Saatnya Undur Diri

Posted by

20190608_040235_0001-01

Singkat cerita, saat SMA saya merupakan pegiat alam bebas. Yang hampir setiap bulannya menyisihkan tanggal untuk mendaki gunung, maupun sekedar camping di pantai. Tak hanya itu. Saya juga suka mengunjungi lokasi wisata yang lainnya. Mulai dari air terjun, sampai tempat yang hanya menjadi spot foto.

Di balik itu semua, saya paling anti meminta uang orang tua. Uang saku yang pada saat itu hanya Rp 10.000/ hari mesti saya sisakan Rp 3000/ harinya. Setelah terkumpul selama satu bulan, uang itu saya gunakan untuk naik gunung. Kurang atau tidak, sungguh saya tak peduli.

Sebab, disitulah biasanya kita memiliki teman di jalan akhirnya. Saya kenal Mas Jihad dan Pak Antok di Lumajang, Mbak Kendisa di Probolinggo, Mbak Farah asal Jakarta, dan semua orang yang saya tidak mungkin sebut namanya itu ya lewat pola berpergian saya. Yang selama ini mungkin lebih spesifik dikatakan : slengean.

Lama-kelamaan saya semakin menyukai hobi ini. Dan hobi ini pula yang kemudian mengantarkan saya pada inisiasi untuk mendirikan komunitas kecil-kecilan. Komunitas yang saya harapkan mampu konsen terhadap kegiatan alam bebas.

Komunitas saya yang pertama bernama Taralaya. Seperti biasa, jika ditanya Taralaya itu apa, maka saya akan jawab bahwa ia kurang lebih sama dengan Rumaka (dalam konteks kata). Karena kata Taralaya hanya akronim dari Taruna Himalaya. Komunitas pertama yang saya dirikan bersama Wahyu dengan visi-misi : menakhlukkan seven summits.

Jika dihitung, ekspedisi saya bersama Taralaya masih terbatas tiga kali. Pertama di Gunung Panderman, Batu. Kedua di Komplek Pantai Kedung Celeng, Malang Selatan. Ketiga di Gunung Argopuro, Situbondo. Dan di Gunung Argopuro Situbondo inilah terakhir kali kami berekspedisi. Sebab pasca itu, Taralaya resmi bubar dengan catatan tiga kali ekspedisi dengan tanpa pernah berkumpul dengan komunitas manapun.

Selang beberapa waktu pasca bubarnya Taralaya, saya akhirnya dipertemukan dengan orang-orang baru. Mereka juga sama-sama senang dengan kegiatan di alam bebas. Inisiatif untuk kembali membuat komunitas pegiat alam bebas dalam diri saya perlahan muncul. Ia ibarat lahir kembali.

Saya ingat betul komunitas pegiat alam bebas saya yang kedua ini lahir di Gunung Semeru. Pencetusnya siapa lagi kalau bukan saya, Rizal, Eca, Widhy, Habob dan Boy. Inisiatif ini awalnya sebatas guyonan. Saya pun menyepakatinya sebatas guyonan. Saking guyon dan begejekannya, komunitas itu pertama kali kita sepakati dengan nama : MDPL_69.

Sungguh jangan bertanya mengapa namanya sampai sebegitunya. Sebab nama itu memiliki sejarah yang cukup ‘saru’. Oke, kalau berbicara soal akronim MDPL adalah ‘Meter Di Atas Permukaan Laut’. Lah kalau 69 ?

Ya, 69 hanya ikon posisi berhubungan intim. Tak lazim sama sekali buat nama komunitas.

Pasca berdirinya MDPL_69, kami sangat bergiat untuk terus membabat habis gunung yang ada di Indonesia (dengan mendakinya). Pasca Semeru, kami masih terus melakukan ekspedisi. Kalau tidak salah hitung, kami berulang kali melakukannya. Rinciannya antara lain di Gunung Bromo, Air Terjun Madakaripura, Air Terjun Watu Lumpang, Gunung Lemongan, Gunung Arjuno, Ranu Agung, Gunung Buthak —- sampai Gunung Welirang.

Dari semua itu, kisah yang paling unik yakni kisah ekspedisi kami Gunung Penanggungan dan Gunung Lemongan. Pertama karena Gunung Penanggungan adalah saksi perubahan nama dari ‘MDPL_69’ menuju ‘Kopi Backpacker (nama yang lebih serius). Kedua, karena di Gunung Lemongan kisah kami mendapatkan apresiasi dari komunitas bernama Trackmountain. Ya, kisah pendakian kami di Lemongan pada saat itu sempat mendapat penghargaan sebagai kisah pendakian terbaik se-Indonesia. Meski bukan sejagad raya.

Waktu terus berjalan hingga kami semua akhirnya bermetamorfosa menjadi ‘anak kuliahan’. Kami mayoritas kuliah di tempat yang sama : Malang. Hanya beberapa saja yang berada diluar Kota Malang. Meski begitu, pada fase ini intensitas pertemuan kami baik secara pikiran, maupun tubuh dalam acara kumpul-kumpul mengalami banyak penurunan.

Kami dalam hal ini malah lebih menggunakan sarana komunikasi seluler. Sebut saja LINE dan berbagai macam fiturnya. Karena sudah jarang bertemu, maka disorientasi dari mayoritas anggota Kopi Backpacker pun terjadi. Kendati begitu, harapan saya cukup besar untuk tetap menjalankan komunitas ini. Dalam hal ini saya menyadari bahwa yang saya terapkan adalah salah.

Saya cenderung memaksakan mereka.

Kami semakin tidak bertemu. Sampai pada akhirnya saya meninggalkan grup namun tetap membawa nama Kopi Backpacker di pundak saya. Menjalankannya sendiri ‘tanpa’ meminta pertolongan siapapun. Satu-satunya harapan saya pada saat itu adalah agar nanti ada orang-orang se-visi yang mengisinya.

Saya tetap menjalankan instagram dan juga blognya. Saya tetap berekspedisi, memposting foto di Instagram, bahkan sesekali menyisihkan waktu untuk mengisi blog dan channel YouTube-nya. Dua tahun berlalu. Kini saya memiliki orang-orang baru. Keluarga baru. Wadah belajar baru.

Berawal dari prodak guyonan bernama ‘Enzo Institute’yang kini sudah merger dengan Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka. Dalam nota kesepahaman di awal, sudah saya katakan bahwa saya pernah berusaha mendirikan sebuah komunitas. Namun lagi-lagi saya mengalami kegagalan.

Alhamdulillah, semua orang di Enzo Institute memahaminya.

Hingga singkat cerita, saya sepakat untuk benar-benar mengerahkan pikiran dan tenaga saya untuk wadah ini : Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka. Disini, di Rumaka bukan saja berisi orang-orang baru. Melainkan juga imaji serta harapan yang baru.

Harapan saya satu, saya ingin Studie Club ini besar. Saya ingin orang percaya dengan kemampuan saya. Saya hanya ingin mewujudkan apa yang dicita-citakan Maferanren, adik saya itu.

Dari semua proses yang terjadi, saya juga belajar satu hal bahwa apapun yang dipaksakan itu tidak baik. Itulah yang saya tanam betul-betul untuk bergiat di Studie Club ini, di Jurnal Rumaka. Yang penting adalah berbuat, berbuat dan berbuat. Berbuat dengan tanpa mengharap apapun pada hal yang seyogyanya tak abadi. Sebab, ada waktunya Studie Club ini punya generasi yang akan meregenerasi dirinya.

Orang-orang hebat macam Ayu, Ivan, Fikri, Fathin, Ivan, bahkan Maferanren atau orang-orang biasa macam saya, pasti memiliki batas waktu di Studie Club ini. Ah, tapi jangan terlalu berpikir sebegitunya. Terkesan melow. Yang terpenting saat ini adalah proses, proses dan proses. Berbuat, berbuat dan berbuat. Sebab, memikirkan Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka ini kedepannya bukan malah membikin kita berbuat untuk membesarkannya. Melainkan malah bikin kita takut kehilangannya.

Lalu judul undur dirinya untuk siapa ?

Ya tetap untuk sahabat-sahabat saya di Taralaya dan Kopi Backpacker. Mohon maaf karena kini saya lebih memilih bebas dalam berpikir ketimbang raga. Karena dengan cara-cara itulah saya lebih bisa melihat dunia lebih luas lagi. Tak mengurut, menggerutu bahkan mengamen ketika saya tak mampu bergiat di alam bebas lagi. Mohon maaf pula kepada para pembaca dan penonton laman Kopi Backpacker baik dari blog, maupun channel YouTube. Mohon maaf atas nama pengalaman.

Saya undur diri, saya selalu bangga memiliki sahabat-sahabat seperti kalian. Dan yang saya pahami :

Setiap manusia punya hak yang sama; menentukan sejarah dan nasibnya. Dalam bersikap, berkerja, dan berkarya sesuai cita dan rasanya” — Om Mike, Marjinal.

Sidoarjo, 14 Juni 2019

***

(FFA)