Stasiun Cinta

Posted by
6ee9bb32ddb8bd644ed56fa6bec525c4
Kawasan Wisata Tretes

Rumaka semakin gabut dari hari ke hari. Baru sehari yang lalu kita ke Cangar. Sekarang sudah mau rekreasi lagi. Dan kali ini tujuan rekreasi Rumaka adalah Tretes. Sebuah kawasan wisata di Prigen, Pasuruan Jawa Timur itu.

Yang dulu di tempat saya sering disebut stasiun cinta. Karena disana adalah tempatnya ‘nganu’. Sudah dingin, banyak villa juga banyak ‘anu’-nya. Itulah mengapa Rumaka tertarik. Meski bukan itu tujuan utamanya.

Rumaka terjebak macet. Jadi wajar jika waktu tempuh kami agak lama. Berangkat pukul 21.00 WIB dari Kota Malang. Sampai di Tretes sekitar pukul 23.15 WIB.

Jujur, sesampainya di tempat kami kaget. Sebab, di bawah suasana sangat sepi. Namun semakin ke atas, Rumaka seperti dibuat takjub oleh keramaian. Ada yang memajang motornya dan ngopi di trotoar jalan, ada yang mondar-mandir bersama sang pujaan , ada juga yang kebingungan mau duduk dimana. Bisa dikatakan suasananya mirip-mirip dengan keramaian yang ada di film Fast and The Furious.

Sebuah film hollywood yang diperankan oleh Vin Diesel dkk.

Semakin diatas semakin dingin. Oleh karenanya kami memutuskan untuk ngopi santai. Di trotoar jalan. Yang lain berenam, bertujuh sampai bersepuluh. Rumaka cuman bertiga : saya, Mafaranren dan Sikai. Dan momen ngopi kali ini adalah yang paling spesial.

Pasalnya, kami bertiga bercerita soal cinta. Meski kata orang tema cinta adalah tema paling ngehek sedunia. Dan di dalam cinta ada yang namanya masa lalu pun juga masa depan. Sikai memilih spion sebagai analogi cinta di masa lalu.

“Kita boleh melihat cinta di masa lalu ibarat spion. Boleh dilihat sebentar tapi jangan lama-lama. Ambil intinya saja. Karena kalau hidup ini seperti mengemudi, kita harus terus menatap ke depan”, cuit Sikai sambil senyam-senyum.

Maferanren diam dan menemukan intinya. Benar saja, Sikai berkata seperti itu bukannya tanpa maksud. Melainkan untuk kembali meluruskan hati dan pikiran Maferanren. Yang kalau didengar-dengar tidak bisa bangkit dari ketertatihan cinta di masa lalu. Dengan lugas Maferanren berkata :

“Okelah aku bakal berjuang lebih keras lagi. Aku lelah untuk takut” , kata Maferanren dengan berapi-api laksana Ir Sukarno.

Pasca itu, suasana ngopi kembali normal. Mulai bercanda-canda lagi. Kata Sikai memang begitulah esensi berdiskusi. Pada satu waktu ada titik klimaks, di waktu yang lain harus ada senda gurau. Biar tensi obrolan kembali turun.

Sesaat ketika suasana mulai hening karena kita lelah tertawa, Maferanren bertanya pada saya. Soal dinamika cinta masa muda. Ya saya hanya jawab bahwa saya pernah punya Dewi Anjani di hati. Sementara senandung pengantarnya adalah Risalah Hati karya Dewa 19. Yang saya nyanyikan via BlackBerry Messenger.

Aplikasi chat yang kabarnya akan berakhir 31 Mei 2019 itu. Dan inilah kisah melankoli saya dalam #GoodbyeBBM. Terlalu melankoli. Sampai saya lupa kalau setiap perusahaan yang kukut itu pasti harus melakukan PHK besar-besaran kepada karyawan. Di saat perekonomian kolaps, pasti ada pemotongan gaji bahkan penunggakan gaji pegawai.

Tapi semua itu saya lupakan. Saya tak mencari informasi soal itu. Karena terlalu mabuk sama kisah nostalgia melankolistik. Seperti netizen.

Maferanren semakin penasaran. Ia mengulik cerita-cerita dari seseorang yang lebih dulu dibrojolkan untuk menghadapi hidup. Ia bertanya kisah kelanjutannya. Lalu saya simpulkan begini saja :

Kisah saya dengan dewi dalam angan itu berakhir tragis. Karena kereta harus terus berjalan tak kenal henti. Dengan tujuan-tujuan baru. Bahkan penumpang-penumpang yang baru. Jika berhenti di stasiun saja, pasti orang-orang tidak bakal puas. Orang-orang seperti kernet, bahkan penumpang pasti bakal marah dan sakit.

Tak ada kereta yang berjalan mundur. Kalaupun ada pasti ia punya tujuan tertentu. Tapi esensinya ia tetap maju. Itulah kehidupan. Yang kalau kata Pramoedya Ananta Toer itu sederhana. Sementara yang hebat-hebat adalah tafsirannya.

Pada akhirnya Maferanren memiliki tekad yang bulat. Bahkan menafsirkan perjuangannya ini adalah perjuangan untuk menakhlukkan Matari. Atau dalam frasa esensialnya adalah matahari. Karena matahari memiliki kesamaan sifat dengan wanita yang sedang ia kejar.

Seperti yang kita tahu matahari itu egois. Matahari itu frontal. Matahari itu susah disentuh. Tapi tak ada pelangi jika tidak ada matahari. Dan semoga pelangi itu menjadi akhir dari perjuangannya kelak.

21 April menjelang. Maferanren ulang tahun di Hari Kartini. Selain kado berupa juara, saya berharap wejangan yang saya dan Sikai berikan dapat menjadi kado baginya. Karena wejangan itu berisi hakikat dan makna hidup. Makna hidup yang mengharuskan kita untuk selalu berjuang. Itulah makna hidup yang membedakan antara hidupnya umat manusia dan hewan.

Seperti kata Hamka :

“Kalau hidup sekedar hidup maka babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, kera di hutan pun kerja”

Selamat Hari Kartini. Semoga perjuangan tidak menghianati hasilnya. Jadikan ia Kartini mu. Dan kau adalah orang yang berada setara dengannya. Ucap saya kepada Si Maferanren.

Maferanren lantas menyatakan pikirannya. Bunyinya begini :

“Mas memang ya, kalau kita sedang berdiskusi soal cinta hilang semua pikiran soal rakyat.”

Saya hanya menjawab :

“Memang. Tapi percayalah kita mau memikirkan rakyat karena kita mencintai rakyat. Tanpa mengenal cinta, bagaimana mungkin kita memperjuangkan rakyat.”

Maferanren hanya tersenyum. Kemudian ia pulang ke Kota Malang dan saya pulang ke kampung halaman. Di Kota Sidoarjo. Dalam perjalanan saya berpikir, mungkinkah kisah ini lah yang melandasi mengapa Tretes disebut stasiun cinta ?

Kalau iya, saya beri bintang lima kepada Tretes. Stasiunnya cinta itu.***

(FFA)