Pak Suef

Posted by
2018-09-06 09.21.16 2-01.jpeg
Pak Suef dengan Baju Koko dan Peci (Dokumen Pribadi)

Namanya Pak Suefendi. Akrab dipanggil pak Suef. Nama itu saya kenal pertama kali lewat forum Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) yang diadakan oleh Malang Corruption Watch (MCW). Sebuah forum yang fokus dalam internalisasi nilai-nilai anti korupsi kepada mahasiswa di Kota Malang.

Saya ingat betul. Sore itu materi di forum adalah Gerakan Rakyat Anti Korupsi. Kebetulan Pak Suef lah yang membawakan materi itu. Materi yang dibawakannya cukup lugas. Pandangan beliau pun cukup luas. Dari raut dan cara bicaranya saja, saya bisa menebak bahwa beliau adalah orang yang berani.

Jujur saya terkesimah dengan hal itu semua. Semua yang dipaparkannya saya catat dengan rinci. Kuping saya, saya pasang dengan baik. Begitu pula dengan mata saya. Sampai tak terasa diskusi sudah selesai. Dan di akhir diskusi, beliau memberikan tips untuk menangkal korupsi.

Mungkin tujuannya agar kelak mahasiswa macam kami ini tidak menjadi koruptor sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan — (Meminjam kata Pramoedya Ananta Toer).

Tips itu berisi himbauan untuk terus mengembangkan empat sifat manusia. Empat sifat itu diantaranya : jujur, mudah mengalah, sederhana dan bersyukur. Dan tips itu, masih saya simpan dengan rapi dalam buku harian saya. Pun saya terapkan sampai hari ini. Meski saya sudah jarang bertemu dengan beliau.

Terakhir saja tahun lalu. Waktu saya mengikuti aksi 1000 lilin untuk merespon korupsi massal di DPRD Kota Malang. Kebetulan saat itu Pak Suef adalah Korlapnya. Iya, beliau adalah koordinatornya. Bukan pemuda/pemudi apalagi mahasiswa.

Aneh kan?

Padah beliau terbilang sudah tua. Rambutnya putih, wajahnya keriput dan suaranya kerap tersendat-sendat. Dalam hal ini, beliau boleh tua dalam fisik. Tapi tidak tua dalam semangat. Karena sampai sekarang hidup, pikiran dan tenaganya masih tetap ia kerahkan kepada aktivisme.

Kabarnya, bukan hanya sekarang. Melainkan sejak ia remaja. Uniknya, semua itu beliau lakukan demi satu tujuan : terwujudnya keadilan.

Dan Pak Suef yang saya tahu adalah orang yang tidak ada henti-hentinya memperjuangkan hal itu. Meski bagi kita semua kaum pemuda/pemudi cita-cita keadilan itu terlalu utopis. Namun hal itu sama sekali tak terjadi pada Pak Suef. Beliau tetap percaya bahwa dunia akan adil pada waktunya.

Itulah gigihnya beliau.

Kebetulan saat ini saya lagi sahur. Lagi asik-asiknya ‘nyete’. Aktivitas yang paling disenangi Pak Suef, selain berdiskusi soal kebijakan publik. Kebetulan hari ini adalah hari Kebangkitan Nasional. Sementara, lusa adalah hari dimana presiden terkorup milik Indonesia — Suharto diturunkan. Oleh gerakan massa.

Disinilah saya tiba-tiba ingat Pak Suef.

Dan saya hanya berdoa dalam hati. Semoga beliau tetap sehat dan panjang umur. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Semoga kita, pemuda-pemudi Indonesia tak pernah lelah untuk terus menjadi martir. Seperti Pak Suef.

***

(FFA)