Tiga Jurus

Posted by
Processed with VSCO with g3 preset
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Semua orang tak percaya saya punya adik perempuan. Sebab yang mereka tahu saudara saya seluruhnya laki-laki. Padahal saya sudah sering bilang bahwa saya anak kedua dari empat bersaudara. Nah, yang berada di nomer empat inilah saudara perempuan saya. Namanya Erliana Syafitri.

Saya sendiri pun kurang tahu menahu ikhwal arti nama itu. Yang jelas nama itu diberikan oleh budhe kepada dia saat baru lahir. Coba saja cari namanya di google atau buku nama, pasti susah. Namun saya berharap agar kehebatannya dalam ilmu pengetahuan mampu mengartikan sendiri namanya. Toh oppa Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya yang agung berjudul Anak Semua Bangsa pernah menuliskan begini :

“Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”

Jadi apapun arti namanya, saya anggap itu tidak penting. Yang terpenting adalah kemajuan ilmu pengetahuannya. Toh belakangan jarang sekali perempuan yang maju akan ilmu pengetahuan. Mungkin ada, akan tetapi jumlahnya makin sedikit saja. Sebab, mereka dicengkram dalam budaya yang relatif patriarkis.

Sejarah pergerakan perempuan didistorsikan. Perjuangan R.A Kartini dalam menuntut kesetaraan dihilangkan dari sejarah. Di lain sisi ketaatannya untuk dipoligami, kerelaannya untuk dipingit, sampai didomestifikasi ke dapur, sumur dan kasur diunggulkan dalam sejarah. Akibatnya, pesan moral dari R.A Kartini tak pernah tersampaikan sampai sekarang.

Hari Kartini hanya diilhami sebagai hari fashion show yang berbau Jawa sentris. Yang dalam berbagai pertunjukkan hanya mempertontonkan konde, kebaya dan cara berjalan meliuk-liuk ala budaya Jawa. Eman sekali. Faktor inilah yang pada akhirnya membuat saya ingin mengkado Erli sebuah buku yang berisi kumpulan pemikiran R.A Kartini. Judulnya ‘Habis Gelap Terbiitlah Terang’.

Pasalnya perjuangan R.A Kartini belumlah selesai. Sampai sekarang perempuan-perempuan kita masih dicengkram oleh budaya patriarki yang dominan. Dengan berbagai ayat-ayatnya. Dan percayalah, ini juga terjadi pada Erli.

Beberapa waktu lalu saya dengar ia sempat mau dijodohkan dengan ustadz. Sebab keluarga saya memang terkesan konservatif-fundamentalis. Saya hanya mampu melawan dengan menasehati orang tua saya. Yang saya katakan tidak lain tidak bukan adalah biarkan dia menulis sejarah kehidupannya sendiri.

Tak habis disitu. Kebetulan dia menginjak kelas tiga SMA. Sebentar lagi masuk universitas. Karena ia jurusan IPA, ia dipaksa oleh orang tua untuk masuk dalam jurusan farmasi atau kedokteran. Padahal yang saya tahu ia ahli dalam hitung menghitung memakai rumus. Inilah yang membuatnya sempat ingin berkuliah di jurusan ekonomi dan bisnis.

Kecenderungan ini terlihat beberapa waktu lalu. Ketika ia berkonsultasi cara menulis esai kepada saya. Kebetulan temanya adalah wawasan kebangsaan. Ketika saya tanya ikhwal subtema, Erli bilang kalau dia mau mengangkat masalah ekonomi.

Katanya, ia mau mengulas ikhwal pengembangan UMKM. Sektor ekonomi mikro yang sebetulnya harus diperhatikan negara. Di dampingi bahkan di upgrade perkembangannya.

Disinilah saya temukan minat bakatnya si Erli. Akan lebih baik dia berkuliah di jurusan ekonomi, wong sudah kelihatan minat dan bakatnya. Namun sayangnya semua itu harus ia buang.

Pasalnya ia kalah dengan logika realistis. Bahwa berkuliah hanya untuk kerja. Jika ia lanjut jadi dokter ataupun apoteker saya takut dia tidak bahagia. Sekalipun dengan harapan agar nantinya bisa membuka praktik konsultasi kesehatan di rumah. Tapi untung hal itu tidak terjadi.

Sebab, hari ini ia dinyatakan tidak lolos SNMPTN (jalur undangan universitas). Inilah yang membuat saya ingin segera pulang. Menenangkan hatinya. Sebab saya tahu dia ini tipe orang yang gampang menyerah. Dia pasti murung dan menangis saat ini. Bahkan dulu saat masih SMP dia pernah tidak mau sekolah karena cuman ditolak.

Semoga saya punya jurus saat bertemu dengannya nanti. Dalam kepulangan saya nanti. Jurus itu bakal terselip dalam setiap kalimat saya. Yang pertama akan saya katakan yakni jalur undangan bukanlah segalanya. Masih ada cara-cara lain. Masih ada jalur tes, jalur istimewa, bahkan jalur belakang dapur.

Kedua, bertanya soal niat. Sebab kalau niatnya mencari ilmu, masalah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta bukanlah persoalan. Apalagi sekarang banyak perguruan tinggi swasta yang berkualitas. Masalah persaingan kerja, tak usah khawatir. Kompetensi yang diperlukan saat ini adalah kecerdikan membaca lapangan dan mencari peluang.

Dan ingat, kuliah bukan hanya untuk kerja. Apalagi kerja untuk mengenyangkan diri sendiri. Semua ilmu yang didapat, baik exact maupun sosial-humaniora punya yang namanya moralitas. Kalau kata Bertrand Russell moralitas itu harus didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Keberpihakan ilmu akan moralitas dalam nilai-nilai kemanusiaan juga pernah dikatakan Albert Einstein di Institute Of Technology, California. Kepada seluruh mahasiswa, Einstein menyatakan bahwa ilmu tidak hanya memerlukan kemampuan intelektual. Akan tetapi ia juga butuh yang namanya keluhuran moral. Tanpa keluhuran moral, Einstein menduga bahwa ilmu akan menjadi Frankenstein yang akan mencekik penciptanya dan menimbulkan malapetaka. Menjadi musuh utama daripada rasa kemanusiaan.

Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah pilihlah jurusan berdasarkan minat dan bakat. Bukan karena paksaan yang berujung ketertekanan. Apalagi karena orientasi praktis berupa kerja. Masalah besok biar jadi besok. Jangan takut tidak dapat kerja. Sebab hal itu secara tidak langsung melecehkan Tuhan katanya.

Inilah yang akan saya katakan padanya. Saya berharap ia mendengarnya sampai habis. Begitupun dengan orang tua saya. Jika tiga jurus ini dilakukan, saya yakin dia akan menjadi salah satu wajah Kartini yang baru. Dengan kehidupan dan sejarah yang ia tulis dengan tangannya sendiri.***

(FFA)