Pengemis

Posted by
IMG_20190509_162756-01
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Semua orang, saya yakin pernah bertemu pengemis. Apalagi di Indonesia. Negara yang terkenal akan ketimpangan kekayaan ini. Bertemu pengemis rasa-rasanya sudah menjadi hal yang biasa.

Maraknya pengemis juga berbanding lurus dengan maraknya respon. Satu atau dua kali diantara kita pasti pernah mendengar respon-respon itu. Ada yang berempati, ada juga yang malah menghujat. Ironisnya dengan (tanpa) memberi.

Yang berempati biasanya akan berkata : “Ya Tuhan kasihan sekali orang itu” . Lanjut membuka dompet dan memberikan uang seikhlasnya.

Sementara bagi siapa yang kurang berempati, mereka ketika melihat pengemis akan berkata : “Hati-hati, sekarang banyak pengemis yang berpura-pura” , “mereka loh masih punya tangan dan kaki”, “kita sama-sama masih cari uang” dan berbagai macam alasannya.

Kalian yang mana?

Entah. Tapi ketahuilah baru-baru ini saya bertemu dengan pengemis. Di sebuah ATM : saat akan ambil uang. Beliau seorang ibu-ibu. Sudah tuua pula.

Sesaat memasuki ATM, ibu-ibu pengemis itu bergegas memberi saya amplop. Amplop itu bukan soal pilih nomor 1 atau 2. Melainkan bertuliskan kalimat :

“Minta sedekanya, buat beli makan, terimakasih”

Amplop itu pun saya isi dan kembalikan. Untuk nominal yang saya berikan sih rahasia. Tapi bisa ditebaklah kalau nominalnya kecil. Sebab asalnya pun dari kantong mahasiswa kere macam saya.

Pasca itu, saya kembali meneruskan petualangan berburu takjil. Di jalan saya mikir. Tapi bukan kepikiran soal berapa nominal yang saya kasih. Melainkan berpikir soal pengemis sebagai profesi.

Hampir-hampir mirip lah dengan pengamen. Cuma bedanya, pengamen bekerja untuk menghibur. Sementara pengemis bekerja sebagai pengingat. Pertama, pengingat akan kondisi negara yang abnormal. Kedua, pengingat akan hati kita agar senantiasa bersyukur.

Diantara mereka semua, saya yakin tak berharap agar kelak mereka akan menjadi pengemis. Pengemis, ia hanya profesi alternatif. Sekalipun pada akhirnya pengemis harus menjadi pekerjaan, biarlah ia menjadi pekerjaan. Toh setiap yang bekerja adalah mulia, sementara yang tidak bekerja ia tidak punya kemuliaan (kata Pram).

Apalagi yang saya tahu, pengemis adalah pekerjaan yang merdeka. Mereka tak perlu taat pada jam kerja, tak perlu takhluk pada daftar kehadiran, bahkan tak perlu berlutut pada UMR. Pengemis, ia adalah pekerjaan yang paling merdeka di dunia. Jika kita berani merendahkan profesi pengemis, pikirkan semerdeka apa pekerjaan kita.

Dalam hal ini saya bukannya menyarankan agar anda sekalian menjadi pengemis. Saya hanya ingin beberkan bahwa pengemis saat ini adalah pekerjaan. Tidak lebih. Adanya pengemis artinya ada yang nggak beres sama pembagian kekayaan oleh negara. Jika kita mampu memberi pekerjaan yang layak maka berilah. Jika tidak bisa maka berempatilah.

***

(FFA)