Real Life

Posted by
IMG_20190417_002952_HHT-01
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

 

Ini bukan soal judul esai Sujiwo Tejo. Pun bukan soal tulisan saya yang kutu buku. Tapi real life adalah kenyataan hidup. Yang kenyataannya kadang melampaui harapan dan perkiraan. Bahkan kerap kali kita ini dibuat tidak bisa tidur karenanya.

Real life.

Saat itu Rumaka sedang duduk-duduk di stasiun. Sebut saja Stasiun Kota Malang. Sekedar ngopi-ngopi saja. Barangkali ada serangan fajar. Toh besoknya hari pemungutan suara.

Yang paling menentukan dan membuat hati berdebar.

Kota Malang malam itu terasa sepi. Karena mahasiswanya berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Mayoritas karena mereka mau nyoblos. Sementara si minoritas hanya diuntungkan karena pemilu juga libur panjang. Masalah pilih satu atau dua sama sekali tak jadi soal.

Saking sepinya, suara jangkrik pun makin keras. Obrolan orang Rumaka pun makin ngelantur. Bersautan dengan deriknya jangkrik. Tiba-tiba, duduk seorang perempuan di depan kami. Bersandar di bawah pohon sambil menikmati jalanan stasiun.

Ditemani sebatang rokok surya.

Seperti menunggu seseorang. Mungkin mengharap belas kasihannya. Karena itu seketika Maferanren berdiri. Untuk menawarkan makan. Alangkah kagetnya saya ketika ibu itu tidak mau. Dengan alasan bahwa ia sudah makan.

Maferanren patah hati. Ibu penjual kopi bilang : “ia memang tidak suka dibelaskasihi mas. Sering saya tawari makan. Tapi tetap saja tidak mau.”

Tapi saya yakin beliau ini masih makan. Mungkin ia hanya mau makan lewat kerja-kerjanya sendiri. Bukan lewat belas kasihan orang. Jujur orang itu menarik. Apalagi kalau perkiraan saya ini benar adanya. Bahwa real life adalah tidak bergantung.

Pada apapun, pada siapapun.

Karena kenyataannya kita ini sendiri. Kesadarannya pun ada dalam diri kita sendiri. Sebuah ilusi konkret jika kita berharap keadaan kita yang di bawah ini dapat berubah. Karena pemilu sekalipun.

Mungkin iya bagi kebijakan yang sifatnya top down. Contoh kebijakan pendidikan yang pasti berganti setiap ganti menteri. Meski dengan menyesal saya katakan bahwa kebijakan itu kadang kala datangnya ‘bukan dari kita’. Melainkan datang dan dipaksakan dari atas.

Parahnya lagi, mereka ini selalu malu atas diri kita. Diri orang-orang yang mengais rezeki di jalanan dan di trotoar. Dari bak sampah yang satu ke bak sampah yang lain. Karena mereka anggap kita ini miskin. Dalam artian di bawah standar hidup minimal.

Selalu kita ini dianggap sebagai aib. Sampai-sampai saya percaya kata Multatuli dalam Max Havelaar itu benar adanya. Bahwa kita ini dari kecil selalu diajarkan bahwa kemiskinan adalah kemaluan terbesar. Akan tetapi kebobrokan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak sama sekali perlu untuk dipersoalkan. Pertanyaannya apa kabar 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang yang korupsi?

Kenapa kemiskinan itu gencar dihapuskan, tapi korupsi itu diwajarkan ?

Entah. Mungkin karena mereka lupa. Mereka lupa bahwa kerja-kerja mereka asalnya dari kita. Mereka hanya ingat ketika pemilu. Karena mereka hapal bahwa dalam pemilu yang paling menentukan adalah ‘vox populi : vox dei’. Yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan.

Oleh karenanya di tahap ini mereka gencar mengumbar janji. Tentu untuk meraup suara rakyat. Ironisnya, kita terjebak pada janji itu. Janji-janji yang seutuhnya ilusif. Pasca itu, kembali lah kita pada real life yang senyata-nyatanya pergumulan hidup. Yang awalnya pemulung akan terus memulung, yang pengemis akan terus mengemis, begitupun dengan yang lain.***

 

(FFA)