Subuhnya Milenial

Posted by
IMG_20190414_054438-01
Masjid Universitas

 

Pagi tadi saya dibuat kaget oleh sekumpulan mahasiswa yang tiba-tiba memadati jalan. Juga trotoar jalan. Untuk menuju kampus putih. Tatkala adzan subuh keras berkumandang. Tidak tahu ada apa. Sempat saya kira mau demo.

Ternyata tidak.

Rupanya usut-diusut mereka hendak melaksanakan salah satu kegiatan mata kuliah. Namanya Kuliah Ahad Subuh atau biasa dikenal (KAS). Makannya mereka ini kok tiba-tiba memakai baju kokoh. Lengkap dengan sarung dan peci andalan.

Ada yang berangkat dari kos. Alhamdulillah tidur cukup. Tapi ada juga yang berangkat dari warkop. Posisi belum tidur. Hanya memakai celana dan kaos. Semuanya mereka lakukan hanya demi satu kata : lulus.

Itu saja tidak lebih.

Lebih jauh lagi saya mengikuti mereka sampai ke masjid. Mahasiswa-mahasiswa itu berjajar dengan rapi. Barisan shaf masjid itu penuh. Setelah merapikan barang bawaan mereka seperti jaket, tas, bulpoint sampai kertas putih, kami pun sholat subuh berjamaah.

Pasca shalat dan berdoa, sesi KAS dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit). Kultum kali ini dibawakan oleh Dosen Pascasarjana UIN Maliki Malang. Uniknya tema kultum kali ini mengangkat tema ‘Muraqabatullah’. Yang artinya sikap untuk selalu merasa diawasi Allah SWT. Cocok sekali.

Sebab sikap inilah yang saat ini sudah jarang kita lihat. Namun di lain sisi kurang kita kembangkan. Coba lihat mekanisme KAS itu sendiri. Mahasiswa dianjurkan hadir karena alasan absen dan urusan nilai. Akhirnya orientasi ibadah jadi berubah. Perubahan sikap pun tidak ada.

Saat duduk dengan mereka, saya hanya melihat para mahasiswa sibuk di awal. Untuk menulis resume. Ada pula yang lebih mengandalkan mbah google, ngobrol asik, sampai bermain mobile legend. Mereka hanya bersorak gembira ketika pemateri menganalogikan posisi Allah SWT seperti wasit dalam pertandingan bola. Apalagi tim bola yang saat itu disebut yakni Arema dan Persebaya.

Mahasiswa yang mayoritas Aremania pasti bersorak gembira. Wong jadi juara Piala Presiden 2019. Setelah itu pemateri menyampaikan sebuah ayat. Dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 117. Tentang sikap Muraqabatullahnya Nabi Isa AS. Bagus sekali.

Apalagi saat lantunan ayatnya dibacakan dengan merdu oleh pemateri. Di hati terasa tentram. Tapi ya begitu. Saya rasa perasaan itu tidak dirasakan milenial. Materi yang dibawa oleh pemateri hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Begitupun lantunan ayat sampai Asbābun Nuzūlnya dari QS Al Maidah ayat 117.

Milenial yang mabuk akan teknologi lebih percaya dengan Mbah Google, Mobile Legend. Secara otomatis Google jadi Tuhan, nilai mata kuliah jadi Tuhan bahkan Mobile Legend pun jadi Tuhan. Dan mereka akan selalu beriman kepada Tuhan-Tuhan kecil itu. Inilah penampakan subuhnya milenial. Kesimpulannya, milenial saat ini lebih senang hidup dengan Tuhan-Tuhan kecilnya.

Ketimbang Allah dengan kebenarannya yang mutlak. Oleh karenanya, urgensi yang harus segera dipikirkan oleh institusi pendidikan lagi-lagi adalah membuat konsep. Terutama konsep yang mengarah pada pemahaman bahwa Allah SWT sedekat nadi —- (kata owner Tinta Gujarat).

Sebab dengan itulah mereka paham bahwa Allah SWT selalu melihat apapun yang kita lakukan. Di satu sisi, tak ada tempat persembunyian bagi kita di dunia ini. Kuliah ahad selesai dan mahasiswa-mahasiswa itu kembali pulang. Kebetulan pada saat itu saya bertemu dengan salah seorang teman katib saat masa orientasi. Saya bertanya :

“Apa kesimpulan dari KAS tadi cong ? “, Tanya saya.

Dia menjawab :

“Arema juara Piala Presiden 2019”, katanya.

“Allahuakbar”, kata saya sambil berjalan.***

(FFA)