Jadi Burung

Posted by

20190608_040235_0001-01

Pagi ini saya makan di warteg nasi pecel di pinggir jalan. Di depan Villa Sengkaling, Kota Malang. Dengan keadaan yang tidak menentu. Dibilang sakit iya, sehat ya iya. Tapi yang pasti: saya dalam keadaan risau.

Letak warteg itu, kebetulan pas ditengah-tengah warung kopi Mbah Di dan penjual burung keliling. Menunya cuma nasi pecel. Kendati begitu lauknya beragam. Saya sendiri pesan nasi pecel dengan lauk bali telor dan dadar jagung. Minumnya teh hangat.

Minuman yang konon orang dulu bilang: Jack Danielsnya Indonesia itu.

Setelah memesan, saya duduk sambil bermain gadget. Tak lama setelah duduk, makanan saya datang. Karena lapar, nasi itu saya santap dengan lahap. Setelah berdoa.

Sambil makan, pandangan saya kini tersita pada lapakan bapak penjual burung. Yang kebetulan jaraknya sangat dekat dengan meja dimana saya makan. Tapi ingat. Bukan burung bapaknya loh.

Burung burung itu asik gacor. Merdu sekali. Hanya saja saya kasihan. Sebab, tidak ada sangkar yang hanya ditempati satu burung. Mereka ditempatkan berempat, berenam dalam satu sangkar. Sangkar-sangkar yang menurut saya cukup kecil itu.

Saya dalam hal ini, tentu tidak kuat membayangkan bagaimana jika saya ada di posisi burung-burung itu. Sendirian dalam sangkar sekecil itu saja, saya mungkin sudah sumpek. Apalagi berdua, berenam, bahkan bersepuluh.

Sayangnya, burung berbeda dengan manusia. Berbeda fisik iya, rupa iya, bahasa apalagi. Saya yakin tak ada manusia yang tahu soal mengapa ia gacor. Selain Nabi Sulaiman.

Si burung tetap saja gacor dengan komat-kamit. Kali ini makin keras. Mirip manusia yang sedang teriak-teriak. Sebab, mereka masih dipanaskan. Padahal waktunya sudah memasuki siang hari.

Saya menebak, pasti diantara burung-burung itu ada yang ingin lepas karena kepanasan. Makannya gacor seperti orang berteriak. Namun kita tak paham maksudnya. Lah wong yang terdengar di kuping cuma ‘cuit – cit-cit, atau ngok-ngok’.

Wajar si pelapak menganggapnya biasa saja. Seperti para penikmat burung. Ia, si pelapak tetap saja ‘stay cool’ dan begejekan dengan istrinya. Di bangku kayu. Di depan burung-burung itu.

Betapa malangnya burung-burung ini. Sampai-sampai saya sempat mengandai: andai burung itu bisa berbicara dan kita semua (manusia) bisa mendengar semua kemuakan mereka. Atau boleh jadi, mereka bakal mengatakan bahwa mereka bahagia lantaran mereka, selama ini, tak susah-susah mencari makan ?

Entah. Menjadi burung memang susah ditebak.

Tapi ayah saya pernah bilang agar anak laki-laki itu harus bisa jadi burung. Yang katanya, wajib terbang sejauh mungkin. Tinggi yang setinggi mungkin. Katanya biar mendapat pengalaman hidup yang banyak.

Ayah sepertinya lupa dua hal.

Pertama, ia lupa kalau laki-laki sudah dilahirkan berburung. Kedua, ayah lupa belajar soal anatomi burung. Namun sebagai anak, baiklah. Saya akan jadi burung. Tapi burung apa lah yang spesifik dengan harapan ayah saya ini ?

Perkutut? Pipit? atau Elang?

Entah lah. Burung apapun mah bebas. Asal bukan burung di balik celana. Ehm, saya keselek bali telor.

Malang 23 Juni 2019

***

(FFA)

One comment