Rumaka

Posted by
Processed with VSCO
Lapak Buku SC Rumaka di Universitas Muhammadiyah Malang

Perpustakaan itu kecil saja. Hanya beralaskan tikar. Dijaga oleh tiga orang yang mengatasnamakan diri sebagai Rumaka. Rumaka itu sendiri merupakan kata yang tanpa arti. Sebab ia cuman akronim dari Rumah Mahasiswa Merdeka.

Sebuah wadah alternatif bagi mahasiswa yang ingin merdeka 100%.

Awalnya, Rumaka adalah gagasan dari Mafaranren (nama pena). Katanya oleh-oleh dari dunia pergerakan mahasiswa di Kota Yogyakarta. Mafaranren memang bukanlah Tan Malaka. Akan tetapi, ia bakal menjadi intelektual organik seperti Bapak Republik itu. Semoga saja.

Kembali ke perpustakaan.

Perpustakaan itu buka sekitar dua sampai tiga jam. Di trotoar jalan. Tempat mahasiswa berlalu-lalang. Alhamdulillah ada satu yang mampir. Meskipun cuma satu. Dari kampus sebelah pula.

Sementara dari kampus sendiri tidak ada. Padahal jumlah mahasiswa disana ada ribuan. Bahkan mungkin ratusan ribu. Wong gedung-gedung perkuliahan saja sampai tidak muat. Akibatnya, aktivitas kuliah malam maupun kuliah Sabtu makin meningkat.

Sepinya perpustakaan Rumaka sekaligus menjadi bukti gagalnya pendidikan menanamkan budaya literasi. Persoalannya, ilmu sudah dianggap pakem dalam sistem pendidikan kita. Tidak ada pencarian soal asal-usul tidak ada alam perdebatan. Yang ada hanyalah kerja kelompok dan presentasi.

Akhirnya, minat literasi itu kurang. Central Connecticut State University (CCSU) lewat laporan ‘World’s Most Literate Nations’ pada tahun 2016 merilis bahwa minat baca Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara. Ironisnya persoalan minat baca yang ‘kurang’ ini malah ditanggapi oleh kampus dengan mendirikan perpustakaan. Bukan membenahi pola pembelajaran. Konon, untuk masuk perpustakaannya pun kita bakal berurusan dengan administrasi yang berbelit-belit.

Tidak seperti perpustakaan Rumaka.

Selain perpustakaan, rencananya Rumaka bakal menggelar berbagai kegiatan. Terkhusus pasca mereka mendapat kontrakan sebagai kantor. Faktor inilah yang membuat prodak guyonan sekelas Enzo Institute berani merger dengan Rumaka. Tujuannya agar lebih fokus dan Rumaka cepat berkembang. Meski begitu, aktivitas Rumaka masih sama dengan Enzo Institute.

Rumaka tetap mencintai ilmu pengetahuan dengan membaca, berdiskusi dan menulis. Mafaranren dengan kritiknya atas pendidikan, sementara Tinta Gujarat dengan ambisinya menghancurkan logika berhala !

Uniknya semua kegiatan itu kita jalani dengan mengalir, lentur dan penuh guyonan. Seperti sediakalanya Enzo Institute. Tidak sekaku seminar yang diadakan pihak universitas maupun ormawa sekelas HMPS/BEM. Topiknya pun lebih visioner.

Jika kampus maupun BEM masih sibuk dengan seminar bertemakan Revolusi 4.0. Maka Rumaka sudah membahas bagaimana Revolusi 6.0 dicetuskan oleh Indonesia.***

(FFA)