Warung Mbah Di

Posted by
IMG_20190428_105950-02.jpeg
Mbah Di Mengaduk Kopi

Warung itu kecil. Letaknnya lima jengkal dari trotoar. Selalu ramai ketika pagi. Selalu sunyi senyap ketika siang. Sementara, malamnya pasti tutup.

Tapi warung ini bukan sekedar warung. Karena di dalamnya, kita bisa menemukan koran mulai dari yang baru sampai yang bekas. Kebetulan saya memang suka cari-cari koran karena saya suka mengkliping informasi. Dan ketemulah saya dengan warung itu.

Warung yang tak punya nama yang khas seperti warung kopi pada umumnya. Sebab, nama warung itu sama dengan nama pemiliknya. Dan pemilik warung itu adalah Mbah Di. Seorang lansia berumur 74 tahun.

Saya memang tak sempat berkenalan dengan beliau. Hanya saja, saya tahu nama Mbah Di lewat driver ojek online. Saat driver itu pesan kopi.

“Mbah Di , kopi biasanya satu” , kata driver ojol itu.

Sampai disini saya percaya nama kakek itu adalah Mbah Di. Tak lama kemudian kopi saya datang. Pun kopi seseorang di samping saya. Disitulah kami mulai ngobrol-ngobrol.

Awalnya, saya hanya mengobrol dengan salah seorang supir asal Madiun. Kebetulan sedang mengantar tamu di hotel dekat warung Mbah Di. Saking asiknya kami mengobrol, Mbah Di pun akhirnya jatuh dalam obrolan itu. Awalnya, mbah Di hanya mengorek-ngorek profesi si supir. Sampai satu ketika pak supir bertanya balik.

“Lah nggeh mbah, sampean niki kok tasek kerjo to? Mboten enak ten nggriya ae kale anak cucu ?” , tanya supir itu.

Dalam bahasa Indonesia artinya begini :

“Lah iya mbah, mbah kok masih kerja sih? Nggak enak dirumah saja ta sama anak cucu?”

Mbah Di cuman tersenyum sambil membakar rokoknya. Lanjut Mbah Di hanya menjawab :

“Selama saya masih bisa bekerja, saya akan terus bekerja, ketimbang merepotkan anak-anak saya”, jawab Mbah Di.

Pak supir belum puas. Ia lanjut bertanya keberadaan anak-anak Mbah Di. Pun seperti apa nasibnya kini. Walhasil pasca itu kami dibuat kaget. Bagaimana tidak, Mbah Di bercerita bahwa anaknya ada lima orang. Empat laki-laki dan satu perempuan.

Lima anaknya itu pun terbilang mapan. Ada yang di Jakarta dan di Gresik. Sementara yang di Kota Malang ada tiga : di Lawang, Blimbing dan Sengkaling. Yang di Sengkaling adalah yang paling bungsu. Perempuan satu-satunya.

Mendengar cerita Mbah Di pak supir langsung geleng-geleng. Ia seperti mati kutu lantaran pekerjaan yang di geluti Mbah Di memang atas kehendaknya. Bukan karena merantau, atau karena di durhakai anak-anaknya.

Disinilah akhirnya saya percaya apa yang pernah dikatakan oleh Ibnu Rusyd. Bahwa kerja merupakan aktivitas yang paling eksistensial bagi manusia. Meski saya agak masygul mengatakannya. Sebab, Mbah Di sudah terlampau tua untuk pekerjaan ini. Ya meskipun ia tidak terikat jam kerja, gaji dan lain-lain.

Beliau adalah majikan. Bukan buruh atau pegawai.

Tapi ya bayangkan saja. Beliau ini sudah 74 tahun. Masih uman jamannya penjajahan Jepang dilanjut agresi militer Belanda. Bahkan ia sempat bercerita soal kesehariannya pada saat itu. Menemani ayahnya yang menjapat sebagai petani di siang hari, dan TKR atau Tentara Keamanan Rakyat di malam harinya. Tapi ya mungkin itulah keunikan warung Mbah Di : penuh akan cerita.

Tak heran jika warung itu tetap ramai meskipun dikepung warung kopi kekinian. Selain menjajakan kopi yang murah sebesar Rp 2500/cangkir, Mbah Di memang suka ngobrol. Katanya sebuah metode mengembalikan warung kopi pada sejarahnya. Bukan seperti sekarang : penjaga sampai pelanggan warung kopi yang sibuk dengan gadget dan aktivitasnya sendiri.

Tak lama kemudian pak supir asal Madiun itu pun pergi. Dan saya tetap ditempat dan berdiskusi dengan Mbah Di. Mulai dari Pilpres yang tak kunjung memasuki rekonsiliasi sampai profesi Mbah Di pada tahun 2000-an. Singkat cerita pada saat itu Mbah Di merupakan penjual barang kerajinan di Sengkaling Kuliner. Seiring berjalannya waktu, ia keluar dari lapakannya lantaran biaya sewa di Sengkaling Kuliner makin meroket dari tahun ke tahun.

Tapi menurut saya ya lebih enak disini sih. Bekerja sebagai penjaga warung kopi yang bebas. Itu yang saya bilang ke Mbah Di. Yang mengagetkan Mbah Di menjawabnya begini :

“Ya iya mas, tapi ya semoga saja warung ini tidak digusur” , kata beliau sambil tertawa sipit.

Sewaktu mendengarnya, saya hanya geleng-geleng sambil menepuk jidat. Lalu menjawab :

“Negara ini memang suka melawak ya mbah? Mata pencaharian pejabat sebagai koruptor paling mentok dikurung selama 2-3 tahun, dendanya paling bisa dibayar sama ndrenges. Eh tapi kalau mata pencaharian kita halal dan tidak ada sangkut pautnya dengan negara, kok bisa digusur selama-lamanya ya?” , kata saya sambil ketawa.

***

(FFA)