Harap Senang Ada Ujian

Posted by
IMG_20190504_112113-01.jpeg
Harap Senang Ada Ujian (Dokumen Pribadi)

Pagi ini saya bangun agak siang. Sekitar pukul 08.20 WIB. Akibatnya saya tidak ikut upacara. Saya menyesal. Sebab, ini bukan upacara biasa. Melainkan upacara Hari Pendidikan Nasional.

Hari kelahiran seorang Soewardi Soerjaningrat atau akrab disebut Ki Hadjar Dewantara. Seorang aktivis pergerakan nasional serta perintis pendidikan Indonesia melalui Taman Siswa.

Jujur eman sekali. Padahal saya ingin mendengar kira-kira apa refleksi konkret mengenai dunia pendidikan saat ini. Yang bagi kita semua pasti banyak dirunding pelbagai masalah. Mulai dari kasus kekerasan, kemahalan, rendahnya mutu, kepunglian dan lain-lain.

Tapi yawes lah tidak apa-apa.

Namun tidak disangka dibalik itu saya malah menemukan hal lain. Hal lain itu berupa spanduk tanda ujian. Sisa-sisa peninggalan ujian nasional sekolah itu. Untuk jumlahnya sendiri ada dua. Terletak di dua tempat yang berbeda pula.

Spanduk pertama berada di luar sekolah, sementara yang kedua ada di dalam pagar sekolah. Warna dan desainnya sama. Hanya saja beda satu huruf.

Yang di gapura sekolah bagian luar tertulis : harap tenang ada ujian.

Sementara yang di dalam tertulis : harap senang ada ujian.

Kata teman saya bernama ‘nganu’ bisa jadi itu typo. Iya bisa jadi, namun serius ndak bohong, typo itu merubah maknanya. Secara keseluruhan. Karena menurut saya tenang bukan senang, pun sedih. Sementara senang, bukan berarti tenang dan jelas bukanlah sedih.

Selain makna dalam mengutarakan sifat, letak spanduk yang berbeda itu membuat saya menafsirkan sesuatu. Sampai-sampai saya tanyakan tafsiran itu kepada teman saya bernama ‘nganu’ tadi.

“Menurut kamu ya, misal kalau tak katain ujian nasional itu kelihatan menakutkan dari luarnya saja. Sehingga kita sering disuruh tenang. Padahal di dalamnya ya begitu, cukup menyenangkan. Baik bagi siswa, sekolah bahkan penadah kunci jawaban ?” , tanya saya.

“Mungkin iya kali ya, kalau spanduk itu ditujukan kepada semua itu haha” , kata teman saya sambil tertawa.

Tanpa saya jawab, teman saya itu tiba-tiba bilang :

“Wong dulu loh ris ayahku kan kepala sekolah. Aku ingat betul saat ujian nasional menjelang, ayahku membuka satu persatu soal ujian. Ayahku lalu menyuruhku mencari anak-anak pintar di kelas 12. Nah habis itu kita kerjakan bareng. Paginya kita sebarkan jawabannya. Gitu dah tiap hari haha”, cerita teman saya.

Saya hanya menjawabnya waktu itu begini :

“Wah gotong royong sekali ya hahah”, sambil tertawa kencang.

Kami pun berjalan mengikuti lapangan karena upacara telah selesai. Meski demikian, ada satu pikiran yang mengganjal di hati saya. Soal ujian dan kunci jawaban. Saya pun dari SMP sampai ke SMA, selalu memakai kunci jawaban ketika ujian nasional. Tidak apa-apa bayar, asal nilai bagus dan lulus. Toh, ibu bapak guru juga selalu menyerukan hal itu. Dengan kalimat berbau wanti-wanti begini :

“Menggunakan kunci jawaban atau mencontoh itu tidak apa-apa, asal tidak ketahuan”

Sebagai siswa yang dari dulu sampai sekarang nggak pinter seperti saya ini, pastilah keblinger.  Secara otomatis saya lebih memilih untuk menggunakan kunci jawaban ketimbang belajar untuk menggembleng kompetensi diri.  Menolak semua kejujuran dan lebih memilih menghamba pada kebohongan. Dan bagi guru maupun kepala sekolah pasti monggo-monggo wae.

Kalau pun sekolah harus diawasi oleh pengawas ujian dari sekolah lain, pasti sekolah pun memiliki jurusnya. Jurus itu berbentuk makanan yang membikin kenyang para pengawas. Menjinakkan pandangan dan pengawasan mereka agar siswa-siswa tadi bisa saling gotong royong menggunakan kunci jawaban.

Dan hasilnya nilai ujian nasional siswa seperti sulapan. Orang macam saya yang super nggak ngerti pasti  lulus dengan nilai bagus. Dan pasti yang kembali diuntungkan adalah sekolah. Sekolah dengan nilai tertinggi ujian nasional pasti masuk ke media elektronik maupun media cetak. Akibatnya, sekolah itu pasti mendapatkan banyak siswa di tahun berikutnya.

Lama-kelamaan jadilah sekolah semacam itu menjadi sekolah favorit. Tanpa harus memperbaiki mutu, dengan melegalkan kunci jawaban pastilah mereka bakal tidak susah-susah mencari siswa. Sementara penadah kunci jawaban lain lagi. Mereka bakal diuntungkan karena akan kaya dengan sekejap. Saya ingat betul, bahwa saya harus membayar Rp 150.000 untuk satu paket kunci jawaban.

Dan nominal ini berlaku per tiap kepala. Coba bayangkan betapa kayanya si penadah kunci jawaban. Hanya dengan sekejap bekerja, mereka bisa meraup keuntungan sampai miliaran. Entah siapa saja yang bekerja di balik praktik ini, yang jelas pasti ada orang dalam.

Karena sudah tergiur oleh praktik cari makan, akhirnya pendidikan yang berkualitas pun dikorbankan. Dampak jangka panjangnya pun tak pernah dipikirkan. Mereka tidak berpikir bahwa kelak siswa-siswa itu bakal memasuki dunia kerja. Di berbagai lini dan institusi. Mulai dari institusi non pemerintahan sampai institusi pemerintahan.

Apabila dari kecil ia selalu diajari untuk tidak jujur, maka jangan heran jika akibatnya seperti yang kita rasakan saat ini. Banyak dari mereka yang kita anggap tidak berkompeten begitu saja masuk ke arena pergulatan publik. Banyak predator-predator baru yang mahir dalam kasus korupsi, tipu menipu dan lain-lain. Jika terus dibiarkan ia hanya akan menjadi bencana. Bencana yang bukan hanya berlaku sekarang, melainkan sampai ke anak cucu.

Bagi saya inilah masalah kecil yang begitu nyata meracuni moral anak bangsa kita. Ironisnya, degradasi moral skala mikro ini selalu diwajarkan setiap tahunnya. Entah mengapa. Tapi mungkin gegaranya banyak pihak yang merasa diuntungkan melalui praktik ini. Jadi ya wajar-wajar saja.

Sementara itu, kita lebih terpatri degradasi moral akibat teknologi dan lain-lain. Sampai-sampai membuat pemerintah repot-repot merancang revolusi mental. Pun oposan slilit sekelas Pak Amien yang harus repot-repot menggagas revolusi moral. Maksud saya begini, jika mengatasi persoan mikro sekelas kunci jawaban saja sudah gagal, bagaimana kita menghadapi persoalan-persoalan yang sifatnya makro seperti degradasi moral akibat teknologi dan lain-lain ?

Halah mbuh lah. Yang terpenting harap senang ada ujian. Bagi siswa, harap senang ada jalan pintas untuk lulus. Bagi sekolah, harap senang akan banyak siswa  di tahun depan. Bagi penyedia kunci jawaban dan koleganya , harap senang karena anda sekalian akan menjadi orang kaya dadakan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional !

Malang, 02 Mei 2019.

(FFA)