Nikahan

Posted by
Screenshot_2019-06-02-21-56-57-072_com.instagram.android-01
Mas Naufal dan Mbak Ida (Dokumen Pribadi)

Hari ini, saya melihat kakak saya menikah dengan perempuan yang dicintainya. Iya, di hari ini. Hari dimana bapak republik Tan Malaka itu lahir. Entah disengaja atau tidak. Namun yang pasti, kakak saya itu sangat mengidolakan Tan Malaka. Terlihat dari buku-bukunya kok. Karya Tan Malaka semua.

Kembali ke nikahan.

Saking kuatnya nuansa pernikahan itu, jujur, saya sempat terbawa perasaan. Perasaan saya, entah mengapa tiba-tiba campur aduk. Ada rasa bahagia, bangga bahkan terharu.

Saya bahagia lantaran kakak pada akhirnya dapat menikah dengan orang yang benar-benar dipilihnya sebagai teman hidup. Di lain sisi, saya bangga lantaran kakak saya pada akhirnya bisa membuktikan bahwa tak ada yang lebih mahal di dunia ini selain keberanian.

Terutama keberanian dalam memegang ajaran agama untuk menentang kebudayaan. Lebih spesifik, kebudayaan yang konon, mengharuskan ‘ini’ ‘itu’ dalam pernikahan. Yang secara khususon mengharuskan apa-apa harus diukur secara materil, apalagi kasta.

Ya, kakak saya memang pemberani. Saat ia duduk di kuade sambil cengar-cengir, saya ingat pertama kali ia menunjukkan keberaniannya. Kejadiannya sudah lama. Saat saya masih duduk di bangku TK. Dan saat itu kami benar-benar masih kecil.

Singkat cerita, saat itu kakak saya tengah diikat di kolong meja oleh ibu. Kakak saya itu, dihukum lantaran tak tahu waktu bermain. Pada saat itu, saya hanya melototinya dengan diam. Dia pun, dengan tatapan yang berani, sama sekali tak menangis. Tatapannya tetap tegar, sekalipun badannya dililit tali.

Ketika ibu saya tertidur, ia memanggil nama saya dengan berbisik. Waktu itu, ia hanya membisikkan :

Jan, gunting taliku. Setelah itu ikut aku pergi lewat jendela“, pintanya.

Ya, waktu itu pintu rumah memang dikunci rapat-rapat. Sementara kuncinya disimpan oleh ibu di tempat rahasia. Tapi jendela rumah kami tetap terbuka lebar. Tak tunggu lama, saya menuruti intruksi kakak saya itu. Dengan seketika, kami bebas keluar sambil tertawa terbahak-bahak.

Lanjut, kami berdua pergi ke lapangan. Untuk apa? Mencari kecebong. Ya kecebong anak katak itu. Bukan para cebong pendukung Pak Jokowi. Selang waktu berjalan kami sangat asyik berenang di air comberan. Dalam rangka mencari kecebong. Walhasil kami dapat kecebong sangat banyak.

Alangkah senangnya.

Hingga tak lama kemudian, kami tak sadar waktu semakin sore. Dari kejauhan, saya lihat ibu mulai berjalan mencari kami dengan wajah yang kalap. Ibu pun menemukan kami berdua. Mau tahu kelanjutannya ?

Ya, kami dikerek sambil dijewer keliling kampung sampai tiba di rumah. Saya menangis geruh-geruh dalam tragedi itu. Sementara kakak saya, seperti biasa, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Selain berani.

Kisah itu singkat. Namun, dari sinilah saya paham bahwa kakak saya adalah seorang yang pemberani. Pemberani pertama yang saya kenal. Saya ingat, ketika ia membela saya dari anak-anak nakal. Terutama ketika saya masih duduk di bangku SD sampai SMP. Percayalah dalam hal ini ia sering memupuk keberanian saya.

Terkhusus dengan selalu memperlihatkan keberaniannya. Sejak kecil, remaja pun ketika ia masuk ke perguruan tinggi. Ketika menjadi mahasiswa ia tetap gigih, bertanggung jawab dan berani. Tak heran jika pengalamannya di bidang organisasi sangat cemerlang. Namun, sebanding lah dengan catatan hitamnya sebagai seorang demonstran.

Harunya saya, entah kenapa sampai detik ini pun dia masih membuktikan bahwa ia berani. Fantastis, dia berani membuktikan cintanya dengan nikahan. Di usia semuda ini loh. Bayangkan saja.

Sampai-sampai membuat saya heran. Dulu, ibu mengidam apa waktu mengandung kakak saya ini. Namun, seheran-herannya saya, jujur saya selalu bangga menjadi adiknya. Menjadi adik dari seorang pendekar. Yang berani, gigih dan yang saya percaya : selalu bertanggung jawab.

Beberapa sikap yang membuat ia menjadi sosok yang saya segani. Meski belakangan ini kami sering tak seirama. Bahkan dalam beberapa kisah, kami ini ibarat air dan minyak. Yang konon katanya sulit menyatu itu.

Namun, saya sangat menghargai dia seperti dia menghargai saya. Dia, kakak saya itu, jujur orang pertama yang mengamini saya menjadi penulis besar. Saat saya mahasiswa baru, saya memang pernah menjuarai sayembara kepenulisan di Komunitas Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) milik mas Lanang di Surakarta.

Saat itu, saking bangganya kakak saya, dia memposting berulang kali e-certificate saya. Tak lupa, ia juga sering menyebarkan tulisan saya. Baik dari mulut ke mulut, bahkan media ke media. Aktivitas itu pun dilakukannya sampai sekarang. Wabilkhusus ketika tulisan saya terbit. Dan saya sangat senang ketika ia, kakak saya yang saya kagumi itu percaya akan mimpi besar saya.

Saya bersemangat. Dan percayalah, dalam menulis, kakak saya adalah sumber inspirasi saya. Kalau di persentasekan, maka persentasenya bisa mencapai 50%. Karena selain ia mempercayai cita-cita saya, kalau boleh jujur ia memiliki gaya tulisan yang unik. Teoritis, sistematis dan tegas. Itulah gaya kepenulisannya.

Banyak hal. Banyak hal yang saya kagumi dari dia ini. Sampai-sampai kalau boleh jujur catatan harian macam ini tak akan bisa memuat intepretasi saya akan sosok kakak saya itu. Namun yang pasti, saya akan menulis kenangan itu dengan lengkap, tak dilebihkan, apalagi dikurangi. Dalam bentuk buku. Ya, memang bukan sekarang.

Tapi nanti.

Biar tidak lupa, nama kakak saya itu adalah Naufal. Sementara istrinya bernama Ida Maria. Dua-duanya mantan aktivis. Menjalin hubungan sejak awal perkuliahan sampai sekarang. Sebagai adik, saya hanya berharap mereka agar terus melekat sampai akhir hayat. Langgeng dan sakinah mawadah warahmah.

Khususnya, saya berdoa dari kejauhan agar mereka tidak menemukan gejolak rumah tangga yang berarti. Baik sekarang maupun akhir nanti. Gejolak berarti seperti kisah roman Romeo dan Juliet karya Shakespeare itu. Atau kisah tragis antara Minke dan Annelies karya Pramoedya Ananta Toer itu. Saya hanya ingin, mereka membuat hikayat mereka sendiri.

Hikayat yang bahagia dari awal sampai akhir dengan baik. Tentu dengan judul nama dan sejarah mereka sendiri.

Pesan untuk kakak, jangan sering ngopi dan pulang malam. Teruslah berani untuk bertanggung jawab sebagai suami. Jadilah kebanggaan bagi orang tua dan adik-adikmu. Salam dari adikmu yang rindu.

Surabaya, 02 Juni 2019

***

(FFA)