Lebaran

Posted by
IMG_20190606_232640_871-01
Suasana Lebaran

LEBAR-an memang bukan SEMPIT-an. Benar kata Bung Bobby bassis band anarko-punk ‘Marjinal’ dan Komunitas Taring Babi, Jakarta itu.

Karena terdiri dari kata dasar ‘lebar‘, maka seharusnya lebaran itu disikapi dengan upaya membuka hati lebar-lebar. Pikirannya juga.

Dan berlebar ria dalam pikiran apalagi hati di hari raya itu cocok. Sebab, dua hal itu adalah upaya untuk menemukan kebenaran tentang umat manusia. Lebih-lebih dalam menemukan hakikat perbedaannya, untuk menemukan tali persatuannya.

Secara otomatis, ketika semua manusia mau untuk berlebar-lebar secara pikiran maupun hati, perang akan berakhir. Perang atas dasar nafsu jasmani dengan label perbedaan pasti tidak akan ada lagi. Lalu selanjutnya, perbedaan akan dirayakan. Sementara persatuan akan diutamakan.

Karena berbeda adalah karunia. Adalah keniscayaan hidup umat manusia. Berbeda dalam berkeyakinan, berpendapat, rupa apalagi pilihan capres adalah jalan. Adalah jalan untuk saling mengenal. Mengenal untuk mengusahakan persatuan. Toh pada awalnya, nenek moyang kita pun begitu.

Nenek moyang kita, dulu dikenal karena karakternya yang terbuka. Ciri khasnya adalah beragam tapi satu. Seperti hapalan kita tiap hari : ‘Bhineka Tunggal Ika‘. Seperti kata sejarawan, Ibnu Khordadbih dalam bukunya : Al-Masālik wal Mamālik.

Sebuah buku yang ia tulis pada abad ke-11. Buku yang menuliskan bahwa watak semua bangsa yang mendiami Khatulistiwa pada awalnya adalah masyarakat yang terbuka (open society) dan egaliter.

Oleh karena itu kita seharusnya mencontoh mereka ini. Bukan malah ke asing-asingan. Bukan malah dengan mudahnya terseret ‘divide et impera‘. Politik pembelahan sosial yang sudah dari dulu menjadi musuh bebuyutan kita.

Ayolah, raih persatuan substantif. Bukan ‘per-SATE-an’ di bawah komando Demokrasi Terpimpin’ —seperti sindiran Bung Hatta kepada Bung Karno. Iya mereka ini memang pernah bentrok karena berbeda pendapat. Tapi apa nyatanya? Mereka tetap satu toh?

Meski Bung Hatta harus mundur dari kursi kepresidenan namun ia tetap mencintai Bung Karno sebagai kawan sohib seperjuangan toh?

Dan itulah persatuan substantif itu. Sebuah persatuan yang mengarah kepada kerja sama. Kepada gotong royong. Bukan gosong bersama. Seperti per-SATE-an. Indonesia itu negara besar yang dikenal dunia karena keberagamannya.

Saat ini, Indonesia masih terlalu banyak PR yang belum selesai. Di masa lalu. Terlalu banyak tantangan dan rintangan yang begitu berat, lagi maha dahsyat di masa depan.

Karena itulah sudah seharusnya kita segera mengusahakan adagium : berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Penderitaan harus segera diusung sama-sama, luka-luka yang mencederai sebangsa kita semua yang harus diangkat, upaya penindasan atas manusia, bangsa, dan negara harus segera dibumihanguskan dari muka dunia. Seperti amanat konstitusi kita yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Jika semua itu dilakukan, maka gemah ripah loh jinawi tak hanya menjadi sebuah dongeng. Bukan kalimat kosong yang tanpa arti. Ia akan benar-benar kita capai dengan mudah. Meski tak bisa ditampik bahwa saat ini, hal itu memerlukan kesadaran kita semua. Seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Untuk mencapainya, kaum beragama bersatulah. Seperti fenomena pemuda berkaos ‘Aku Kancamu’ di Yogyakarta. Bangsa-bangsa bersatulah. Seperti semboyan kita ‘Bhineka Tunggal Ika‘.

Tak lupa, Pak Jokowi dan Pak Prabowo segerakanlah rekonsiliasi. Seperti Bu Mega dan Pak SBY serta pesohor Partai Demokrat yang lainnya. Padahal kita tahu bersama belio berdua ini tak pernah akur sejak peristiwa ‘Kudatuli‘, Kabinet Gotong Royong, bahkan Pilpres ke Pilpres.

Mosok Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang hanya berseteru dalam dua babak ; Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, masih susah buat rekonsiliasi?

Lebaran oh lebaran. Mari ber-legowo ria dalam hati dan pikiran. Sekian pidato tertulis dari saya, nghehe. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Ingat, kita ini banyak pekerjaan rumah. Juga banyak tantangan.

Sidoarjo, 05 Juni 2019

***

(FFA)