Rekayasa Hidup

Posted by

20190608_040235_0001-01

Pernah sesekali seorang teman saya bernama Ivan bertanya pada saya. Isi pertanyaannya itu begini :

“Ris, apakah kamu tidak lelah hidup seperti ini?”

Pada waktu itu, jawaban saya sukup singkat, padat dan jelas. Kalau tidak salah ingat, saya waktu itu hanya menjawabnya begini :

“Tidak, bagiku aktivitas kita ini cukup menyenangkan”

Tanya jawab itu singkat saja. Tak ada obrolan yang lebih lanjut. Jujur, menurut saya jawaban saya waktu itu cukup munafik. Sebab terbukti, pertanyaan itu sampai hari ini masih kerap terngiang dalam memoar saya. Ia biasanya akan muncul tatkala saya berada di titik terendah maupun sewaktu saya akan melakukan sesuatu.

Disaat saya ada di titik terendah kehidupan, misal ketika tulisan saya tidak dimuat atau sedang konflik dengan beberapa orang, jawaban yang paling sering saya kemukakan adalah : iya, saya lelah. Hal itu juga terjadi pada saat saya akan melakukan sesuatu. Misal saat meneropong masa depan, atau misal ketika saya berbuat yang ‘bukan’ untuk diri saya sendiri.

iya saya lelah, karena masa depan itu bias’

Itulah intinya. Bahwa kelelahan dan segala bentuk keterasingan dalam hidup adalah berasal dari ketidakberdayaan kita sebagi makhluk dalam konteks ruang dan waktu. Kita sama sekali tidak bisa merubah masa lalu yang kelam. Apalagi menjangkau masa depan yang bias. Tapi kita masih saja terus dipaksa untuk melakukannya. Padahal, kita sendiri tentu paham bahwa saat ini kondisi sosial ekonomi dan politik di negara kita seperti apa kan ?

Kita ini kadang terlalu terpacu untuk terus melaju dengan ‘kencang’, bukan atas dasar keyakinan masing-masing. Melainkan dorongan dari luar. Bagaimana tidak, kita selalu dihadapkan pada persoalan kebutuhan hidup, sementara kondisi negara saat ini, seperti yang kita tahu carut-marutnya : mengurat akar.

Medium buat sejahtera dipersempit. Persaingan dalam berbagai bidang dibuat. Dengan harapan agar mampu menghasilkan beberapa pemenang yang mampu mendorong kemajuan negara. Ingat, cuma beberapa. Bukan mencakup keseluruhan seperti dongeng ‘kerakyatan’ kita.

Ironisnya, kita sendiri kerap mengikuti rekayasa itu. Kita ini, selalu memikirkan kesempitan akan peluang hidup. Sampai-sampai tak jarang pada akhirnya hal itu membuat kita bukannya malah terpacu. Melainkan semakin terasing dan merasa lelah.

Padahal yang kita tahu bersama bahwa semua kesempitan itu, yang membuat kita resah itu, adalah celah yang menjebak kita dalam kerja-kerja yang ‘tentu’ makin memenjarakan kita lagi dan lagi. Sebab, pekerjaan-pekerjaan itu sejatinya menjebak kita untuk kembali kerja sebagai ‘pegawai’. Yang taat pada jam, kehadiran, relasi upah minimum, dan lagi-lagi tekanan dari pak bos.

Jangan munafik karena jadi mawapres atau apa. Lihat saja, saat SD, SMP, SMA, S1 sampai S-Campur, kita sering mengutuk hal-hal itu. Kita ini selalu sambat akan absen. Kita ini selalu sambat kalau ada kedisiplinan jam dan lain-lain. Masih mau terjebak dalam kondisi itu lagi ?

Pak Dahlan Iskan melalui situs blognya disway.id, dalam artikelnya yang berjudul ‘MasyaAllah‘ pernah mendiktum bahwa proyek Indonesia Emas 2045, proyek penyerapan tenaga kerja baru itu terkesan : kelamaan. Oleh karenanya, ia harus dipercepat sesegera mungkin. Sebab ia mempengaruhi ketercapaian target generasi milenial (katanya).

Dalam hal ini, saya tentu sangat sepakat dengan Pak Dahlan Iskan. Cuma, saya hanya sepakat pada kata ‘kelamaan‘ dan bukan pada kata ‘kecepatan‘. Sebab, kata ‘kelamaan’ ia lebih bersifat jujur dan terbuka. Sementara kata ‘kecepatan’ itu, malah lebih terkesan ilusif.

Kelamaan itu sendiri setidaknya merepresentasikan bagaimana kondisi rakyat di level ‘grashroot‘. Bagaimana sulitnya, betapa mahalnya?

Seperti yang saya tulis di artikel saya yang berjudul ‘Melawan Komersialisasi Pendidikan’, kita tahu, anggaran pendidikan tinggi kita ini kerap dipotong. Meski tidak terlalu signifikan, namun angka-angka tersebut sangat berimplikasi terhadap susahnya akses perguruan tinggi kita. Itu masih sebatas masalah anggaran. Belum menyoroti hal yang lain-lain.

Masalah kecepatan, kenapa saya tidak setuju?

Kalau saya hanya mengutip judul artikel Mbak Gita Savitri, mungkin saya hanya akan menjawab : “Life is Not A Race“. Bahwa hidup (lagi-lagi) bukan soal balapan. Dan ngomong masalah bercepat-cepat ria maka idiom yang tersemat lagi-lagi adalah ‘persaingan’. Pertanyaannya, kapan kita bergotong-royong lagi?

Saya tidak setuju akan kecepatan dengan dasar kelamaan. Kelamaan yang kerap membuat kita ini banyak pekerjaan rumah. Kelamaan yang membikin kita ‘kerap’ mengucurkan air mata untuk saudara kita, sebangsa setanah air kita yang ‘kurang’ dalam taraf kehidupan.

Hegel dalam bukunya ‘History Of Philosophy’ pernah mengutarakan bahwa masyarakat Budha memandang hidup ini berawal dari ketiadaan dan menuju ketiadaannya lagi (dikutip juga oleh Gie dalam bukunya). Pramoedya Ananta Toer juga pernah menulis bahwa hidup ini sederhana, sementara yang hebat-hebat adalah tafsirannya. Mas Puthut EA juga pernah mengandai di dalam blog pribadinya, bahwa jika hidup ini adalah pilihan bebas, ia hanya akan memilih menjadi penulis saja : Seperti saya.

Terlalu banyak. Terlalu banyak orang yang mengajarkan kesederhanaan hidup. Tapi kita, manusia kenapa terus bertahan dengan kondisi macam ini? Terus memikirkan apa yang bias dan kita tahu sangat sempit peluang itu ?

Padahal kondisi itulah yang membikin kita ini pesimis. Membikin kita ini terasing sampai berujung lelah pada hidup. Ayolah, “all in the world as possible“.

Lakukan apa saja yang terbaik. Arungi apa saja yang ada dalam hidup selagi mampu. Dan ingat, jangan pernah mau untuk menjadi pegawai. Jangan pernah mau bekerja pada pekerjaan yang tidak bernilai. Sebab, pekerjaan macam itu adalah pekerjaan yang semakin membawa kita pada tekanan dan kondisi keterasingan. Ya, kondisi yang kerap membuat kita ‘lelah’ pada kehidupan ini.

Jangan menjadi ‘claustrophobia‘. Percaya pada kata hati, perbanyak belajar dan ngopi.

***

Sidoarjo, 10 Juni 2019

(FFA)