ada jalan lain. Pilihan satu-satunya adalah pergi ke Toko Buku Wilis. Kali ini saya bersama si doi: Ayu. Mumpung dia lagi cari buku. Di sisi lain, perasaannya sudah membaik pasca saya tinggal sibuk berhari-hari.

Kami berangkat dari Enzo Institute agak sore. Kira-kira pukul 14.25 WIB. Dan kami sampai di Toko Buku Wilis sekitar pukul 15.10 WIB. Saat itu komplek Toko Buku Wilis sedang sepi-sepinya. Entah karena mahasiswanya sedang pulkam, atau sedang enggan membaca buku.

Tak menunggu lama kami langsung menuju kios Mas Aan. Yang sudah pindah. Yang tidak lagi berada di pojok samping kamar mandi. Melainkan berada di pojok sebelah kanan dari komplek pertokoan.

Alhamdulillah toko Mas Aan sedang buka. Kami permisi masuk untuk melihat buku-buku yang ditata rapi dalam rak-rak. Saat baru masuk, saya langsung menyoroti buku yang ditulis oleh Ernest Laclau dan Chantal Mouffe. Judulnya “Hegemoni dan Strategi Sosialis“. Terbitan Resist Book.

Singkat cerita, saya pernah memiliki buku itu. Hanya saja dipinjam seorang kawan dan entah dimana sekarang keberadaannya. Saya hendak membelinya lagi. Saya taruh buku itu di bangku. Untuk saya beli kemudian.

Selain buku itu, saya juga membeli buku Ideologi Pendidikan karya William O’Niel, Pengetahuan dan Metode karya Michel Foucault, serta Jurnalisme Investigasi karya Mas Dandhy Dwi Laksono. Rencananya, semua buku ini akan saya bawa untuk menemani saya pergi KKN. Selama sebulan.

Begitupun dengan Ayu. Jika di bawa ke toko buku, ia mendadak lupa dengan kosmetik. Ia jadi gila akan buku. Ayu, ia saat itu mencari bukunya Nawwal El Saadawi. Yang berjudul “Perempuan dalam Budaya Patriarki”. Namun sayang sekali, buku tersebut sudah sold out. Yang ada cuman: Perempuan di Titik Nol.

Selain buku Nawwal, Ayu juga berminat membeli buku Vanda Nashiva. Seorang tokoh pencetus Eco-Feminism asal India. Selain buku itu, jujur saya lupa.

Kendati begitu, dapat disimpulkan bahwa Ayu sedang haus akan referensi mengenai Feminisme. Sayangnya uang Ayu terbatas. Sehingha Ayu harus memilih salah satunya saja. Lanjut, ia memilih untuk mengadopsi buku Perempuan di Titik Nol karya Nawwal El Saadawi saja. Lainnya, tidak jadi ia ambil. Ia kembalikan tiga buku itu ke rak buku.

Kendati begitu, dengan sok-sokannya, Ayu mencoba mencari refrensi soal Sex Education buat anak-anak. Karena kebetulan, judul skripsi Ayu tentang tema itu. Dan sepertinya, Mas Aan tahu buku apa yang cocok untuknya. Mas Aan, ia memanjat kursinya, dan mengambilkan buku yang spesifik dengan judul skripsi Ayu itu.

Untuk judulnya, saya lupa. Namun buku itu kata Mas Aan adalah ‘Best Seller’ di masa kejayaannya. Sebab, kata Mas Aan buku itu tidak hanya mengajarkan bagaimana mendidik anak-anak tentang ‘Sex Education‘ secara praksis-metodis saja. Melainkan juga secara praktis-teoritis.

Keunikannya adalah terletak di cerita-cerita pengalaman penulis dalam melakukan pemberdayaan soal ‘Sex Education‘. Baik kepada anak-anak, maupun kepada orang dewasa. Melalui pendidikan dengan pendekatan andragogi dan pedagogi kritis. Menarik.

Namun kata Mas Aan, buku itu sulit dicari. Apalagi kalau memakai jasa platform e-commerce kekinian macam BukaLapak atau Shopee. Sebab, dalam judul buku tersebut ada kata yang tabuh: ‘Seks’.

Buku-buku yang ada kata-kata nyeleneh macam itu, pasti kena banned mbak. Tau-tau saldo kita yang dipotong

Keanehan ini, kata Mas Aan, tidak hanya menyasar buku-buku macam itu. Melainkan juga buku yang terkait Komunisme, Terorisme dan lain-lain .

Mesti kena blok mas. Tidak tahu kenapa. Mungkin ada unsur politis dibalik itu” , kata Mas Aan.

Dalam hal ini , saya tiba-tiba ingat penyitaan buku di Kediri. Oleh militer. Tak hanya di Kediri, melainkan juga beberapa tempat di Indonesia. Tidak percaya? Cari sendiri. Lanjut, saya menanyakan hal itu kepada Mas Aan.

Pernah kena sita mas? Misal seperti di Kediri beberapa waktu lalu. Itu politis sekali loh

Oh iya itu, pernah mas. Saya pernah di razia. Waktu itu saya masih berjualan buku keliling di Demak. Kebetulan, saat itu ada festival buku. Jadi saya hadir disana. Namun naas mas, lapak buku saya di datangi oleh orang kejaksaan. Ia mau menyita beberapa buku saya” , cerita Mas Aan.

Waduh, terus bagaimana mas?” , tanya saya lanjut.

Kalau kejaksaan kan boleh mas, tapi kejadian di Kediri itu nggak boleh. Seharusnya bukan orang militer yang turun, tapi kejaksaan. Putusan Mahkamah Agung kan begitu. Namun unik cerita saya ini. Ketika orang kejaksaan mau mengambil buku saya, saya buka pasal-pasal soal larangan itu. Dan saya nemu kalau mereka salah sasaran mas

Salah sasaran begimana mas?”

Dalam pasal itu, yang ditulis adalah mereka harus mengkonfirmasi ke penerbit. Bukan pedagang macam saya. Dari frasa hukumnya itu loh mas disuruh ke penerbit. Bukan ke saya

Hahah, lalu mas?

Buku saya dibeli untuk dibawa ke kejaksaan mas“, jawab Mas Aan.

Saya hanya diam waktu itu. Saya takjub dengan orang ini.

Lah gimana mas, saya memang bukan orang hukum. Tapi karena saya membaca soal hukum, jadi saya paham itu semua” , imbuh Mas Aan.

Hahah, membaca adalah melawan nggih pak ?” , gurau saya.

Nah itu mas. Lagian kita ini kan cuma pedagang. Untuk buku, kita juga kulakan mas. Kulakan itu juga memakai uang. Masih saja di cegah-cegah” , kata Mas Aan.

Tak lama setelah itu, Mas Aan pun pamit. Katanya, ia mau menjemput anaknya yang pulang sekolah. Saya dan Ayu, menotal semua buku yang kami beli. Kami dapat diskon Rp 10.000 per buku. Jumlah buku kami ada empat. Tiga buku saya, dan satu bukunya Ayu. Total harga yang kami bayar seluruhannya yakni Rp 234.000.

Kami pergi meninggalkan Toko Buku Wilis. Di jalan saya membuat kesimpulan bahwa negara memang suka melihat masyarakatnya bodoh. Tapi beruntunglah mereka yang mau belajar dan membaca. Beruntung, karena mereka sangat susah untuk diplokotoi negara lewat aksi-aksinya yang politis.

Eh iya lupa, saya tidak jadi beli bukunya Ernest Laclau dan Chantal Mouffe.

***

(FFA)