Kutu Buku

Posted by
Processed with VSCO
Kredit Ilustrasi : wikihow

Bentuk tubuhnya bulat, mirip kutil. Ukurannya sangat kecil. Warnanya pun hitam pekat. Gemarnya bikin lubang di tiap halaman buku. Siapa lagi kalau bukan kutu buku?

Eh tapi tunggu dulu. Itu kan ciri-ciri hewan kutu buku. Berbeda dengan manusia kutu buku. Bedanya, hewan kutu itu memakan tiap kertas lembaran di dalam buku. Sementara manusia ‘kutu buku’ adalah mereka yang gemarnya membaca buku.

Hewan kutu memakan buku dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Tak peduli isi dan siapa nama penulisnya. Semuanya bakal jadi santapan si kutu. Semewah apapun isinya, ujung-ujungnya jadi teleknya si kutu. Yang nggak tahu ukurannya seberapa itu.

Seseorang kemudian bertanya :

“Saya punya pacar, dia bulat dan kulitnya hitam. Gemarnya bergelut dengan buku. Apakah dia kutu buku?”

Bisa saja. Kalau tipe membacanya mirip cara makannya si kutu buku. Dibaca seperti dilahap sampai habis. Jika bukunya habis , maka solusi terbaik adalah beli lagi. Kalau uangnya yang habis maka solusi oetama adalah jual bukunya lagi.

Begitulah siklus kehidupan si manusia kutu buku. Sekilas mirip-mirip dengan rutinitas si kutu buku yang asli. Yang hitam legam, besarnya sekutil dan doyan bikin lobang di tiap halaman buku. Menu favoritnya pun sama yakni ‘buku’ , bukan koran atau ini itu. Lalu pertanyaannya, harus bagaimana si manusia biar nggak sama dengan kutu buku yang asli?

Untuk mengetahuinya, maka disini saya berikan petuah dari Presiden Jancukers. Mbah Sujiwo Tejo namanya. Dalam esainya dia pernah bilang begini :

“Bangsa ini memerlukan kian banyak orang pandai. Tapi yang pandainya bukan tahu bentuk dan rasa arem-arem dari buku. Selain berkat bacaan, arem-arem itu hendaknya sungguh-sungguh pernah mereka raba, kunyah dan telan dalam senyatanya pergumulan hidup” —- (Real Life hlm 230).

Jujur, petuah ini mirip sekali dengan apa yang pernah dikatakan oleh kakak saya waktu itu. Waktu hangat-hangatnya kasus sita-menyita buku oleh kalangan militer. Isi petuah kakak saya begini :

“Makannya jangan cuma belajar dari buku. Sesekali lihat juga kondisi bagaimana buku itu lahir. Paling bagus malah tariklah bacaanmu dalam kondisi riil !” , katanya.

Nah disinilah jawabannya. Yang membedakan kutu buku dan manusia kutu buku terletak pada bagaimana ia memaknai isi sebuah bacaan. Sudah saya katakan diatas bahwa kutu buku memakan buku ‘tanpa’ peduli akan isi dan penulisnya. Boro-boro sampai merefleksikan dengan kondisi sosial saat ini. Yang kutu itu tahu hanya bagaimana ia makan kertas dan berak.

Sungguh eman apabila manusia kutu buku tidak pernah memaknai isi bacaannya. Sebanyak apapun bacaan itu, pastilah bakal tidak berguna. Dalam istilah jawanya ia cuman ‘ngowos’. Kalau buku itu orang yang sedang berbicara maka pembicaraan oleh buku hanya masuk ke telinga kanan dan berakhir pada telinga kiri.

Jika manusia kutu buku memaknai isi bacaannya, maka ia akan cari yang namanya asal usul, proses epistemik dan tujuan mengapa buku itu ditulis. Dengan demikian, secara tidak langsung pembaca bakal di bawa ke dalam dimensi abstraksi. Untuk menjadi konkret, maka harus ada step berikutnya. Yakni mengkaitkan isi bacaan dengan ‘senyata-nyatanya pergumulan hidup’ (meminjam potongan petuah Mbah Tejo). Jujur proses inilah yang jarang terjadi.

Padahal jika pemaknaan itu dilakukan, saya yakin ilmu pengetahuan nggak bakal mengalami kemandekan. Setiap orang bakal menjadi pemikir di eranya. Dan coba bayangkan betapa indahnya jika semua proses ini pada akhirnya melahirkan abad pencerahan di Indonesia?

Seseorang pernah menulis :

” Bacalah buku maka anda akan menuai ‘gagasan’. Taburlah gagasan, maka anda akan menuai ‘pemikiran’. Taburlah pemikiran maka anda akan menuai ‘tindakan’. “

Ambilah sebuah kutu. Kemudian taruhlah di kepala. Pasti hidup anda bakal selesai.***

(FFA)