Melawan Komersialisasi Pendidikan

Posted by
tumblr_m5b6dmCuDi1rppnjfo1_1280
Student’s Strike, Quebec Canada (beautifultrouble.org)

Pada tahun 2012, ribuan mahasiswa Quebec, Kanada melakukan pemogokan massal guna melawan kenaikan uang kuliah sebesar 75% di Universitas. Aksi pemogokan yang berlangsung lebih dari enam bulan menjadi sebuah protes terhadap kebijakan pendidikan. Aksi mahasiswa Quebec kemudian membawa perubahan besar terhadap kebijakan pendidikan tinggi di Kanada. Gerakan ini sekaligus menjadi simbol gerakan sosial yang sederhana namun efektif dan tertulis pada Organize to Strike, Fight to Win! Quebec’s 2012 Student Strike. [1].

Aksi mahasiswa juga terjadi di Indonesia. Secara pribadi saya pernah melihat aksi tersebut di Uneversitas Pendidikan Indonesia agustus 2018. Aksi Aliansi Mahasiswa UPI terkait persoalan mahalnya uang pangkal mahasiswa baru yang masuk dari seleksi mandiri menjadi persoalan. Nominal yang tinggi mulai dari kisaran 18-38 juta rupiah membuat 122 mahasiswa baru terancam gagal kuliah. Aksi ini pun sekaligus menjadi salah satu catatan penting dari daftar panjang keresahan mahasiswa dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Gerakan mahasiswa di Indonesia dalam mengawal isu-isu terkait pendidikan tinggi dewasa ini belum memberikan hasilnya yang maksimal. Sebab gerakan mahasiswa di Indonesia cenderung terbatas. Sekalipun sudah ada medium strategis seperti organisasi mahasiswa intra kampus di level universitas. Atau aliansi di level lokal maupun nasional.

Jika ditilik lebih serius, persoalannya terletak pada fragmentasi gerakan mahasiswa. Persoalan klasik yang menjadi ciri khas awal-awal kemunculan orde reformasi. Persoalan yang dikatakan Eep Syaifullah Fatah sebagai penyebab dari gagalnya rekonsolidasi demokrasi. Sebab pada saat itu, kita teralih oleh euforia yang berlebihan. Berbagai organisasi kepemudaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan berbagai latar belakang bermunculan. Sementara gerakan mahasiswa agak cukup dilematis waktu itu. Bagaimana tidak, orde baru yang telah menyatukan frame gerakan mahasiswa kini telah jatuh. Disinilah fase gerakan mahasiswa akhirnya melebur ke berbagai lini [2].

Gerakan mahasiswa makin terpecah menjadi banyak bagian. Kadang bersatu tapi lebih senang menggarap isu-isu yang bernuansa politis, bertendensi makro dan lain-lain. Sementara mereka lupa bahwa ruang publik di kampus-kampus semakin terkooptasi oleh kekuasaan modal. Khususnya di saat ayat-ayat neoliberal diafirmasi oleh dunia pendidikan kita.

Keran permodalan dibuka seluas-luasnya lewat pengukuhan beberapa produk hukum seperti UU Pendidikan Tinggi, UU Penanaman Modal Asing, UU Badan Hukum Negara , serta beberapa peraturan lain seperti PP No 76 tahun 2007 dan PP No 77 tahun 2007.  Akibatnya, subsidi pendidikan tinggi oleh negara makin berkurang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 – 2017 saja rincian anggaran yang dikucurkan yakni 46 T, 42 T, 40 T dan 39 T [3]. Sementara di tahun 2018, kucuran dana untuk pendidikan tinggi sempat naik sebesar 40,393 T [4]. Namun, kembali turun di tahun ini dengan rincian 40,210 T [5]. Faktor inilah yang kemudian menjadi penyebab mengapa biaya pendidikan makin mahal setiap tahunnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa telah terjadi kenaikan sebesar 6% dalam rentang tahun 2015-2017, terutama dalam dunia pendidikan tinggi. Tak heran jika angka putus sekolah di level SMA dan SMK semakin membeludak. Pada tahun 2017/2018 saja, angka putus sekolah tinggi di level SMA berkisar 31 ribu anak dan SMK berkisar 73 anak [6]. Angka ini diprediksi akan terus naik apabila kenaikan biaya pendidikan tinggi makin menjadi-jadi.

 

Rekonsolidasi Gerakan adalah Kunci

Berangkat dari semua pemaparan diatas, premis yang dapat diambil yakni komersialisasi pendidikan tengah berada dalam level kronis. Ibarat sebuah kanker ganas, ia sudah masuk pada level stadium akhir. Bukan hal yang mudah untuk menggerus wacana ini. Namun bukan berarti hal itu bersifat utopis. Selama ada perjuangan pastilah ada jalan.

Kisah Reza Agusta seorang mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta salah satunya. Ia menggugat UU Perdagangan ke Mahkamah Konstitusi lantaran menemukan salah satu pasal terkait pendidikan yang mengarahkan pendidikan pada profit oriented (berorientasi keuntungan) [7]. Bagi saya, cerita Reza bukan hanya layak untuk dijadikan contoh. Melainkan juga sebagai alarm, bahwa elemen mahasiswa harus mulai bergerak.

Coba bayangkan jika aksi ini bukan hanya diperjuangkan oleh Reza secara personal. Melainkan diperjuangkan oleh seluruh mahasiswa dari berbagai elemen. Dari berbagai sayap-sayap organisasi di level lokal maupun nasional. Atau coba bayangkan jika seluruh mahasiswa di Indonesia mengambil perjuangan politik seperti di Quebec, Kanada.. Jika itu terjadi, dapat dipastikan bahwa kemenangan bakal menjadi milik gerakan mahasiswa.

Dapat disimpulkan bahwa rekonsolidasi adalah hal yang terpenting untuk diutamakan segera. Terutama oleh gerakan mahasiswa yang selama ini terpecah-pecah. Apalagi saya kira isu komersialisasi pendidikan merupakan benang merah yang mampu mempersatukan seluruh elemen gerakan mahasiswa.

Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah wawancara pernah berpesan kepada segenap elemen mahasiswa. Isinya sebagai berikut :

“Jangan belagak tidak mengerti. Kalian cukup mengerti apa yang harus kalian lakukan. Lakukan yang terbaik untuk Indonesia dan untuk diri kalian sendiri. Jangan belagak bodoh, kalian cukup pandai. Kalian cukup punya keberanian. Kalian cukup mempunyai keahlian mempersatukan seluruh angkatan muda. Bergerak, terus , sampai tercapai tujuan, dan selamat ! ”

 

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

*Tulisan ini sebelumnya dimuat  Gerak Mahasiswa pada 30 Maret 2019

Rujukan :

  1. Baca Organize to Strike, Fight to Win! Quebec’s 2012 Student Strike di libcom tahun 2013. https://libcom.org/library/organize-strike-fight-win-quebecs-2012-student-strike
  2. Saefullah,Eep.2000.Menuntaskan Perubahan : Rekonsolidasi Reformasi.Mizan : Bandung hlm xxi
  3. Lebih lanjut, dapat diakses dalam harian online jabar.tribunnews.com. http://jabar.tribunnews.com/2016/09/14/anggaran-pendidikan-tinggi-dari-apbn-menurun-setiap-tahunnya-begini-penjelasan-menristekdikti
  4. Lebih lanjut baca website Sekretariat Kabinet Indonesia. : https://setkab.go.id/apbn-2018-total-anggaran-pendidikan-rp444131-triliun-terbanyak-di-kemenag-rp52681-triliun/
  5. Lebih lanjut baca tirto.id. https://tirto.id/anggaran-pendidikan-2019-naik-rp484-triliun-dbF
  6. Lebih lanjut baca katadata. https://m.katadata.co.id/infografik/2018/07/23/mudahkanhidup-anak-indonesia
  7. Lebih lanjut baca cnnindonesia.com . https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190211142830-20-368209/cerita-mahasiswa-miskin-gugat-komersialisasi-pendidikan-ke-mk