Trisakti

Posted by
IMG_20180814_071729-04
Universitas Trisakti (Dokumen Pribadi)

Pagi itu saya sedang berada di Kota DKI Jakarta. Lebih tepatnya di Jakarta Barat. Dalam rangka rekreasi. Dari kampus ke kampus, dari lokasi wisata yang satu ke yang lainnya. Tidak lebih.

Kebetulan, saat itu saya sedang menginap di salah satu hotel bintang dua di sana. Hotelnya sangat dekat dengan Universitas Trisakti. Kemegahan universitas ini terlihat betul dari balik jendela. Meskipun masih abu-abu karena tertutup kabut polusi kota metropolitan.

Sambil makan saya sempat mengandai. Andai waktu itu saya nurut pada kakak. Pasti sudah kuliah disitu. Di Universitas Trisakti. Kampus yang punya sejarah panjang itu.

Pada awalnya, ia adalah Universitas Respublika. Dibubarkan tahun 1965 karena dituduh terlibat dalam gerakan Partai Komunis Indonesia. Bubarnya Respublika inilah yang kemudian menjadi awal berdirinya Universitas Trisakti. Nama ‘Trisakti’ ini sendiri berasal dari pemberian Presiden Pertama RI : Dr. Ir. Soekarno. Di tahun yang sama.

Sementara nama itu bukanlah sebuah nama tanpa arti. Bukan sebuah kata tanpa makna. Seperti kata ‘Rumaka’ tanpa akronimnya.

Pasalnya, Trisakti adalah salah satu gagasan yang dicetuskan oleh Bung Karno — selain Nasakom, Pancasila, Manipol USDEK dan Berdikari. Kelima gagasan yang kerap disebut sebut : Panca Azimat Revolusinya Bung Karno.

Sama seperti keempat saudaranya. Trisakti adalah kata yang penuh cita-cita putera sang fajar. Dikutip dari pidato dan beberapa literatur, Trisakti memiliki pengertian bahwa untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan merdeka mutlak memiliki tiga hal : berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi serta berkepribadian di bidang kebudayaan.

Tiga manifestasi yang pada akhirnya bukan hanya menjadi nama universitas belaka. Akan tetapi di pahami dan di pegang teguh oleh setiap mahasiswanya.

Di era krisis ekonomi-politik tahun 1998, sebuah tragedi besar terjadi di Universitas Trisakti. Tepatnya pada tanggal 12 Mei 1998. Tragedi ini dikenal sebagai ‘Tragedi Trisakti’.

Sebuah tragedi yang menceritakan betapa brutalnya angkatan bersenjata pada waktu itu. Sampai-sampai menewaskan empat mahasiswa yang bernama Alm Elang, Alm Mulia Lesmana, Alm Heri Hertanto, Alm Hafidin Royan, dan Alm Hendriawan Sie. Sementara puluhan mahasiswa lainnya luka-luka.

Meski demikian, kasus ini menjadi titik awal kelahiran orde reformasi. Meski yang patut disayangkan, negara selalu suka dengan kebisuan. Ia terlalu mahir dalam bermain rahasia. Ironis, pembunuh Alm Elang, Alm Mulia Lesmana, Alm Hertanto, Alm Hafidin Royan dan Alm Hendriawan Sie tak pernah terungkap hingga sekarang.

Orde baru runtuh sejak 21 tahun yang lalu. Rezim telah berganti rezim. Dan janji hanya berlalu seperti biasanya. Heran. Padahal Pancasila sila kedua dan kelima bunyinya masih sama seperti sedia kala.

Konstitusi UUD 1945 pun begitu. Telah menyatakan bahwa semua orang itu sama di hadapan hukum. Iya sama di depan hukumnya saja. Sementara di balik depan, masih ada belakang. Nah, praktik di belakang hukum inilah yang kerap membuat hukum kita sulit untuk berdiri tegak.

***

(FFA)