Mahalnya Pemilu

Posted by
Anggaran-pemilihan-umum-paling-mahal-WP.-700x497
Kredit Ilustrasi : moneysmart.id

Pemilu kali ini memang terbilang cukup mahal. Untuk mengiyakannya, yang harus kita lakukan adalah mengukur dua hal. Pertama segi pendanaan, kedua dari segi non-pendanaan.

Dalam aspek pendanaan saja, pemilu telah menghabiskan anggaran negara sebesar 61% lebih tinggi ketimbang pemilu 2014. Jika pemilu 2014 hanya menghabiskan Rp 15,62 Triliun, maka pemilu tahun ini memerlukan anggaran sebesar Rp 25,59 Triliun. Angka ini bahkan membuat Indonesia menjadi negara dengan anggaran pemilu terbesar ketiga di dunia.

Sayangnya anggaran sebesar itu hanya untuk pemilu. Coba uang sebegitu habis digunakan buat mensubsidi rakyat dalam berbagai bentuk. Misalnya mensubsidi rakyat dengan pembangkit listrik tenaga surya. Pasti tidak akan ada film Sexy Killers dan seluruh penderitaan rakyat di dalamnya.

Itu masih dalam segi pendanaan saja. Belum lagi dari segi non-pendanaan seperti dampak sosial sampai korban jiwa yang dikorbankan.

Dari awal masa kampanye sampai sekarang, kita tahu bahwa kita telah mengorbankan sesuatu yang begitu mahal dari bangsa ini. Sebut saja persatuan. Bayangkan, cuma gegara pemilu saja persatuan kita yang termaktub dalam Bhineka Tunggal Ika harus dikorbankan sedemikian rupa. Menjadi dua bentuk : cebong dan kampret. Bahayanya, pembelahan sosial ini masih terus berlaku hingga sekarang.

Tidak hanya itu, yang lebih membuat kita geleng-geleng kepala dan makin membuat pemilu ini kian mahal adalah banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. Mulai dari anggota KPPS, Panwas sampai Kepolisian. Dan korban itu kian bertambah pasca pemilu. Lebih-lebih pasca pecahnya aksi 22 Mei.

Ironisnya aksi itu bukan aksi yang didasarkan pada riak-riak frustasi sosial. Seperti reformasi 21 tahun silam. Akan tetapi, aksi itu digelar (hanya) untuk membela ambisi kekuasaan para elite. Yang dibungkus Mbah Amien Rais dengan nama ‘pipel pawel’. Eman sekali.

Padahal saya pernah menulis bahwa siapapun yang menang, yang kalah tetap rakyat. Se-imajiner apapun janji-janji pilpres yang ‘real life’ adalah kehidupan kita. Sementara yang bisa mengangkat harkat dan martabat kita sebagai rakyat adalah diri kita sendiri.

Andai semua orang percaya akan kata-kata itu. Pasti pemilu hanya akan mahal dari segi pendanaannya saja. Sementara tragedi kemanusiaan yang dilain sisi makin membuat pemilu tampak mahal, pasti tidak akan terjadi.

***

(FFA)