Pelacur Intelektual

Posted by
20190315_133744_0001
Kredit Ilustrasi (canva.com)

Entah mengapa. Beberapa bulan ini tidak ada masa yang cukup menyenangkan. Yang ada malah makin membuat sumpek bukan kepalang. Melelahkan.

Jalan-jalan tiba-tiba penuh akan baliho. Di pohon-pohon. Merusak pemandangan pejalan kaki, menggantikan ritme komunikasi. Tidak hanya di jalan-jalan, bahkan ada yang di hutan-hutan. Kalau anda orang Mojokerto, Malang atau Kota Batu, coba saja pergi ke Cangar. Pasti anda akan tercengang.

Lalu, alangkah lebih tercengangnya anda apabila mengetahui siapa di balik baliho-baliho itu. Yang memasangnya dari jalan ke jalan, hutan ke hutan dan pohon ke pohon. Kalau boleh jujur ada banyak. Dari semua kalangan.

Ada bapak-bapak beristri, ada pemuda desa. Bahkan ada juga yang mahasiswa. Atas nama relawan politik katanya. Dengan alasan : “se-idealis apapun kamu di era ini, pastilah ada saatnya kamu menjadi seorang yang realistis.”

Apalagi ketika berbentrokan dengan kebutuhan perut. Sungguh cacat nalar. Dasar pelacur intelektual. Padahal masih banyak cara, masih banyak harapan. Daripada hanya menjadi jongos. Yang memilih lupa pada sejarah. Karena tak banyak membaca mungkin. Sehingga otentifikasi gerakan moral mereka lacurkan.

Lupa mereka di tahun 1966 dan 1998 kita berhasil menumbangkan rezim kleptokratis. Apakah kleptokrat-kleptokrat itu sekarang tidak ada? Jawabannya ada. Bahkan tersebar di beberapa baliho yang kalian sebarkan. Hanya saja kalian yang malas baca berita, dasar mahasiswa kekinian. Belakangan saya memang kesal dengan tipe mahasiswa yang satu ini. Terkesan membuat kabut untuk menutupi masa depan.

Tak ada yang belajar soal filsafat ilmu. Soal ontologis, epistemologis sampai aksiologisnya. Dengan keberpihakan kepada kemanusiaannya seperti kata Bertrand Russel. Tak ada lagi Plato, Aristoteles bahkan Socrates dalam pikiran-pikiran mereka. Tak ada lagi Minke, tak ada lagi Gie dan lain-lain. Tak ada lagi yang katanya Pramoedya Ananta Toer : terpelajar yang adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Tak ada yang ingat ikhwal sejarah pergerakan pemuda nasional. Tak ada lagi sastra, tak ada konsep manusia. Yang ada hanya sumbu pendek intelektual. Yang ada hanya pembelaan-pembelaan. Yang ada hanya perdebatan nomor satu atau dua. Boleh jadi relawan satu, asal nanti pilih nomer dua. Begitupun sebaliknya.

Semoga tidak menyesal. Seperti Einstein. Yang mengirim surat kepada Franklin D. Roosevelt untuk mengembangkan nuklir di era perang dunia kedua. Pada saat itu Einstein terpaksa. Karena Jerman mau membuat nuklir. Apabila sekutu tidak membuat nuklir maka Nazi di bawah kepemimpinan Hitler lah yang menang.

Jika Nazi menang, maka Einstein beranggapan dunia segera menuju krisis kemanusiaan. Pada akhirnya ia setuju agar AS mengembangkan nuklir. Na’asnya, Hitler tidak jadi membuat nuklir. Malah pengembangan nuklir AS lah yang berhasil. Hiroshima dan Nagasaki di bombardir AS dengan nuklir. AS menang, Indonesia kecipratan rezeki buat merdeka.

AS tumbuh sebagai negara super power. Franklin D Roosevelt mengangankan agar Amerika menjadi kekuatan hegemonik global. Untuk menguasai ‘Daerah Utama’, seperti yang ditulis Noam Chomsky dalam bukunya yang mahsyur. Daerah utama meliputi seluruh dunia. Logika yang pada akhirnya membuat imperialisme makin modern.

Nggak usah fisik, tapi lewat jalur ekonomi sosial politik. Andai Einstein masih hidup, pasti ia akan menderita penyesalan akut terkait hal tersebut. Dan semoga kisah ini bisa dibaca mahasiswa bernalar cetek. Yang gemarnya beronani dan bersenggama dengan politik praktis. Semoga kelak kalian tidak menyesal. Seperti Einstein.***

(FFA)