Tanda Pagar

Posted by
20190424_174004_0001
Tagar Is My God

Mulanya tanda pagar tidak memiliki banyak kesaktian. Karena pada proses penciptaannya, ia hanya difungsikan untuk promosi atau mempermudah pencarian informasi. Sebatas itu saja. Kalau dirumuskan begini :

# + # = fm (femes)

Namun, di hadapan pemilu urusannya lain lagi. Tanda pagar tiba-tiba menjadi tanda yang lebih sakti mandraguna. Seolah ia memiki kekuatan tertentu yang begitu magis. Pasalnya, ia adalah tanda yang menunjukkan keperkasaan kubu-kubu partisan. Selain itu, ia telah dibabtis menjadi satu tanda yang bisa menyelamatkan harapan kubu-kubu yang sesang berseteru.

Sebut saja kubu itu adalah cebong dan kampret.

Tentu kita ingat bagaimana suasana medsos di masa kampanye. Bagaimana ajang balapan tagar antara cebong vs kampret amat masif di media sosial Twitter. Pun sampai sekarang, ketika memasuki masa rekapitulasi suara. Tagar-tagar itu terus bermunculan tanpa henti.

Meski sekarang sudah beda topik.

Tapi ya itulah fenomena negeri berflower, harus disukuri. Masalah politik bukannya disalurkan kepada saluran yang lebih tepat. Malah disalurkan ke media sosial. Saling bersaing untuk menempati top trending. Saling bersaing siapa yang masanya lebih banyak, jempolnya lebih giat dan kuota internetnya yang paling besar.

Rumusnya begini :

Kuota + medsos + ( # + Ch ) = Wn

Catatan :
Ch = chaos
Wn = winner

Halah mbuh lah, yang penting itulah fenomenanya saat ini. Saya hanya berdoa agar pemilu ini segera berakhir. Agar kabut-kabut barbarisme jempol ini segera hilang dari peradaban Indonesia. Dan pada akhirnya cebong dan kampret kembali mesra seperti sedia kala. Untuk bersama menyusun agenda gotong royong pasca pemilu tentunya.

Tagar dulu dan semoga manjur.

#cebong?kampret

***

(FFA)