Curang Berujung Indonesia

Posted by

20190608_040235_0001-01

Malam ini saya potong rambut. Di pangkas rambut Cak Bogel. Pangkas rambut andalan dan langganan di Tanggul, Wonoayu Sidoarjo. Saya gabut karena saya mendapat antrean paling akhir. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.46 WIB.

Tapi ya sudahlah. Saya tetap menunggu. Nayamul karena disini, di pangkas rambut Cak Bogel kebetulan ada televisi. Mending lah ada hiburan. Terutama sebagai teman menulis catatan saya.

Saat itu, yang sedang di pantengi Cak Bogel adalah kelanjutan Sengketa Pilpres 2019. Biasa, sengketa antara keluarga besar pemenangan paslon nomer satu dan nomer dua. Di Mahkamah Konstitusi. Lah sengketa milenial yang tergabung dalam ‘Front Mencekam’ (Menjadi Cebong dan Kampret) ?

Sedang dalam proses ikhtiar di MT (Majelis Twitter).

Jujur ini adalah momen pertama saya menyaksikan sidang yang tak ada bedanya dengan ludruk tersebut. Menariknya, dalam satu kejadian ada penjelasan saksi dari ponakan Prof Mahfud MD. Hairul Anas Suaidi namanya. Belio mengatakan bahwa dalam pelatihan bertajuk Traing Of Trainers (ToT) yang diadakan oleh TKN, ada satu materi yang monohok menurutnya.

Materi itu intinya membahas :

“Kecurangan adalah bagian dari demokrasi”

Mas Hanas nampak idealis. Ia mengatakan bahwa materi tersebut amat menyalahi nilai-nilai demokrasi. Namun saya sepakat dengan argumentasi pascanya. Entah dari siapa. Sebab saat itu saya sudah digarap Cak Bogel: untuk dipotong. Televisi milik Cak Bogel berada di belakang saya. Sementara itu, tentu leher manusia tidak bisa membelot 180 derajat ke belakang bukan ?

Tanggapan untuk Mas Hanas kira-kira begini :

“Anda diajari teknis, atau diberi pemahaman bahwa kecurangan adalah bagian dari demokrasi ? Karena dua hal itu maknanya berbeda loh”

Kalau tidak salah ingat, Mas Hanas memilih yang kedua. Belio menyatakan kalau tak ada materi yang mengajarkan kecurangan secara teknis.

Ritual pemotongan rambut saya selesai. Cak Bogel kepalanya bergeleng-geleng. Saya yakin ia geleng-geleng bukan karena melihat kegantengan saya dengan rambut saya yang baru itu. Gaya mandarin itu. Cak Bogel, ia geleng-geleng karena mendengar kesaksian itu. Buktinya ia sempat berkata :

“Wes, wes curang tok”, celetuk Cak Bogel dalam Bahasa Jawa.

Tanpa berkata-kata lebih lanjut saya membayar jasa Cak Bogel. Jumlahnya Rp 15.000. Lanjut ketika di jalan saya mikir. Saya mikir bahwa seharunya kata-kata “kecurangan adalah bagian demokrasi” itu tidak elok. Sebab, malah bikin publik makin gaduh.

Akan ada spekulasi-spekulasi liar. Akan ada persepsi-persepsi yang miss. Akibatnya fenomena ‘mencekam’ atau ‘menjadi cebong kampret’ kembali menguat. Ujung-ujungnya Pipel Power.

Seharusnya jika materi itu disampaikan, lebih enak pakai kata ‘Curang Berujung Indonesia’. Karena faktanya, kecurangan di negara ini hampir terjadi di semua sektor. Bukan hanya dalam pesta demokrasi lima tahunan macam pemilu saja.

20190620_034110_0001
Curang Berujung Indonesia

Andai kita ini mampu mengkoreksi diri. Maka akan ketemu kalau kecurangan itu diajarkan, dipertontonkan serta diturun-temurunkan dari kecil. Saat tes, ujian akhir bahkan ujian nasional saja, saya yakin semua orang itu tahu atau pernah curang. Misalnya dengan membeli kunci jawaban, contekan atau ngerpek. Namun apa respon kita ?

Tidak ada.

Itu cuma hal kecil. Sementara hal besarnya ada lagi. Malah kecurangan-kecurangan itu sudah menjadi hal yang dipertontonkan negara kepada publik. Misalnya saja korupsi dan hilangnya tanggung jawab negara.

“Loh itu curang kah?”

“Iyalah mamang”

Mereka kan diamanahi rakyat untuk bekerja memenuhi dan menjamin rakyat mampu berdaulat. Nyatanya?

Korupsi atau fenomena entit-entit uang negara mengurat akar. Minta pemakluman atas buruknya kinerja legislatif karena Pemilu seperti Pak Fadli Zon. Atau melupakan praktik yang memarjinalisasi warga negara seperti yang terjadi pada Alm Marsinah, Alm Cak Munir bahkan yang terbaru : Novel Baswedan. Banyak sekali. Banyak sekali orang-orang Indonesia yang dicurangi oleh negara.

“Kan bukan terjadi di tahun saya ? Jadi saya bisa bekerja tanpa beban dong” , kata mantan tukang kayu yang tiba-tiba menjadi orang yang cukup menyebalkan.

“Kan punya kuasa pak? Why not ?”, celetuk saya sambil membelot ke warung kopi.

***

Sidoarjo, 19 Juni 2019

(FFA)