Bisa Jadi

Posted by
kekerasan-pendidikan
Kredit Ilustrasi : indonesiainside.id

 

Tahun ini adalah tahunnya kekerasan. Sebab hampir setiap bulan ‘kekerasan’ selalu menjadi topik. Berawal dari kasus pelecehan seksual yang menimpa Agni. Saling perang twitt karena berbeda pilihan pilpres. Tragedi Christruch. Guru menantang siswa di Gresik.

Tenaga honorer dipukuli di Sumatera. Guru cabuli puluhan siswa di Malang. Pemukulan dan pembubaran demonstrasi mahasiswa Papua oleh beberapa oknum di Malang. Terakhir, kasus bullying yang menimpa Audrey. Itupun yang tersorot dari media. Yang belum tersorot ?

Saya yakin lebih banyak lagi. Itulah realitanya.

Benar kata si Maferanren. Kekerasan itu ibarat pohon sementara kasus Audrey hanya buahnya. Baru dua hari kasus ini berjalan, kekerasan kembali mencuat ke publik. Kali ini siswa sekolah dasar membully teman sebayanya. Tetap dengan makian, tetap dengan kekerasan.

Tak hanya pada manusia. Kadang-kadang pun menyasar prodak teknologi. Mulai dari televisi, radio bahkan handphone. Prodak teknologi ngadat jawabannya : banting, pukul dan gosok-gosok.

Duh. Sampai-sampai saya sempat bertanya :

Apakah orang Indonesia memang penganut filsafat kekerasan?

Jika anda berkuliah di jurusan pendidikan pasti anda pernah mendengar teori Tabularasa (meja lilin). Dalam teori ini John Locke bilang :

“Pengalaman lah yang membangun pengetahuan”, tulis Locke.

Interaksi dengan lingkungan bakal menghasilkan pengalaman. Pengalaman itulah yang bakal menjadikan manusia begini-begitu. Bisa jadi pelaku kekerasan pernah mengalami pengalaman kekerasan yang sama. Atau , bisa jadi kekerasan ini timbul karena interaksi dengan lingkungan yang keras. Baik lingkungan pendidikannya, masyarakatnya atau rumahnya.

Bisa jadi karena perbedaan. Karena mereka gagal melihat nilai universal manusia yang sejatinya berbeda satu sama lain. Seperti yang dikatakan Plato. Dilanjutkan lagi oleh Sujiwo Tejo. Bahwa kekerasan paling sering timbul karena perbedaan ras, agama, ideologi sampai warna kulit. Yang keseluruhannya disebabkan oleh problem berebut makanan. Atau boleh jadi karena perbedaan pilihan capres?

Pun bisa jadi dari video game, sinetron atau film. Karena medium-medium itu menawarkan kekerasan dalam beragam tipe. Atau bisa jadi karena hilangnya ruang komunikasi karena arus teknologi. Pun bisa jadi karena gangguan psikologis.

Semuanya bisa jadi.

Gila, semua bisa jadi penyebab kekerasan. Tapi ketahuilah hal itu penting untuk dicari. Itung-itung sebagai langkah pencegahan. Karena untuk menghadapi kekerasan kita tidak bisa hanya terpatri pada penindakannya saja.

Selain kita masih fokus untuk mendorong agar pelaku dapat diadili oleh hukum yang berlaku sebagai langkah penindakan. Seharusnya kita juga fokus terhadap aspek pencegahan. Kita punya banyak pemerhati, kita punya banyak peneliti , punya banyak lembaga. Mari berikan solusi. Biar kita tidak terpatri pada kata : ‘bisa jadi’.***
(FFA)